Konten dari Pengguna

Etika Komunikasi Islam di Era Media Sosial: Solusi Krisis Moral Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiara Tin arifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

made by Gemini
zoom-in-whitePerbesar
made by Gemini

Sadar tidak sih, akhir-akhir ini menggulir media sosial bawaannya melelahkan? Isinya banyak sekali yang toksik—dari ujaran kebencian, perundungan siber, sampai hoaks yang gampang sekali berseliweran. Kadang kepikiran, kok bisa ya orang setega itu mengetik hal-hal jahat di kolom komentar?

Tapi kalau dilihat dari kacamata psikologi, perilaku seperti itu tidak muncul tiba-tiba. Ada yang sejak kecil tumbuh di lingkungan dengan pola asuh yang kurang mengajarkan etika, sehingga terbiasa melihat perilaku kasar. Ada juga yang menyimpan luka masa lalu atau trauma karena pernah dirundung, lalu memproyeksikan rasa sakitnya dengan merundung orang lain secara anonim. Tidak jarang pula ada yang haus validasi dan kurang kasih sayang di dunia nyata, sehingga membuat konten kontroversial atau menyebar hoaks demi suka dan tayangan. Ditambah dorongan ingin merasa berkuasa dan mendominasi karena di kehidupan nyata merasa tidak berdaya. Intinya, krisis moral ini merupakan cerminan masalah kesehatan mental yang belum selesai.

Yang mengejutkan, untuk menghadapi fenomena kekacauan ini, ajaran Islam yang sudah ribuan tahun ternyata sangat relevan sebagai solusinya. Islam tidak hanya melihat komunikasi sebagai obrolan biasa, tetapi setiap kata yang kita ketik adalah bagian dari akhlak. Dari Al-Qur'an dan Hadis, ada lima prinsip yang aplikatif sebagai pedoman di dunia digital:

1. Qaul Sadid (Bicara Benar dan Jujur) — Mengucapkan hal yang benar dan berdasarkan fakta. Tamparan bagi budaya asal membagikan tanpa berpikir. Jika tidak tahu pasti kebenarannya, lebih baik dilewati.

2. Qaul Ma'ruf (Bicara yang Baik dan Pantas) — Di internet kita bertemu orang dari berbagai latar belakang, sehingga tata krama dan kesantunan menjadi kunci agar tidak mudah bergesekan.

3. Qaul Layyin (Bicara Lemah Lembut) — Penting saat berbeda pendapat atau memberi kritik. Seperti merangkai emosi lewat puisi atau cerita, kata-kata tetap tersampaikan dengan baik dan mengena tanpa menyerang personal atau sarkastik.

4. Qaul Maysur (Bicara yang Mudah Dipahami) — Berbicara lugas saja, tidak berbelit-belit, agar pesan tidak menyesatkan dan memicu drama yang tidak perlu.

5. Tabayyun (Cek Dulu, Baru Percaya) — Aturan utama saat ini. Wajib memverifikasi informasi sebelum dipercaya dan disebarkan, agar tidak mengorbankan orang lain karena kecerobohan sendiri.

Aturan-aturan ini bukan untuk mengekang, tetapi justru menjadi batas yang melindungi kewarasan kita dan orang lain. Dengan menerapkannya, kita terhindar dari menyebarkan racun digital yang bisa merusak mental. Kesadaran bahwa setiap ketikan akan dipertanggungjawabkan adalah bentuk kontrol diri tertinggi untuk menyelamatkan kemanusiaan di ruang siber.

made by gemini

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa puncak kesempurnaan manusia terletak pada keseimbangan akal dan hati. Dalam konteks digital: pakai akal untuk berpikir kritis sebelum berkomentar, dan hati untuk berempati apakah ketikan kita melukai orang lain. Berbeda pendapat itu wajar, asalkan tetap santun, media sosial bisa menjadi tempat bertukar pikiran yang sehat.

Langkah nyatanya bisa dimulai dari hal sederhana: biasakan menyaring sebelum mengunggah, latih empati bahwa di balik akun ada manusia sungguhan, dan berhenti sejenak saat emosi atau kelelahan sebelum mengetik.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat yang memantulkan apa yang ada di hati penggunanya. Kalau etika ini benar-benar dipraktikkan, pelan-pelan kita bisa membangun ekosistem digital yang lebih berakhlak. Semuanya berawal dari diri sendiri dan dari satu komentar yang lebih baik.

Apalagi bagi yang sering berkreasi membuat konten visual atau aktif menulis di dunia digital, pasti sangat terasa besarnya dampak sebuah interaksi. Nah, dari kelima prinsip komunikasi tadi, menurut kamu mana yang praktiknya paling menantang saat aktif di internet?

Referensi

Alodokter. "9 Penyebab Bullying dan Cara Mencegahnya." Alodokter, 28 Juli 2025.

Assyifa, Maria Ulfa, dkk. "Etika Digital dalam Perspektif Al-Qur'an dan Hadis: Upaya Membentuk Akhlak Generasi Z di Era Media Sosial." Jurnal Ilmiah Multidisiplin 3, no. 3 (Februari 2026): 778.

BAZNAS RI, Humas. "Menjaga Hati dan Akhlak di Era Digital, Tantangan Muslim Masa Kini." BAZNAS, 3 Juni 2026.

Faizin, Muhammad. "6 Etika Berbicara dalam Ayat-ayat Al-Qur'an." NU Online.

Khafidhi. "Peranan Akal dan Qalb dalam Pendidikan Akhlaq (Studi Pemikiran Al-Ghazali)." Sinopsis Tesis, IAIN Walisongo, Semarang, 2013.