Konten dari Pengguna

AI Bisa Menghasilkan, Pendidikan Harus Membuktikan

Ari J  Palawi

Ari J Palawi

Praktisi dan Akademisi Seni, Universitas Syiah Kuala

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Metal tuning forks in a blue-purple pouch for sound therapy and meditation.Image by マサコ アーント from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Metal tuning forks in a blue-purple pouch for sound therapy and meditation.Image by マサコ アーント from Pixabay

AI dapat menghasilkan esai, gambar, musik, rangkuman, bahkan analisis dalam hitungan detik. Hasilnya bisa tampak meyakinkan tanpa menjamin bahwa orang yang menyerahkannya memahami proses, konteks, atau akibat penggunaannya. Kemudahan ini mengajukan pertanyaan mendasar kepada pendidikan: kemampuan apa yang sebenarnya kita nilai?

Masalahnya bukan sekadar boleh atau tidaknya peserta didik menggunakan AI. Pendidikan harus memastikan bahwa hasil belajar mencerminkan kemampuan yang ingin dibentuk. Kurikulum memerlukan capaian terukur, tetapi indikator kehilangan makna ketika keberhasilan berhenti pada tugas yang selesai dan nilai yang tercapai. Seseorang bisa menghasilkan tulisan tanpa menguasai persoalan, membuat karya tanpa memahami pilihannya, atau menyampaikan kesimpulan tanpa mampu menjelaskan bukti.

AI membuat jarak antara hasil dan pemahaman semakin sulit diabaikan. Karena itu, pendidikan perlu membuktikan kompetensi, bukan sekadar mengesahkan produk.

Dua tinjauan penelitian terbaru memberi gambaran tentang perubahan asesmen. Crompton dan Burke (2026) menelaah 72 studi dari 24 negara dan mengidentifikasi tiga pendekatan yang mengemuka: penilaian proses, tugas autentik, serta asesmen lisan dan dialogis. Chuan Lin dan kolega (2026) memetakan 394 studi penggunaan AI generatif di pendidikan tinggi. Penelitian yang mereka telaah banyak membahas penulisan, bimbingan, dan umpan balik, sementara kreativitas, etika, regulasi belajar mandiri, dan pemerataan masih memerlukan perhatian lebih besar. Kedua kajian ini menunjukkan arah penelitian, bukan jaminan bahwa satu metode cocok untuk semua situasi.

Meta-analisis Chiara Boolzen dan kolega (2026) dalam pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika menemukan variasi dampak AI yang sangat besar antarstudi. Analisis mereka juga menunjukkan bahwa hasil positif rata-rata dalam analisis konvensional dapat banyak dijelaskan oleh bias publikasi. Dampak AI bergantung, antara lain, pada capaian yang dituju dan apakah penggunaannya memperkuat atau justru menggantikan aktivitas kognitif peserta didik. Temuan ini tidak membuktikan bahwa AI selalu gagal membantu belajar. Namun, kita punya alasan untuk menguji manfaatnya melalui bukti, bukan antusiasme.

Perubahan dapat dimulai dari tugas sehari-hari. Mahasiswa yang menyerahkan analisis dapat diminta menunjukkan sumber, menjelaskan alasan memilih metode, dan mempertahankan kesimpulannya. Mereka yang membuat karya visual atau audiovisual dapat diminta menerangkan pilihan bentuk, hubungan antara gagasan dan teknik, serta perubahan yang terjadi selama proses penciptaan. Hasil akhir tetap penting, tetapi harus dibaca bersama bukti kemampuan yang melahirkannya.

Dalam mengajar Kritik dan Apresiasi Seni, saya menghadapi pertanyaan sederhana: apa yang membuktikan seseorang sungguh memahami sebuah karya? Tafsir lukisan yang dihasilkan AI mungkin terdengar canggih. Namun, mahasiswa harus mampu menunjuk detail visual, menghubungkannya dengan penafsiran, memeriksa konteks, dan menjelaskan dasar kesimpulannya. Bahasa yang lancar tidak menggantikan ketelitian pengamatan. Pendapat yang menarik juga belum tentu menjadi analisis yang kuat.

Hal serupa berlaku ketika orang mempelajari musik, tradisi lisan, atau praktik budaya masyarakat. AI dapat membantu mentranskripsikan suara, mengelompokkan bahan, dan menawarkan kemungkinan interpretasi. Namun, siapa yang menjelaskan makna sebuah lagu bagi keluarga yang mewariskannya? Siapa yang memeriksa apakah transkripsi menghilangkan unsur penting? Siapa yang berhak menentukan cara pengetahuan komunitas disajikan kepada publik? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan penguasaan alat sekaligus kepekaan terhadap konteks, hubungan antarmanusia, dan tanggung jawab atas representasi.

Di sinilah pertemuan berbagai bidang menjadi penting. Persoalan nyata jarang tunduk pada satu disiplin. Mengembangkan karya berbasis kebudayaan, misalnya, dapat menuntut penelitian sejarah, keterampilan artistik, pemahaman teknologi, komunikasi, dan dialog dengan masyarakat. Kerja lintas bidang membuka kemungkinan baru, tetapi tidak menghapus standar keilmuan. Setiap klaim tetap membutuhkan bukti; setiap metode harus sesuai dengan persoalan; setiap karya perlu mempertimbangkan dampaknya.

Kreativitas pun tidak cukup diukur dari kebaruan hasil. Kemampuan mencipta mencakup keberanian mengajukan pertanyaan, ketekunan menguji kemungkinan, kesediaan menerima kritik, dan kecakapan merevisi keputusan. Kerja bersama juga bukan sekadar membagi tugas. Peserta didik perlu belajar menghadapi perbedaan pandangan, mengakui kontribusi orang lain, dan mempertanggungjawabkan keputusan bersama. AI bisa mempercepat sebagian proses, tetapi tidak otomatis membentuk kemampuan tersebut.

Pendidik tidak perlu mengawasi setiap langkah peserta didik. Mereka perlu memilih cara penilaian yang sesuai dengan tujuan belajar: penjelasan lisan untuk menguji pemahaman, demonstrasi untuk memeriksa keterampilan, dan dokumentasi proses untuk melihat perkembangan pemikiran. Institusi harus mendukungnya melalui pedoman penggunaan AI yang jelas, penguatan kompetensi pendidik, perlindungan hak cipta dan data, serta akses belajar yang adil.

Pendidikan tidak perlu berlomba menghasilkan jawaban secepat mesin. Pendidikan perlu membentuk manusia yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan kenyataan, mengubah gagasan menjadi karya yang bermakna, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Setelah menggunakan AI, apakah seseorang lebih mampu memahami masalah, mencipta, bekerja bersama, dan menilai akibat tindakannya? Jawaban atas pertanyaan itu lebih penting daripada kecanggihan hasil yang dihasilkannya.