KELAS Teman kumparan: Bagaimana Caranya Mendapat Pekerjaan di Masa Pandemi?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi proses mencari kerja. Foto: Unsplash/Tim Gouw
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi proses mencari kerja. Foto: Unsplash/Tim Gouw

Mencari kerja di masa pandemi memang bukan perkara mudah. Selain karena angka pengangguran yang bertambah, lapangan pekerjaan juga berkurang karena tak sedikit perusahaan yang melakukan efisiensi.

Namun, bukan berarti kondisi sulit ini akan berlangsung selamanya. Juga bukan berarti kamu tidak memiliki kesempatan sama sekali.

Daripada terus berfokus pada kekurangan dan kamu tak melakukan perubahan, lebih baik kamu berfokus pada hal-hal yang bisa kamu lakukan sekarang untuk menambah peluang supaya bisa diterima di perusahaan impian.

Lantas, bagaimana caranya? Bersama Samuel Ray, HR Professional sekaligus Content Creator di balik akun @srl789, teman kumparan di KELAS telah berdiskusi soal How to Get a Job & Develop Career During Pandemic? secara interaktif melalui Zoom Meeting pada Kamis, 26 November 2020.

Content creator yang juga telah menerbitkan buku Lagi Probation ini menyampaikan, selain menyiapkan diri melalui hal-hal teknis seperti mempersiapkan CV dan interview yang baik, job seeker juga bisa mencoba cara lain dengan meluaskan network lewat media sosial LinkedIn dan memasukkan lamaran lewat cold e-mail.

X post embed

Sebelum melakukan hal tersebut, ada baiknya si pelamar mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri dan berfokus pada alasan mengapa dia tertarik dan ingin mengerjakan pekerjaan yang dipilih. Lebih lanjut, teman kumparan juga telah melakukan tanya jawab dengan Samuel Ray.

Seperti apa keseruannya? Simak ulasan di bawah ini.

KELAS Teman kumparan bersama Samuel Ray. Foto: kumparan/Masayu Antarnusa

Tanya: Dalam pembuatan sebuah resume atau CV, ada nggak sih tips yang benar-benar bisa jadi point of interest-nya dari para HRD?

Jawab: Aku sendiri nggak membedakan ya antara resume/cv atau istilah lainnya. Aku dari dulu hanya punya satu versi dan aku punyanya CV, jadi ketika muncul percakapan definisinya resume begini CV begini, Aku nggak terlalu engage, nggak terlalu ikutan karena buat aku yang penting ada pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan dan achievement yang pernah dilakukan.

Kalau soal poin yang pasti disukai HRD itu agak susah dibilang, karena balik lagi tadi. HRD itu kayak beli shampoo di supermarket, dia udah punya kebutuhannya sendiri. Misalkan, HRD A rambutnya kering, maka dia akan beli shampoo yang ada pelembabnya. Kalau rambutnya ketombean dia akan cari yang khusus ketombe, dst. Jadi kebutuhan di setiap perusahaan itu ya kayak HRD pergi belanja, tergantung kamu shampoo yang jenis apa.

Yang aku rasakan berhasil dalam perjalanan karir Aku selama ini adalah ceritakan kamu shampoo jenis apa? Kalau kamu shampoo anti ketombe, kamu ceritakan isi kamu tuh apa? Misalnya, aku memfokuskan memfokuskan sebagai HR yang bisa mengelola projek. Kan ada orang HR yang misalnya dia jago ngerekrut, dia network-nya luas, ya dia cerita tentang network-nya, fitur itu yang dia tonjolkan.

Jadi kita fokus pada diri kita, kemampuan-kemampuan kita secara profesional yang kita bisa jual ke perusahaan tersebut. Dan sudah pasti ada yang nggak suka dan suka, ketika kalian lihat video di YouTube dan bilang cara itu pasti berhasil atau pasti tembus HRD, percayalah itu click bait, biar di klik videonya.

Ujung-ujungnya pasti menyesuaikan dengan setiap role yang di apply, dan coba tunjukkan kemampuan teman-temen secara profesional, dengan angka. Silakan sampaikan kelebihan kalian secara objektif, bukan ceritakan bahwa “iya saya adalah pekerja keras” dan segala macamnya, karena itu nggak bisa kita sendiri yang mengukurnya.

