Konten dari Pengguna

Sidang Sastra: Cara Seru dan Kolaboratif Belajar Cerpen di Kelas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiara Fitriyanti Kusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.pexels.com

Bayangkan Haji Saleh duduk di kursi terdakwa, sementara siswa kelas X bertindak sebagai jaksa yang menuntutnya. Di sisi lain, ada tim pembela yang berusaha menjelaskan alasan di balik tindakan tokoh tersebut. Seorang hakim pun bersiap memimpin jalannya persidangan. Kedengarannya seperti adegan film, tetapi kegiatan seperti ini bisa dilakukan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas.

Dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis, Haji Saleh memang mengalami pengadilan di akhirat. Lantas, bagaimana jika kisahnya dibawa ke ruang kelas dan siswa diminta menilai tindakan tokoh tersebut melalui sebuah persidangan? Dari gagasan sederhana ini, pembelajaran sastra bisa menjadi lebih hidup, menarik, dan melibatkan seluruh siswa.

Ketika Pembelajaran Sastra Terasa Membosankan

Dalam beberapa kegiatan pembelajaran, membaca cerpen masih sering diikuti dengan tugas menentukan tema, alur, tokoh, latar, dan amanat. Kegiatan tersebut memang penting untuk memahami isi cerita. Namun, jika pembelajaran hanya berpusat pada penjelasan guru dan jawaban soal, siswa bisa kehilangan kesempatan untuk menyampaikan pendapat serta mengembangkan pemikirannya sendiri. Padahal, cerpen tidak hanya berisi rangkaian peristiwa dan tokoh yang perlu dianalisis. Di dalamnya terdapat persoalan kehidupan, pilihan sulit, konflik, dan alasan di balik tindakan seseorang. Hal-hal tersebut dapat menjadi bahan diskusi yang menarik apabila siswa diberi kesempatan untuk terlibat secara langsung.

Rahmanto (1988) menjelaskan bahwa:

Pengajaran sastra dapat membantu meningkatkan keterampilan berbahasa, memahami budaya, serta mengembangkan cipta, rasa, dan karsa.

Oleh karena itu, pembelajaran sastra sebaiknya tidak berhenti pada kegiatan membaca dan menjawab pertanyaan. Siswa juga perlu diberi ruang untuk menafsirkan cerita, mengemukakan pendapat, dan belajar memahami sudut pandang yang berbeda.

Salah satu cara yang dapat dicoba adalah melalui sidang sastra, yaitu kegiatan pembelajaran yang mengajak siswa membahas tindakan tokoh cerpen dengan menggunakan konsep persidangan.

Sidang Sastra sebagai Pembelajaran Aktif dan Inovatif

Sidang sastra merupakan kegiatan simulasi persidangan yang digunakan untuk menganalisis tokoh dan peristiwa dalam karya sastra. Dalam kegiatan ini, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan peran yang berbeda, seperti jaksa penuntut, tim pembela, hakim, dan saksi. Setiap kelompok memiliki tugas masing-masing sehingga semua siswa mempunyai kesempatan untuk berkontribusi.

Jaksa bertugas mencari alasan yang mendukung tuntutannya, sedangkan tim pembela berusaha menjelaskan tindakan tokoh dari sudut pandang yang berbeda. Hakim memimpin jalannya persidangan dan mempertimbangkan argumen dari kedua pihak. Sementara itu, siswa yang berperan sebagai saksi dapat memerankan tokoh lain dalam cerita untuk membantu menjelaskan peristiwa yang dipersoalkan.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya menerima penjelasan guru, tetapi ikut terlibat dalam proses pembelajaran. Mereka harus membaca cerpen dengan teliti, menyusun pertanyaan, menyiapkan argumen, dan menanggapi pendapat kelompok lain. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran aktif yang menempatkan siswa sebagai peserta yang terlibat langsung dalam kegiatan belajar

Pembelajaran juga menjadi lebih inovatif karena analisis sastra dikemas melalui simulasi persidangan. Siswa dapat mempelajari watak tokoh, konflik, dan amanat cerita melalui kegiatan yang berbeda dari pembelajaran cerpen pada umumnya.

