Si Bangkak: Saat Kehidupan Menjadi Komedi Absurd, Pilihan Hanyalah Tipu Muslihat

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tiara Fitriyanti Kusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerpen "Si Bangkak" karya A.A Navis benar-benar menggugah pemikiran. Selama ini, kita mungkin hanya memandangnya sebagai sebuah kisah tragis tentang seseorang yang bodoh yang tak sengaja membunuh istri seorang mayor, atau sebagai kritik terhadap militer yang terlihat santai bermain ceki di saat perang. Namun, sungguh, jika kita menelusuri lebih jauh, karakter Si Bangkak ini bukan sekadar tokoh biasa. Dia seolah mencerminkan kegagalan pemikiran kolektif dan trauma yang belum terselesaikan dalam masyarakat setelah konflik. Ini jauh lebih mendalam dibandingkan dengan hanya cerita pengkhianatan.
Pedalaman, Ceki, dan Ketiadaan Makna Saat Mayor Udin Kehilangan Arah
Bayangkan, Mayor Udin yang seharusnya fokus pada perencanaan pertempuran, justru terjebak dalam permainan ceki hingga mengabaikan tidurnya di daerah terpencil. Ini bener-bener nggak logis. Keadaan perang yang seharusnya mencekam, malah dipenuhi dengan kegiatan sepele yang tidak berarti. Ini menunjukkan bagaimana makna dan tujuan hidup bisa lenyap di tengah kebingungan. Hidup jadi terasa kosong, dipenuhi dengan hal-hal yang sebenarnya tidak berarti, seperti hanya menunggu waktu berlalu. Ini adalah contoh paling jelas dari absurditas, di saat-saat hidup dan mati, yang terjadi justru kesibukan yang tidak bermakna, sebuah indikasi bahwa seorang pemimpin kehilangan arah yang jelas.
Agensi yang Memudar: Mayor Udin, Nunung, dan Hilangnya Kontrol Diri
Nah, inti permasalahannya ada di sini. Semua karakter, dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah, kehilangan kemampuan untuk memilih atau bertindak secara rasional.
Mayor Udin: Dia meminta Si Bangkak yang bodoh untuk membersihkan pistol yang berisi peluru. Coba pikirkan, siapa yang akan menyuruh orang yang bodoh untuk membersihkan pistol yang terisi peluru? Ini bukan hanya sekadar kesalahan, tetapi seolah-olah dia sudah tidak bisa berpikir dengan baik, tidak mampu membuat keputusan yang tepat dalam situasi yang sudah kacau. Dia juga tidak dapat mengendalikan istrinya yang sedang sakit kepala, malah lebih memilih untuk bersenang-senang dengan cekinya. Dia seolah-olah sudah menyerah terhadap keadaan.
Nunung: Istri dari Mayor Udin yang mengalami sakit kepala, tetapi suaminya justru asyik bermain ceki. Dia malah merasa nyaman saat dipijat oleh Si Bangkak, bahkan membayangkan ingin merasakannya lagi jika suaminya tidur. Ini bukan hanya soal ketertarikan kepada Si Bangkak, melainkan lebih kepada pilihan untuk menerima kenyamanan instan di tengah situasi yang aneh, meskipun hal itu bisa mendekatkannya pada risiko atau hal-hal yang dianggap tabu. Dia seolah tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan diri kepada siapapun yang bisa memberikannya kenyamanan, walaupun itu Si Bangkak yang tidak jelas. Dia telah kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan diri dan situasinya.
Si Bangkak: Wujud Ketidaklogisan dan Kehilangan Kebebasan untuk Memilih
Si Bangkak tidak hanya dungu, tetapi dia juga merupakan gambaran seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk memilih, menolak, atau bahkan memahami akibat dari tindakan yang diambil. Perbuatannya, termasuk pembunuhan itu, merupakan hasil dari absurditas di sekitarnya dan ketidakmampuannya untuk bertindak sebagai pribadi yang berakal sehat. "Karena bodohnya itulah dia membunuh setan di kepalanya," ujar Navis. "Setan" itu dapat dipahami sebagai lambang dari dorongan yang tidak terkontrol, yang muncul karena tidak adanya logika atau akal sehat untuk menuntun. Dia seperti boneka yang digerakkan oleh insting, bukan kehendaknya sendiri.
Kesimpulan
"Si Bangkak" ini lebih daripada sekadar kisah tragis biasa. Navis menggunakan karakter Si Bangkak yang "bodoh" untuk menyoroti kegagalan diri dalam menghadapi dan mengatasi trauma kolektif yang belum terselesaikan setelah perang. "Setan di kepala" Si Bangkak itu mencerminkan psikologi masyarakat yang terluka, dan pembunuhan itu adalah ledakan yang tak terelakkan saat hal-hal yang terkekang tak dapat lagi ditekan.
Cerita pendek ini mengajak kita berpikir. Sejauh mana masyarakat dapat berpura-pura tenang jika trauma tersebut tidak pernah diobati? Dan berapa banyak "Si Bangkak" lainnya yang mungkin hanya menjadi korban atau media untuk melepaskan masalah yang sebenarnya sudah membusuk di dalam masyarakat? Cerita ini bukan sekadar kritik terhadap militer, tetapi sindiran tajam bagi kita semua mengenai betapa berbahayanya jika kemampuan berpikir kolektif mati dan trauma dibiarkan mengendap tanpa penyelesaian.
