Konten dari Pengguna

Korban Bullying di Sekolah Memilih Diam? Ini Penyebab dan Solusinya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MUHAMMAD THAARIQ FIRDAUS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ini menggambarkan seorang korban bullying yang memilih diam karena merasa takut, malu, dan sendirian. Di tengah suasana sekolah, korban terlihat menunduk sambil memeluk lutut, sementara beberapa siswa di belakangnya tampak berbisik dan menertawakan. Tulisan di sekitar korban menggambarkan perasaan takut akan penilaian orang lain, khawatir keadaan semakin buruk jika melapor, serta merasa tidak ada yang memahami dirinya. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa perundungan tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional korban.Ilustrasi by AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ini menggambarkan seorang korban bullying yang memilih diam karena merasa takut, malu, dan sendirian. Di tengah suasana sekolah, korban terlihat menunduk sambil memeluk lutut, sementara beberapa siswa di belakangnya tampak berbisik dan menertawakan. Tulisan di sekitar korban menggambarkan perasaan takut akan penilaian orang lain, khawatir keadaan semakin buruk jika melapor, serta merasa tidak ada yang memahami dirinya. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa perundungan tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional korban.Ilustrasi by AI.

Mengapa korban bullying di sekolah memilih diam masih menjadi persoalan penting yang perlu mendapat perhatian di lingkungan sekolah. Tindakan bullying tidak hanya berbentuk kekerasan fisik seperti memukul dan mendorong, tetapi juga berupa ejekan, penghinaan, pengucilan, hingga perilaku merendahkan lainnya yang memengaruhi kenyamanan serta interaksi sosial siswa.

Salah satu persoalan yang sering luput dari perhatian adalah ketika korban bully memilih diam. Tidak semua korban berani menceritakan pengalaman mereka kepada orang tua, guru, atau teman. Sebagian memilih mengabaikan kejadian tersebut, meskipun tindakan yang mereka alami dapat menimbulkan tekanan emosional. Oleh karena itu, penting untuk memahami alasan di balik sikap diam korban daripada langsung menganggap mereka tidak berani membela diri.

Mengapa Korban Bullying Memilih Diam?

1. Takut Mengalami Perundungan Kembali

Salah satu alasan yang mungkin membuat korban memilih diam adalah kekhawatiran bahwa melaporkan kejadian justru akan memperburuk keadaan. Korban dapat merasa takut jika pelaku mengetahui bahwa dirinya telah bercerita kepada orang lain. Akibatnya, mereka memilih menyimpan pengalaman tersebut agar tidak menjadi sasaran ejekan atau perlakuan buruk berikutnya.

Ketakutan ini menunjukkan bahwa keberanian untuk melapor tidak hanya bergantung pada diri korban, tetapi juga pada kondisi lingkungan di sekitarnya. Apabila korban merasa tidak aman, mereka mungkin kesulitan mencari pertolongan.

2. Merasa Malu dan Takut Disalahkan

Perundungan juga dapat membuat seseorang merasa rendah diri atau malu terhadap keadaan dirinya. Korban yang terus-menerus menerima ejekan mengenai penampilan, kondisi ekonomi keluarga, atau kemampuan akademik dapat mulai mempertanyakan harga dirinya sendiri.

Selain itu, korban mungkin khawatir akan dianggap terlalu sensitif atau tidak mampu menghadapi candaan. Anggapan seperti ini dapat membuat mereka enggan bercerita. Padahal, tindakan yang menyakiti dan merendahkan seseorang tidak seharusnya dianggap wajar hanya karena pelaku menyebutnya sebagai candaan.

3. Merasa Tidak Akan Mendapatkan Pertolongan

Korban juga dapat memilih diam ketika merasa bahwa orang lain tidak akan memahami atau menanggapi pengalamannya dengan serius. Jika laporan sebelumnya diabaikan atau justru membuat korban disalahkan, kepercayaan mereka terhadap lingkungan dapat berkurang.

Karena itu, respons orang tua, guru, dan teman sangat penting. Mendengarkan tanpa menghakimi dapat membantu korban merasa lebih aman untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.

Apa Kata Penelitian tentang Bullying di Indonesia?

Gambaran mengenai respons korban perundungan dapat ditemukan dalam penelitian Damanika dan Djuwita (2019) berjudul Gambaran Perundungan pada Siswa Tingkat SMA di Indonesia. Penelitian tersebut melibatkan 138 mahasiswa tingkat pertama yang menceritakan kembali pengalaman mereka mengenai perundungan semasa SMA.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 75,8% sekolah asal partisipan pernah dilaporkan mengalami perundungan berdasarkan pengalaman responden. Dari partisipan yang pernah menjadi korban, sebagian besar memilih mengabaikan kejadian yang dialami. Temuan ini memperlihatkan bahwa respons korban tidak selalu berupa perlawanan atau pelaporan kepada pihak lain.