Tanya: Ko, CV dan Cover Letter yang lebih disenangi dan menjadi nilai plus dari HR itu dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia? Lalu, jika Fresh Graduate namun belum memiliki pengalaman berkaitan dengan jurusan tapi punya side job online shop, apakah lebih baik mencantumkannya di CV?

Jawab: Kalau soal bahasa, aku pribadi percaya bahwa bahasa itu hanya medium, jadi alat komunikasi. Kita dari sini mau ke Bandung naik apa, ya? Seperti halnya moda transportasi apa yang kita mau pakai, kita naik motor, mobil, atau jalan kaki.

Ujungnya tetep kita mau cari kerja, kita mau dapet pekerjaan. Jadi teman-teman bisa lihat karakteristik perusahaannya. Kan kelihatan, biasanya kalau perusahaan multinasional, “oh kayaknya suka nih inggris-inggrisan.” Jadi ya sudah tembak aja CV-nya pakai bahasa Inggris.

Namun, misalnya kalian melamar di perusahaan BUMN/BUMD, atau perusahaan lokal gitu, ya biasanya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadi, bahasa menurut ku hanya medium, termasuk saat kita pergi interview pun, aku pun juga lihat-lihat kandidat.

Buat aku pada akhirnya kemampuan berbahasa inggris jadi nomor 2. Aku mau lihat attitude dia dulu, dia orangnya seperti apa, daya juangnya seperti apa, dan komunikasi. Karena kan ada kandidat yang mungkin secara bahasa inggris dia terbatas, tapi ketika di-switch ke bahasa Indonesia, “oh ini orang jago juga nih, dia ternyata bisa begini, bisa begitu.”

Tapi di luar sana, tidak semua HRD seperti aku. Ada yang menganggap, “wah nggak bisa bahasa inggris ya gue pandang rendah, lewat,” atau bahasa inggrisnya masih campur-campur dan grammar-nya salah dikit HRDnya ilfeel. Jadi kalian bisa ketemu HRD yang berbeda-beda.

Untuk side job di CV boleh banget dimasukin, karena di dalam side job itu kita kan juga belajar skill-skill profesional. Tapi di dalam side job tersebut kamu highlight lagi: apa yang dikerjakan, bagaimana cara kerja kamu, jadi apa yang kamu tulis di situ bisa jadi bahan cerita untuk HRD.

Tanya: Kalau misalnya kita ingin memulai sebuah karir namun belum memiliki pengalaman di bidang tersebut, juga jurusan kuliah tidak linear dengan yang dilamar, bagaimana menurut Ko Sam?

Jawab: Aku sendiri juga jurusannya tidak linear dengan karirnya. Aku kuliahnya manajemen tapi profesinya HRD sekarang. Mungkin pendekatannya gini, kalau temen-temen tertarik dengan perusahaannya atau tertarik dengan profesi tertentu, kalian bisa cari lowongan yang judulnya biasanya: Management Trainee, Officer Development Program, atau Management Development Program.

Jadi lowongan-lowongan seperti itu biasanya teman-teman akan diajarkan, ada kaderisasi. Jadi di tahun pertama itu biasanya teman-teman dirotasi ke berbagai departemen di dalam perusahaan. Baru setelah di akhir tahun bekerja, kalian dievaluasi untuk mendapatkan penempatan final, jadi akan ditentukan penempatannya akan di mana.

Nah, kenapa lowongan-lowongan seperti ini menarik? Karena teman-teman akan dapetin exposure yang lebih luas, bisa ngerasain berbagai pekerjaan, lalu juga, siapa tahu di akhir placement-nya pada saat temen-temen di tempatin permanen nanti, kalian bisa memilih, yang tadi misalkan suka sama HRD, di akhir-akhir MT nya kalian bisa request ke perusahaannya, boleh nggak saya ditempatkan di HRD.

Jadi, terbuka aja sih menurutku, kita tidak perlu mengkotak-kotakan diri, saya lulusan apa maka saya harus berprofesi sebagai apa.

Aku rasa zaman sudah semakin berkembang, bahkan skill-skill yang sekarang dibutuhkan di tempat kerja itu belajar nggak di tempat kuliah gitu, teman-teman yang belajar programming itu belajarnya bisa dari YouTube.

Jadi aku banyak amaze sama coder-coder muda yang mereka belajarnya otodidak. Aku rasa semakin kesana makin ke depan kesempatan akan makin banyak terbuka, tapi kalau memang kamu butuh tips langsung yang langsung dipraktetin, mungkin kamu bisa mulai ngincer lowongan-lowongan tadi yang sifatnya general.