Membaca Cerpen dengan Bukti, Bukan Sekadar Pendapat

Agar sidang sastra berjalan dengan baik, setiap argumen harus didukung oleh bukti dari teks. Jaksa tidak cukup hanya mengatakan bahwa seorang tokoh bersalah. Ia perlu menunjukkan ucapan, tindakan, atau peristiwa dalam cerpen yang mendukung tuntutannya. Begitu pula dengan tim pembela yang harus menjelaskan alasan di balik tindakan tokoh berdasarkan isi cerita.

Sebagai contoh, ketika membahas Haji Saleh dalam cerpen Robohnya Surau Kami, siswa dapat mendiskusikan pandangan tokoh tersebut mengenai ibadah dan kehidupannya. Jaksa dapat mempertanyakan apakah tindakan dan pandangannya sudah mencerminkan tanggung jawab dalam kehidupan. Sebaliknya, tim pembela dapat menyampaikan argumen mengenai alasan tokoh bertindak demikian. Kedua kelompok harus menggunakan bagian cerita yang relevan untuk memperkuat pendapatnya.

Kegiatan ini membuat siswa belajar bahwa pendapat yang baik tidak cukup hanya disampaikan dengan percaya diri, tetapi juga harus memiliki alasan yang jelas.

Nurgiyantoro (2013) menjelaskan bahwa:

Watak tokoh dalam karya fiksi dapat dipahami melalui ucapan, tindakan, pikiran, dan pandangan tokoh lain terhadapnya.

Dengan demikian, sidang sastra dapat menjadi cara untuk melatih siswa membaca teks secara teliti sekaligus memahami karakter tokoh.

Selain itu, siswa dapat menyadari bahwa sebuah tokoh tidak selalu dapat dinilai hanya dari satu sisi. Mereka perlu mempertimbangkan tindakan, alasan, dan akibat yang muncul dalam cerita sebelum mengambil kesimpulan. Proses tersebut melatih kemampuan berpikir kritis tanpa membuat pembelajaran terasa seperti sekadar menghafal teori sastra.

Belajar Bekerja Sama melalui Pembagian Peran

Salah satu tantangan dalam kerja kelompok adalah tidak semua anggota terlibat secara aktif. Terkadang, hanya satu atau dua siswa yang mengerjakan tugas, sedangkan anggota lainnya sekadar mengikuti hasil akhir. Sidang sastra dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut karena setiap siswa memperoleh peran dan tanggung jawab yang jelas.

Sebelum persidangan dimulai, anggota kelompok perlu berdiskusi untuk menyusun pertanyaan, memilih kutipan cerpen, dan menyiapkan argumen. Jaksa harus bekerja sama dengan anggota timnya untuk menyusun tuntutan, sedangkan tim pembela perlu mempersiapkan alasan yang dapat menjawab pertanyaan dari pihak lawan. Hakim pun harus memahami jalannya kegiatan agar persidangan berlangsung tertib.

Rusman (2012) menjelaskan bahwa:

Pembelajaran kooperatif melibatkan siswa dalam kerja kelompok dan menuntut tanggung jawab bersama untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam sidang sastra karena keberhasilan kelompok tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi juga pada kesiapan setiap anggota.

Selain melatih kerja sama, kegiatan ini mengajarkan siswa untuk menghargai perbedaan pendapat. Siswa belajar bahwa argumen yang berbeda tidak harus berakhir dengan pertengkaran. Mereka dapat menyampaikan ketidaksetujuan dengan bahasa yang santun, mendengarkan penjelasan orang lain, dan menanggapi pendapat berdasarkan bukti.

Dengan demikian, sidang sastra tidak hanya menjadi kegiatan yang seru, tetapi juga kesempatan untuk melatih keterampilan berbicara, menyimak, membaca, dan bekerja sama.

Bagaimana Sidang Sastra Dilaksanakan?

