Kepala Kucing, Jiwa yang Hilang: Kritik Sosial dalam Mesiasmorfosis

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Tegar Fadhilah Rosyidin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
pekerja Berkepala kucing 'mesiasmorfois'.

Cerpen "Mesiasmorfosis" karya Triyanto Triwikromo. Cerpen karya Triyato Triwikromo hadir sebagai salah satu karya yang memanfaatkan kekuatan realisme magis untuk menyuarakan kritik sosial yang tajam terhadap kehidupan kaum pekerja di era modern. Dimuat di harian Kompas, cerpen ini membangun sebuah alegori yang kuat tentang kondisi pekerja urban lewat peristiwa ganjil berupa perubahan kepala manusia menjadi kepala kucing secara massal yang digambar menjadi ilustrasi manusia berkepala kucing oleh Yusuf Susilo hartono.
Transformasi tubuh dalam cerpen ini bukan sekadar fantasi tanpa makna. Motif semacam ini sebenarnya sudah cukup akrab dalam tradisi sastra dunia, salah satunya lewat novel Metamorphosis karya Franz Kafka. Bedanya Triyanto Triwikromo membawa motif itu ke konteks urban Indonesia yang lebih dekat dengan keseharian pembaca: rutinitas kantor, tekanan target kerja, dan kepatuhan pada mekanisme korporasi yang nyaris tidak pernah dipertanyakan.
Untuk membaca lapisan makna di balik imaji kepala kucing tersebut, artikel ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra yang dirumuskan Rene Wellek dan Austin Warren dalam Teori Kesusastraan, tepatnya pada Bab 9 yang membahas hubungan sastra dan masyarakat. Di awal bab itu, Wellek dan Warren menegaskan bahwa sastra adalah institusi sosial yang memakai bahasa sebagai medium, dan bahwa sastra “menyajikan kehidupan” yang sebagian besarnya terdiri atas kenyataan sosial (Wellek & Warren, 2014, hlm. 98). Dengan kata lain, karya sastra tidak berdiri sendiri di luar realitas sosial pengarangnya, melainkan tumbuh darinya dan ikut merekam cara masyarakat memahami persoalannya sendiri.
Namun, posisi ini perlu dipahami secara hati-hati. Wellek dan Warren juga mengingatkan bahwa anggapan sastra sebagai “ungkapan perasaan masyarakat” tidak boleh dipahami terlalu sederhana, seolah karya sastra hanya memotret situasi sosial secara persis sama dengan kenyataannya (Wellek & Warren, 2014, hlm. 99). Sastra memang mengekspresikan pengalaman dan pandangan pengarang tentang kehidupan, tetapi itu bukan berarti pengarang mewakili seluruh kondisi zamannya secara utuh. Catatan ini penting dipegang dalam artikel ini, supaya pembacaan terhadap simbol kepala kucing tidak jatuh pada klaim berlebihan bahwa cerpen ini “mewakili” seluruh realitas pekerja urban, melainkan sebagai salah satu cara pengarang merespons dan mengekspresikan kegelisahan yang ia amati di sekitarnya.
Dengan kerangka tersebut, artikel ini berupaya menunjukkan bahwa imaji kepala kucing dalam cerpen “Mesiasmorfosis” bukan sekadar kejutan naratif yang bersifat surealistik, melainkan simbol yang merekam pengalaman keterasingan pekerja urban masa kini sekaligus menjadi bukti bahwa sastra masih relevan untuk merekam dan mengkritisi kondisi sosial zamannya.
" Setiap berangkat kerja Kafka tidak menyadari bahwa kepalanya telah berubah menjadi kepala kucing." - Triyanto Triwikromo, Mesiasmorfosis
Cerpen “Mesiasmorfosis” membuka ceritanya dengan kalimat yang langsung menghadirkan keganjilan tanpa basa-basi: “Setiap berangkat kerja Kafka tidak menyadari bahwa kepalanya telah berubah menjadi kepala kucing” (Triwikromo, 2024). Kalimat pembuka ini penting dicermati karena memperlihatkan bahwa transformasi tersebut bukan peristiwa yang mengejutkan tokohnya sendiri, ia bahkan tidak menyadarinya. Ketidaksadaran inilah yang justru menjadi inti persoalan: bukan perubahan wujudnya yang mengerikan, melainkan fakta bahwa tokoh ini sudah sedemikian terbiasa dengan rutinitas hingga perubahan sebesar apa pun pada dirinya tidak lagi ia sadari.
Transformasi kepala tokoh dalam cerpen ini menjadi kepala kucing merupakan simbol sentral yang membawa muatan kritik sosial. Kepala, sebagai pusat akal budi, kesadaran, dan identitas, dipilih secara tidak kebetulan oleh Triyanto Triwikromo sebagai bagian tubuh yang mengalami perubahan. Ketika kepala manusia berganti menjadi kepala kucing.. makhluk yang bergerak semata berdasarkan insting bertahan hidup, tanpa mempertanyakan tujuan atau merenungkan keadaannya, yang hilang bukan hanya wujud fisik, melainkan juga kapasitas berpikir kritis dan kesadaran diri sebagai manusia yang utuh.
Dibaca melalui kerangka sosiologi sastra Wellek dan Warren, simbol kepala kucing ini bisa dipahami sebagai cara pengarang merekam kegelisahan yang dirasakan masyarakat urban terhadap tekanan dunia kerja masa kini. Wellek dan Warren sendiri menyebut bahwa sastrawan tidak hanya dipengaruhi oleh masyarakatnya, tetapi juga ikut memengaruhi masyarakat, seni tidak sekadar meniru kehidupan, tetapi juga turut membentuknya (Wellek & Warren, 2014, hlm. 109). Artinya, kepala kucing dalam cerpen ini berpotensi berfungsi ganda: sebagai cermin dari kegelisahan pekerja urban yang sudah ada di masyarakat, sekaligus sebagai ajakan bagi pembaca untuk berhenti sejenak dan mempertanyakan kondisi dirinya sendiri.
Yang menarik, pemilihan kucing sebagai wujud transformasi bukan tanpa alasan. Kucing adalah makhluk yang hidup sepenuhnya berdasarkan insting: mencari makan, mencari rasa aman, dan bertahan hidup, tanpa pernah mempertanyakan tujuan dari apa yang ia lakukan. Dalam konteks ini, transformasi kepala manusia menjadi kepala kucing dapat dibaca sebagai gambaran tentang bagaimana tekanan sistem kerja kapitalistik modern perlahan menggiring manusia ke pola hidup yang serupa: bangun, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulang siklus yang sama esok harinya, tanpa ruang untuk berpikir, merenung, atau mempertanyakan keadaan. Pekerja tidak lagi digerakkan oleh kesadaran dan pilihan, melainkan oleh dorongan bertahan hidup semata.. sebuah kondisi yang membuat manusia urban, dalam beberapa hal beraktivitas tidak jauh berbeda dari hewan yang sekadar menjalani rutinitas naluriahnya.
" Sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa , ia menyajikan kehidupan yang sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial." - Rene Wellek & Austin Warren, Teori Kesusastraan (hlm. 98)
Hal lain yang cukup mencolok dalam cerpen ini adalah cara Triyanto Triwikromo menggambarkan reaksi para tokoh begitu kepala mereka berubah menjadi kepala kucing. Alih-alih panik atau bertanya-tanya, mereka tetap melangkah menuju kantor seperti hari-hari biasanya. Tidak ada jeda, tidak ada keheranan, apalagi penolakan. Detail kecil ini sebenarnya membawa muatan kritik yang cukup tajam: pekerjaan sudah menjadi semacam gerak refleks yang dijalankan tubuh tanpa lagi melibatkan kesadaran penuh dari pelakunya.
Gambaran semacam ini sejalan dengan apa yang ditekankan Wellek dan Warren mengenai posisi sastra sebagai institusi sosial yang erat berkaitan dengan kerja dan kebiasaan-kebiasaan kolektif masyarakatnya (Wellek & Warren, 2014, hlm. 98). Lewat detail sekecil pola jalan kaki menuju kantor, cerpen ini sebenarnya sedang menyentil kebiasaan kerja yang sudah sedemikian mengakar sehingga tidak lagi terasa sebagai pilihan, melainkan sebagai sesuatu yang otomatis dan tidak dapat ditawar. Rutinitas yang berulang setiap hari ini membuat batas antara “bekerja karena ingin” dan “bekerja karena terpaksa oleh sistem” menjadi nyaris tidak terlihat.
