Cerita teman kumparan Hadiri Public Lecture tentang Nakba Palestina 1948

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!
·waktu baca 2 menit

Serangan Israel terhadap Gaza masih terus berlanjut sampai saat ini meskipun telah mendapat kecaman dunia. Jumlah korban di Gaza terus meningkat dan kini mencapai lebih dari 69.000 jiwa menurut laporan Al Jazeera.
Masyarakat dunia terus berupaya memberikan dukungan terhadap Palestina. Salah satunya dengan mencari dan membagikan informasi yang benar terkait konflik Palestina dan Israel, baik di media sosial maupun di lingkungan sekitar.
Hal tersebut sudah dilakukan salah satu member teman kumparan sekaligus aktivis kemanusiaan, Aisyah. Dia memilih memperkaya diri dengan ilmu sejarah dan menghadiri kuliah umum bertajuk “BEYOND 1948: Menyelami “Nakba Intelektual” dan Tanggung Jawab Dunia Islam Kepada Palestina”.
Acara tersebut diselenggarakan pada Senin, 20 Oktober 2025, di Universitas Indonesia. Pembicaranya adalah Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi, seorang penyintas Nakba dan Fellow of the Royal Historical Society (UK).
Bagi yang belum tahu, Nakba adalah peristiwa pengusiran rakyat Palestina dari tanah airnya pada tahun 1948. Mengutip Al Jazeera, rakyat Palestina diusir oleh pasukan Zionis.
Pasukan Zionis merebut lebih dari 78% wilayah Palestina, menghancurkan sekitar 530 desa dan kota, membunuh sekitar 15.000 warga Palestina, dan melakukan serangkaian kekejaman lainnya. Dalam rentang tahun 1947-1949, ada setidaknya 750.000 warga Palestina yang menjadi pengungsi di luar batas negaranya akibat kekejaman Zionis.
Dalam kuliah umum tersebut, Aisyah mengungkapkan bahwa Prof. El-Awaisi menceritakan bagaimana ayahnya berjuang menempuh studi di luar negeri demi membebaskan negaranya. Ia ingin melakukan pembebasan dengan ilmu, bukan senjata.
Selama lebih dari tiga dekade, Prof. El-Awaisi meneliti arsip-arsip Inggris untuk menemukan kebenaran sejarah yang selama ini dikaburkan. Hasil riset panjang itu membawanya pada kesimpulan, bahwa penjajahan terhadap Palestina adalah proyek kolonialisme intelektual sebelum menjadi kolonialisme teritorial.
Prof. El-Awaisi pun menegaskan bahwa Israel bukanlah negara, melainkan proyek kolonialisme Barat yang beroperasi di bawah narasi palsu “perdamaian.” Nah, untuk membebaskan Palestina, bisa dimulai dari perpustakaan, ruang kelas, dan pikiran.
“Kita tidak bisa terus meminjam kerangka berpikir dari penjajah. Karena siapa yang menguasai narasi, dia yang menguasai masa depan,” jelasnya.
Prof. El-Awaisi juga mengungkapkan menaruh harapan besar pada Indonesia. Sebagai bangsa yang pernah dijajah, Indonesia tahu persis bagaimana rasanya kehilangan kedaulatan. Ia yakin Indonesia mampu menjadi pemimpin gerakan intelektual global untuk pembebasan Palestina.
“Indonesia layak dan mampu memimpin kebangkitan intelektual tentang Palestina. Saya siap membantu dengan kurikulum dan langkah praktisnya,” kata Prof. El-Awaisi.
Nikmati serunya sharing hal-hal seru dengan ribuan teman baru di komunitas teman kumparan. Klik kum.pr/temankumparan