Sidang sastra tidak membutuhkan peralatan yang rumit. Guru dapat merancang kegiatan ini dalam dua pertemuan dengan menggunakan cerpen yang memiliki konflik atau tindakan tokoh yang dapat didiskusikan.

Pada pertemuan pertama, guru memilih cerpen, menjelaskan tujuan kegiatan, dan membagi siswa ke dalam kelompok sesuai perannya. Setiap kelompok kemudian membaca cerpen dan menyiapkan berkas perkara yang berisi kutipan teks, pertanyaan, serta argumen yang akan disampaikan. Guru dapat membantu siswa yang masih kesulitan memahami cerita atau menentukan bukti yang sesuai.

Pada pertemuan kedua, persidangan dilaksanakan dalam beberapa tahap. Kegiatan dimulai dengan pembacaan dakwaan oleh jaksa, dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi dan penyampaian argumen dari tim pembela. Setelah kedua pihak menyampaikan pendapat, hakim mempertimbangkan bukti dan argumen sebelum membacakan putusan. Kegiatan kemudian diakhiri dengan refleksi bersama untuk membahas hal-hal yang dipelajari siswa selama persidangan.

Penilaian tidak harus didasarkan pada kelompok yang menang atau kalah. Guru dapat menilai ketepatan penggunaan bukti dari cerpen, kekuatan argumen, kemampuan menanggapi pendapat, kerja sama kelompok, serta penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan santun. Dengan begitu, siswa tetap dihargai atas proses belajar dan kontribusinya, bukan hanya berdasarkan hasil akhir persidangan.

Guru juga perlu menegaskan bahwa yang dibahas adalah tindakan tokoh fiksi, bukan pribadi siswa yang memerankannya. Aturan ini penting agar kegiatan berlangsung dengan nyaman dan tidak menimbulkan ejekan atau penilaian pribadi terhadap peserta lain.

Guru sebagai Pendamping Pembelajaran

Dalam sidang sastra, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber jawaban. Guru berperan sebagai perancang kegiatan, pendamping, sekaligus pengarah jalannya diskusi. Guru perlu memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk berbicara, argumen tetap berhubungan dengan isi cerpen, dan suasana diskusi berlangsung dengan tertib.

Peran ini memang membutuhkan persiapan. Guru perlu memilih cerita yang sesuai, menjelaskan pembagian tugas, dan menentukan kriteria penilaian. Namun, persiapan tersebut dapat membantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih beragam dan melibatkan siswa secara langsung.

Sidang sastra juga tidak harus digunakan pada setiap pertemuan. Guru dapat menyesuaikan kegiatan dengan tujuan pembelajaran, waktu yang tersedia, dan karakteristik siswa. Jika diterapkan secara tepat, metode ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk membuat pembelajaran sastra terasa lebih dekat dengan kehidupan siswa.

Belajar Sastra Tidak Harus Selalu dengan Cara yang Sama

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia memiliki banyak peluang untuk dikembangkan melalui kegiatan yang aktif, seru, inovatif, dan kolaboratif. Sidang sastra merupakan salah satu alternatif yang dapat dicoba untuk mengubah kegiatan membaca cerpen menjadi pengalaman belajar yang melibatkan pemikiran, keberanian berbicara, dan kerja sama.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar memahami tokoh dan konflik, tetapi juga berlatih menyampaikan pendapat dengan bukti, mendengarkan sudut pandang yang berbeda, serta menggunakan bahasa yang santun. Cerpen pun tidak lagi sekadar bacaan untuk menjawab soal, melainkan menjadi ruang bagi siswa untuk berdiskusi dan memahami berbagai persoalan kehidupan.

Pada akhirnya, belajar sastra bukan hanya tentang mengetahui siapa tokohnya atau apa amanat ceritanya. Lebih dari itu, sastra dapat mengajak siswa berpikir, bertanya, berdiskusi, dan belajar memahami orang lain. Jadi, jika pelajaran cerpen mulai terasa membosankan, mungkin sudah waktunya mengetuk palu dan membuka sidang.