Konten dari Pengguna

Lingkaran Setan Pendidikan: Pintar di Kertas, Kosong di Nyata

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tazkiyatul Fitriya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi siswa yang sedang belajar (Sumber : https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa yang sedang belajar (Sumber : https://pixabay.com/id/)

Pernahkah kalian begadang sampai subuh demi menghadapi ujian dengan Sistem Kebut Semalam (SKS), tapi keesokan harinya kalian malah dibikin jengkel setengah mati karena teman kalian yang tidak ada persiapan bisa mendapat nilai lebih bagus dengan menyontek. Kejengkelan tadi merupakan bentuk kecemburuan sosial, yakni perjuangan kita dengan melakukan persiapan dan mengerjakan dengan jujur mendapatkan nilai biasa saja, sementara yang curang justru melenggang dengan mudah untuk mendapat nilai sempurna.

Ironisnya, siklus kejar-kejaran angka ini menyisakan satu pertanyaan besar. Nilai mungkin aman dan tugas pasti beres, tapi anehnya, mengapa otak kita langsung kosong melompong seminggu setelah ujian selesai? Kita merasa nilai kita meningkat cukup signifikan, tapi saat ingin mengingat kembali, kita seketika lupa segalanya yang mengharuskan kita untuk mempelajarinya lagi. Fenomena ini membuktikan satu hal: siswa atau mahasiswa di zaman ini jauh lebih takut mendapatkan nilai jelek ketimbang tidak paham pelajaran.

Kalau mau jujur, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan siswa atau mahasiswa yang hobi menyontek atau memakai sistem kebut semalam. Sadarkah kalian bahwa lingkungan sosial kitalah yang membentuk mentalitas ini. Sejak kecil, kita dikondisikan dalam lingkungan yang hanya mengapresiasi hasil akhir berupa angka di atas selembar kertas. Orang tua akan tersenyum lebar ketika melihat rapor yang berisi nilai A, sekolah dipuji karena telah meluluskan murid dengan nilai ujian yang sempurna, dan kampus menyaring mahasiswa baru melalui angka-angka statistik.

Kurikulum kita pun seolah terjebak pada sistem "kejar target" yang membosankan, di mana siswa-siswi dipaksa untuk mengejar angka demi lulus seleksi ke jenjang pendidikan berikutnya. Jarang sekali ada ruang yang tulus bertanya, "hari ini kamu dapat ilmu bermanfaat apa?" Dominasi angka ini akhirnya mematahkan dan memadamkan rasa ingin tahu (curiosity) yang seharusnya dimiliki seorang pelajar untuk menjadikan hal tersebut sebagai fondasi utama untuk mengulik ilmu lebih banyak dan dalam. Rasa ingin tahu itu mendadak padam, berganti menjadi rasa ingin menang demi menggapai angka untuk menyetujui syarat diterima untuk jenjang selanjutnya dan tidak jarang untuk mendapat gelar "nilai terbaik" untuk mengejar tren di kalangan pelajar. Ketika sistem sosial dan dunia kerja lebih mementingkan selembar dokumen administratif ketimbang kompetensi nyata, maka jalan pintas pun akhirnya dilegalkan demi bisa bertahan hidup.

Dampak paling fatal dari perburuan angka ini adalah lahirnya salah kaprah bahwa nilai jelek dicap sebagai siswa "bodoh" atau "gagal". Demi menjaga gengsi agar tetap dianggap pintar di kelas, siswa akhirnya menghalalkan segala cara. Akibat budaya menyontek dan ketergantungan pada AI, mereka mengalami penurunan kemampuan berpikir kritis yang cukup krusial. Lebih parah lagi, sistem ini berisiko melahirkan generasi yang merasa sangat tahu segalanya hanya karena mereka melabeli diri mereka pintar dengan nilai mereka yang bagus itu, sehingga mereka enggan belajar dan mempersiapkan bekal pengetahuan lebih dalam. Pada akhirnya, orientasi yang salah ini sukses mencetak lulusan yang pintar di atas kertas, namun sebenarnya mengalami "kekosongan" ilmu di dunia nyata.

Menjadikan nilai sebagai tolak ukur kerja keras dan alat untuk bercermin meningkatkan kualitas belajar sebetulnya adalah hal yang bagus. Namun, jika kita hanya berpacu pada angka hingga menghalalkan segala cara, lingkaran setan ini harus segera diputus sebelum mutu pendidikan kita semakin merosot. Paradigma bersama—baik pihak sekolah, orang tua maupun pelajar—harus bergeser dari grade-oriented (berorientasi nilai) menjadi process-oriented (berorientasi pada pemahaman). Sebagai langkah awal, institusi pendidikan disarankan untuk mulai merombak metode evaluasi, misalnya dengan meningkatkan tugas berbasis proyek kelompok, analisis studi kasus, atau praktik lapangan dibanding dengan hanya menerapkan sistem ujian hafalan tertulis yang masih memiliki kelemahan dalam sistem tersebut. Nilai memang penting sebagai syarat administratif, tetapi jangan sampai ia membunuh kejujuran akademik. Pasalnya, di dunia nyata nanti, yang menyelamatkan masa depan kita adalah seberapa adaptif dan paham kita terhadap suatu ilmu, bukan hanya selembar ijazah dengan angka sempurna hasil dari jalan pintas.

Tazkiyatul Fitriya, Mahasiswi Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta