Kaleng Bekas Jadi Pin Badge: Peluang Usaha Ramah Lingkungan di Depok

Mahasiswa Prodi Managemen Program Sarjana Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tiara Ananda Nirvana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kaleng bekas minuman atau makanan sering berakhir di tempat sampah begitu isinya habis. Padahal kaleng aluminium termasuk bahan yang masih sangat berharga jika dimanfaatkan kembali. Di Kota Depok yang sedang bergulat dengan persoalan sampah, kaleng bekas bisa menjadi bahan kerajinan sekaligus peluang usaha kecil yang ramah lingkungan.
Depok dan Persoalan Sampahnya
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah Kota Depok pada 2024 mencapai sekitar 1.363 ton per hari atau hampir 497.529 ton dalam setahun. Angkanya naik dari sekitar 1.265 ton per hari pada 2023. Di antara semua jenis sampah, plastik menempati posisi kedua terbanyak setelah sisa makanan, yakni sekitar 19,8 persen.
Beban terbesarnya ada di TPA Cipayung, satu-satunya TPA di Kota Depok. Pada November 2025, pejabat Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Depok mengakui TPA tersebut sudah kelebihan kapasitas dan sering mengalami longsor karena timbulan sampah terus meningkat. Pemerintah kota pun mengajak warga memilah sampah dari rumah tangga agar beban TPA berkurang.
Angka-angka itu mencakup semua jenis sampah, bukan hanya kaleng. Secara nasional, sampah logam termasuk kaleng menyumbang sekitar 3,45 persen dari timbulan sampah menurut SIPSN 2024. Memang kecil, tetapi bahan ini punya nilai yang jauh lebih tinggi untuk dimanfaatkan kembali dibanding sampah yang tercampur.
Mengapa Kaleng Layak Diselamatkan
Aluminium termasuk logam yang efisien untuk didaur ulang. Menurut Institut Aluminium Internasional (International Aluminium Institute), daur ulang aluminium menghemat sekitar 95 persen energi dibandingkan produksi aluminium baru dari bahan mentah. Artinya, setiap kaleng yang dipilah dan didaur ulang ikut mengurangi kebutuhan energi yang besar.
Meski begitu, tidak semua kaleng cocok dijadikan kerajinan. Kaleng dengan kondisi bagus bisa dikreasikan, sedangkan kaleng yang sudah penyok atau rusak sebaiknya dipilah untuk didaur ulang, misalnya lewat bank sampah. Kajian akademik tentang pengelolaan sampah di Depok mencatat ratusan bank sampah yang bisa menjadi jalur penyalurannya.
Dari Kaleng Bekas Menjadi Pin Badge
Salah satu ide kerajinan yang sederhana adalah pin badge atau bros yang bisa dipasang pada tas. Ide ini terinspirasi dari konten Instagram kreator dengan akun @zeni.art_, yang membagikan tutorial membuat pin dari kaleng minuman bekas.
Sortir kaleng dan pilih yang kondisinya masih bagus.
Bersihkan kaleng, lalu potong dengan gunting atau cutter sesuai bentuk yang diinginkan.
Haluskan bagian tepi yang tajam dengan amplas agar tidak melukai tangan.
Haluskan bagian tepi yang tajam dengan amplas agar tidak melukai tangan.
Gambar dan dekorasi kaleng yang sudah di gunting sesuai pola tersebut sesuai kerasi.
Pasang komponen pin di bagian belakang dan pastikan terpasang kuat.
Selain pin badge, kaleng bekas juga bisa diolah menjadi pot tanaman mini, terutama dari kaleng susu, bahkan lampu hias. Video inspirasinya dapat dilihat lewat tautan berikut:
Referensi video: https://www.instagram.com/reel/DYWvrLsy2nE/
Sumber inspirasi: @zeni.art_, Instagram Reels.
Nilai Ekonomi dan Peluang Usaha
Pin badge dari kaleng bekas berpotensi menjadi produk kreatif yang punya nilai jual. Desainnya bisa mengikuti pola yang sudah ada, atau dibuat khusus (custom) sesuai permintaan pembeli. Produk seperti ini menarik bagi pelajar, mahasiswa, dan penggemar aksesori unik, dan bisa dipasarkan lewat media sosial, marketplace, atau bazar.
Pemerintah Kota Depok sendiri pernah menyampaikan bahwa sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi produk bernilai jual, bukan sekadar dibuang. Dari sisi usaha, modalnya relatif kecil karena bahan bakunya adalah barang bekas, sementara nilai tambah datang dari kreativitas desain dan kerapian hasilnya.
Tantangan dalam Pengolahan Kaleng Bekas
Tantangan pertama adalah keselamatan. Tepi kaleng yang tajam harus dihaluskan dengan amplas, dan penggunaan gunting serta cutter perlu dilakukan dengan hati-hati. Memakai sarung tangan saat memotong akan membantu mengurangi risiko luka.
Kedua, kualitas dan kerapian. Produk yang dijual harus aman dipakai, dengan komponen pin yang kuat dan permukaan yang halus. Ketiga, orisinalitas desain. Agar tidak bermasalah, pembuat sebaiknya merancang desain sendiri dan menghindari menyalin logo merek atau karakter milik pihak lain.
Kaleng Tidak Harus Berakhir Jadi Sampah
Kaleng bekas tidak harus berakhir sebagai sampah. Dengan kreativitas, bahan tersebut dapat diolah menjadi pin badge atau bros yang bermanfaat dan berpotensi bernilai ekonomi. Langkah sederhana ini memang tidak akan menyelesaikan masalah sampah Depok sendirian, tetapi bisa menjadi awal untuk mengurangi limbah sekaligus membuka peluang usaha kreatif yang ramah lingkungan.