" sastrawan dipengaruhi dan memengaruhi masyarakat: seni tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya." - Rene Wellek & Austin Warren, Teori Kesusastraan (hlm. 109)
Hal yang tidak kalah penting untuk dicermati adalah bagaimana peristiwa aneh ini dialami secara massal, bukan hanya oleh satu tokoh. Belasan rekan kerja mengalami perubahan serupa, tetapi tidak ada satu pun yang saling bertanya, saling menatap heran, atau sekadar berhenti sejenak untuk memastikan keadaan orang di sebelahnya. Ketiadaan respons inilah yang justru terasa lebih ganjil dibanding peristiwa transformasi itu sendiri.
Bagian ini menunjukkan bagaimana relasi antarpekerja dalam cerpen sudah tereduksi sebatas relasi fungsional: orang-orang ada di ruang yang sama, melakukan rutinitas yang sama, tetapi nyaris tidak benar-benar saling melihat satu sama lain sebagai sesama manusia. Kondisi ini memperkuat pembacaan bahwa tekanan sistem kerja modern tidak hanya berdampak pada individu secara terpisah, tetapi juga pada cara orang-orang berelasi dengan sesamanya. solidaritas dan kepedulian menjadi sesuatu yang perlahan tergerus oleh ritme kerja yang menuntut semua orang untuk terus bergerak tanpa sempat menoleh ke kiri atau kanan.
" Burnout bukan sekadar kelelahan, ia adalah tanda bahwa sistem kerja tidak lagi memberi ruang bagi manusia untuk menjadi manusia." - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 2019
Apa yang digambarkan Triyanto Triwikromo lewat imaji surealistiknya ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari kenyataan sehari-hari. Fenomena burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan kerja yang berkepanjangan, kini sudah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai sindrom yang nyata. Di sisi lain, hustle culture budaya yang mengagungkan kerja tanpa henti sebagai ukuran kesuksesan juga semakin mengakar di kalangan pekerja muda perkotaan, termasuk di Indonesia.
Kedua fenomena ini sejalan dengan gambaran kepala kucing dalam cerpen: manusia yang sedemikian jauh terseret rutinitas kerja sehingga tidak lagi punya ruang untuk berhenti, berpikir, atau sekadar beristirahat tanpa rasa bersalah. Dalam konteks inilah pembacaan sosiologi sastra Wellek dan Warren menemukan relevansinya, cerpen ini bukan sekadar fiksi yang berdiri sendiri, melainkan ekspresi pengarang atas kegelisahan yang juga dirasakan oleh banyak pekerja urban hari ini, sekaligus ajakan bagi pembacanya untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita masih memiliki kepala kita sendiri?
Melalui pembacaan berbasis sosiologi sastra Rene Wellek dan Austin Warren, dapat dilihat bahwa imaji kepala kucing dalam cerpen “Mesiasmorfosis” bukan sekadar kejutan naratif yang bersifat surealistik, melainkan simbol yang sarat muatan sosial. Simbol ini merekam bagaimana tekanan sistem kerja modern dapat menggiring manusia kehilangan kesadaran kritis, kepedulian terhadap sesama, bahkan kendali atas hidupnya sendiri yang dimana sampai pada titik ia beraktivitas tidak ubahnya makhluk yang hanya digerakkan oleh insting bertahan hidup.
Karya sastra semacam ini mengingatkan bahwa fungsi sastra bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca berhenti sejenak dari rutinitasnya dan merenungkan kondisinya sendiri sebagai bagian dari mesin produksi modern.
Daftar Pustaka
Wellek, R., & Warren, A. (2014). Teori Kesusastraan (M. Budianta, Terj.). Gramedia Pustaka Utama.
Triwikromo, T. (2024). Mesiasmorfosis. Kompas.