Tanya: Gimana caranya kita minta reschedule panggilan dari HRD karena udah ada janji interview di tempat lain? Apa kalau kita minta reschedule itu malah ngilangin peluang kita buat kerja di sana?

Jawab: Jawabannya, Iya dan tidak tergantung kamu ketemu jenis HRD yang seperti apa. Jadi memang apa ya, sebenarnya sih kalian dengan HRD itu sama-sama manusia harusnya sama-sama setara dan saling memperlakukan dengan rasa hormat.

Cuma terkadang dalam proses cari kerja, HRD punya leverage, punya posisi yang lebih tinggi dari pelamar. Ketika kamu nggak bisa, masih ada kandidat nomor dua yang bisa menggantikan.

Dari sisi komunikasi, ada HRD yang enak diajak ngomong, ada juga yang agresif. Jadi memang, tips aku mungkin kalau teman-teman ngarep dan naksir dengan perusahaannya, kejar dan usahakan sebisa mungkin. Prioritaskan di atas perusahaan lain.

Jadi kalau memang ada jadwal interview kosongkan jadwal itu. Tapi pada akhirnya sih, memang kembali ke si HRD nya ini, apakah dia mau menunggu, apakah dia sopan komunikasinya sama kamu, atau agresifnya.

Ketika dapat HRD yang agresif, kamu tidak perlu merasa down. Jangan biarkan itu menghilangkan semangat teman-teman karena kalau di perusahaan ini tidak cocok, maka ada perusahaan lain yang bisa kita coba.

Tanya: Kalau kita mau pindah kerja, bagaimana kita menentukan untuk kenaikan gaji, range-nya yang bisa diterima oleh HRD itu berapa? Dan bagaimana HR akan memandang kalau misalkan kita mau revisi gaji?

Jawab: Revisi gaji aku jawab dulu, sebaiknya sih tidak direvisi karena kamu terkesannya kurang profesional ya. Sudah ngomong hal tertentu nanti berubah lagi, akan menimbulkan tanda tanya untuk HRDnya. Mungkin bisa dipikirkan secara matang-matang sebelum menyampaikan ekspektasi gaji tertentu.

Terus tau range gaji dari mana kalau mau pindah? Source-nya bisa macam-macam, kamu bisa cari di google, ada namanya Salary Survey. Jadi ada beberapa headhunter yang dia setiap tahun mengeluarkan Salary Survey untuk berbagai profesi.

Mereka biasanya mengeluarkan Salary Survey yang bisa di download secara gratis gitu. Nah, itu bisa jadi dasar untuk kamu.

Kemudian bisa juga ngobrol dengan teman-teman yang ada di industri tersebut, mungkin ada teman kamu yang orang Legal, tanya aja. Kira-kira kalau HR manager di perbankan kira-kira gajinya berapa ya? Kalau HR di FMCG gajinya berapa ya? Kalau pengalaman 5 tahun, sudah bisa ini, sudah bisa itu, ada sertifikasi ini itu, ada nilai tambahnya nggak ya?

Biasanya harga pasar itu sudah ada, jadi kita tinggal ngobrol sama kakak kelas, atau sama network kita. Aku pun kalo ada adik kelas, atau ada junior yang kepengin tahu gaji HR management di perbankan berapa, ya ku kasih tahu karena bisa membantu mereka menghilangkan rasa bingungnya.

Terus kalau ditanya Rule of Thumb-nya kalau pindah perusahaan dan promosi itu berapa persen kenaikannya? Kalau menurut pengalaman aku, yang sudah kerja 8 tahun pindah 6 kali, rata-rata yang kita bisa expect itu adalah 20-25 persen dari angka Gross Per Annum kita.

Nah ini juga tidak boleh salah dalam perhitungannya, teman-teman jangan hanya hitung gaji bulanan kali 20%, karena banyaknya kali gaji di dalam satu perusahaan dan perusahaan lain bisa berbeda.

Penasaran diskusi lengkapnya seperti apa? Teman kumparan bisa menonton ulang KELAS Zoom di bawah ini.

facebook video embed

(sif)

========================

KELAS merupakan diskusi online yang diadakan di grup teman kumparan. Di KELAS, kamu bisa berdiskusi dengan para expert di bidangnya secara gratis. Tertarik ikuti keseruannya? Yuk join Grup Telegram Teman kumparan di kum.pr/Temankumparan.