Penelitian yang lebih baru oleh Widiasari et al. (2025), berjudul Dinamika Bullying di Sekolah Menengah Pertama: Analisis Bentuk, Reaksi, Dampak, dan Pandangan Islam, membahas perundungan berdasarkan wawancara terhadap 60 siswa dari 12 SMP di Banyumas. Penelitian tersebut menemukan bentuk perundungan verbal dan nonverbal, serta reaksi korban yang beragam, termasuk diam, bercerita kepada orang tua, dan melaporkan kejadian kepada guru.

Kedua penelitian tersebut membantu menunjukkan bahwa korban dapat memberikan respons yang berbeda-beda terhadap perundungan. Namun, sikap diam tidak dapat langsung diartikan sebagai bukti bahwa korban tidak merasa terganggu. Alasan setiap korban perlu dipahami berdasarkan pengalaman dan situasi yang mereka hadapi.

Apa Dampak Bullying bagi Korban?

Perundungan dapat berdampak pada kondisi emosional dan hubungan sosial korban. Seseorang yang terus-menerus menerima penghinaan mungkin merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah, kehilangan kepercayaan diri, atau kesulitan membangun hubungan dengan teman sebaya.

Dampak lainnya dapat berkaitan dengan kegiatan belajar. Ketika korban merasa takut atau tidak aman di sekolah, perhatian mereka dapat terganggu sehingga proses belajar menjadi kurang nyaman. Penelitian Widiasari et al. (2025) juga membahas dampak perundungan terhadap kondisi psikologis, hubungan sosial, dan prestasi akademik siswa.

Meskipun demikian, dampak yang dialami setiap korban tidak selalu sama. Karena itu, penting untuk tidak membuat kesimpulan mengenai kondisi seseorang hanya berdasarkan perilakunya yang terlihat dari luar.

Bagaimana Cara Membantu Korban Bully?

Mengatasi perundungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Korban tidak seharusnya dibebani tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah sendirian. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mereka.

Pertama, dengarkan korban tanpa menyalahkan. Ketika seseorang mulai bercerita, berikan kesempatan untuk menjelaskan pengalamannya tanpa memotong pembicaraan atau meremehkan perasaannya. Hindari respons seperti menyuruh korban berhenti bersikap sensitif atau menganggap kejadian tersebut hanya sebagai candaan.

Kedua, ciptakan lingkungan yang aman untuk melapor. Sekolah perlu menyediakan saluran pengaduan yang mudah diakses dan menangani laporan dengan serius. Identitas serta keselamatan korban juga perlu diperhatikan agar proses pelaporan tidak membuat mereka semakin rentan.

Ketiga, libatkan orang yang dapat dipercaya. Korban dapat mencari bantuan dari orang tua, guru, konselor sekolah, atau pihak lain yang mampu memberikan perlindungan. Jika perundungan terus berlangsung atau melibatkan kekerasan, masalah tersebut perlu ditangani dengan serius oleh pihak yang berwenang.

Keempat, lakukan pendampingan dan tindak lanjut. Bantuan tidak cukup hanya diberikan ketika korban pertama kali bercerita. Pihak sekolah dan keluarga perlu memastikan bahwa perundungan tidak berlanjut serta kondisi korban tetap diperhatikan.

Kesimpulan

Korban perundungan memilih diam karena berbagai alasan, mulai dari rasa takut, malu, kekhawatiran akan disalahkan, hingga keraguan bahwa mereka akan mendapatkan pertolongan. Oleh sebab itu, sikap diam tidak seharusnya langsung dianggap sebagai kelemahan atau tanda bahwa korban dapat menerima perlakuan tersebut.

Penelitian mengenai perundungan di Indonesia menunjukkan bahwa korban memiliki respons yang beragam, termasuk mengabaikan kejadian, bercerita kepada orang tua, atau melaporkannya kepada guru. Temuan ini memperkuat pentingnya memahami pengalaman korban secara menyeluruh.

Pada akhirnya, penanganan perundungan bukan hanya tentang meminta korban untuk berani berbicara, tetapi juga tentang membangun lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk melakukannya. Ketika keluarga, teman, dan sekolah bersedia mendengarkan serta memberikan perlindungan, korban memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan bantuan dan memulihkan rasa aman mereka.