Konten dari Pengguna

Kakus dan Kelas Tiga: Saat Harga Diri Para Pejuang Diacak-acak Sejarah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiara Fitriyanti Kusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/laut-batu-pantai-pesisir-18715928/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/laut-batu-pantai-pesisir-18715928/

Cerita pendek "Penumpang Kelas Tiga" yang ditulis oleh A. A. Navis ini memang sangat mengesankan. Sepanjang waktu, kita mungkin telah membaca mengenai kritik politik yang disampaikan, atau tentang pengkhianatan terhadap ideologi yang terasa menyakitkan. Namun, mari kita telaah lebih dalam, karena Navis sangat mahir dalam menyisipkan sindiran melalui simbol-simbol yang tampak sepele, seperti sebuah kakus (toilet) di dalam kapal kelas tiga. Ini bukan sekadar latar belakang, tetapi merupakan panggung utama untuk menunjukkan bagaimana idealisme dan harga diri para pejuang tersebut terguncang oleh sejarah.

Kelas Tiga: Tempat Berkumpulnya Para "Pecundang" Sejarah

Awal kisah, Nuan dan Dali bertemu sebagai "penumpang kelas tiga" di kapal kerinci dari Padang menuju Jakarta. Seperti yang kita tahu bahwa kelas tiga adalah kelas yang paling bawah biasanya. Ini bukan sekadar tentang harga tiket yang rendah, tetapi lebih sebagai simbol pahit bagi para mantan pejuang yang dulunya berani dan tangguh dengan samurai. Sekarang? Mereka harus berdesak-desakan dengan rakyat biasa di dek terendah. Bayangkan, dari pahlawan menjadi golongan terpinggirkan. Ini sangat menyedihkan!

Navis menunjukkan bahwa ini bukan hanya tentang kemiskinan uang, tetapi juga keterpurukan jiwa dan sosial yang menimpa mereka. Martabat yang dulu didapat dari pangkat dan status pejuang, kini harus rela diakui di tempat yang paling terasing. Pertemuan pertama yang diwarnai dengan saling memalingkan muka sebelum akhirnya tersenyum menunjukkan betapa sulitnya mereka menerima nasib yang sama-sama malang.

Kakus: Tempat Buang Kotoran, Sekaligus Buang Idealisme

Nah, ini dia puncak yang paling mengena! Nuan dan Dali bertemu lagi saat menunggu di kakus (toilet). Wah, kakus! Tempat yang paling pribadi, paling kotor, dan paling bau. Kenapa Navis memilih tempat ini untuk momen yang penting?

Menurut saya, kakus itu bisa dianggap sebagai simbol untuk keadaan dan moral bangsa yang sudah rusak setelah revolusi idealis yang hanya menjadi sekadar hiasan. Dulu, revolusi itu dipandang sebagai sesuatu yang "suci" dan "mulia," tetapi sekarang, idealisme tersebut sudah seperti "kotoran" yang harus "dibersihkan" atau "tertinggal" di tempat yang paling kotor. Para pejuang yang dulunya menjaga kehormatan, kini harus rela menunggu untuk melakukan hal yang paling dasar, di tempat yang bau tidak sedap. Ini adalah gambaran nyata betapa harga diri yang tinggi harus mengalah pada kenyataan yang paling menjijikkan.

Pengkhianatan yang dialami Nuan (oleh Wati dan Nain), ditambah dengan konflik moral yang dia hadapi sendiri (keinginannya untuk tidur dengan Inna), bisa dianggap sebagai kotoran yang perlu dia buang atau hadapi dalam konteks simbolis ini. Ketika Nuan akhirnya memutuskan untuk tidak membalas dendam kepada Inna setelah melihatnya menangis dan membuka pakaian, kemudian dia keluar dari kamar Inna dengan terburu-buru dan membanting pintu, itu menunjukkan bahwa meskipun dia berada di titik terendah, ada batasan moral yang tidak ingin dia langgar. Ini seperti pengakuan pahit bahwa meski ideologinya mungkin telah berpindah ke arah pragmatisme, namun tidak sepenuhnya hilang. Namun, semua ini terjadi dalam kegelapan, "listrik sudah lama padam karena mesin pusatnya telah rusak," seolah menekankan bahwa pencerahan moral muncul di tengah kerusakan sistem dan kegelapan yang total.

Ngantre di Batas Kehidupan: Saat Idealismemu Berhadapan Dengan Kenyataan

Pertemuan dan diskusi mendalam yang berlangsung di sekitar kakus, di dalam antrean, semakin menekankan pandangan bahwa idealisme dan martabat para pejuang kini harus beradaptasi dengan kenyataan yang keras dan tak berharga. Mereka sudah tidak membahas taktik pertempuran atau ideologi besar, melainkan lebih mengarah kepada nasib masing-masing, pengkhianatan cinta, serta kekalahan yang harus diterima.

"Pada mulanya perasaan, lalu dugaan, akhirnya dia yakin bahwa antara Wati dan Nain ada main. Hatinya luka, lalu dia marah dan kemudiannya benci yang membuahkan dendam yang tidak akan terhapus. Tapi dia adalah prajurit yang perangnya kalah. Yang kini menjadi pembantu letnan setelah pangkatnya diturunkan oleh sejarah."

Kutipan di atas menunjukkan bagaimana kekalahan di tingkat pribadi (pengkhianatan oleh Wati) bercampur dengan kekalahan di tingkat sejarah (penurunan pangkat). Dia harus menerima semua ini, bahkan dia berusaha untuk berdamai dengan hatinya, "Wati toh perempuan yang dikalahkan sejarah." Ini sangat ironis, bahkan dalam soal cinta dan pengkhianatan, dia menghadapi semuanya dengan perspektif "kekalahan sejarah."

Navis ini sangat cerdas menggunakan pengaturan frasa"rendah" untuk menunjukkan bahwa pada akhirnya, di atas kapal yang membawa sisa-sisa revolusi, hanya tersisa orang-orang yang harus menghadapi kekalahan baik secara pribadi maupun kelompok. Jauh dari sinar kemuliaan yang pernah mereka idamkan. "Tiba-tiba saja kita telah menjadi tua," ungkap salah satu penumpang, "Meski begitu, kita tidak bisa betul-betul lupa." Ini adalah sebuah pengakuan pahit mengenai usia dan kenangan yang tak dapat dihilangkan, yang sekarang harus mereka tanggung dalam perjalanan kelas tiga, di tengah bau kotoran yang menyengat.

Kesimpulan Cerita

"Penumpang Kelas Tiga" bukan sekadar narasi cerpen tentang dua saudara kembar atau kritik terhadap militer. Lebih dalam lagi, Navis menggunakan simbol kakus dan kelas tiga sebagai cermin yang jelas untuk menunjukkan bagaimana harga diri dan prinsip-prinsip bangsa itu anjlok setelah revolusi. Cerita ini mengisahkan tentang bagaimana kemuliaan perang yang penuh gagasan idealis akhirnya menyerah kepada kenyataan pragmatis, moral yang kotor, dan kekalahan yang harus diterima di tempat yang sama sekali tidak memiliki harga diri.

Cerita pendek ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya dicatat dari peristiwa-peristiwa besar dan nama-nama pahlawan. Namun juga melalu kondisi jiwa dan harga diri individu yang terpaksa berjuang di tengah kejatuhan, di lokasi-lokasi yang terlupakan dan sering kali diabaikan.