Konten dari Pengguna

Menanam dengan Gaya Baru: KKN UNS Kenalkan Kokedama untuk Budidaya Tanaman Hias

Tiffany Elysia Kuntari

Tiffany Elysia Kuntari

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiffany Elysia Kuntari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKN 116 UNS 2026 melakukan Pelatihan dan Edukasi Pembuatan Kokedama kepada Kelompok Wanita Tani Desa Wonoroto, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa KKN 116 UNS 2026 melakukan Pelatihan dan Edukasi Pembuatan Kokedama kepada Kelompok Wanita Tani Desa Wonoroto, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo

Tim KKN 116 UNS 2026 memperkenalkan pembuatan kokedama sebagai cara bertanam dengan gaya baru yang lebih sederhana dan estetis.

Melihat antusiasme Kelompok Wanita Tani Desa Wonoroto, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo dalam menerima berbagai pelatihan baru, mahasiswa KKN 116 UNS 2026 memilih untuk memberikan pelatihan dan edukasi terkait pembuatan kokedama. Hal tersebut bertujuan memberikan pemahaman baru tentang cara bertanam dengan gaya yang lebih modern dan kekinian.

Program kerja Pelatihan dan Edukasi Pembuatan Kokedama ini ditujukan kepada Kelompok Wanita Tani Desa Wonoroto yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Januari 2026 di Balai Desa Wonoroto, Kecamatan Purworejo.

“Banyak mbak pelatihan yang sering kami terima dan ikuti, tapi untuk pelatihan kokedama ini jadi pelatihan dan ilmu yang baru yang menarik bagi kami,” ucap Ibu Sri Wahyuni, Ketua KWT Mawar Desa Wonoroto.

Kokedama merupakan teknik menanam tanpa pot asal Jepang. Kata “koke” berarti lumut, kata “dama” berarti bola, sehingga kokedama diartikan sebagai bola lumut. Kokedama dibuat dengan membungkus akar tanaman, khususnya tanaman hias, dengan menggunakan campuran tanah yang dibentuk bulat dan dilapisi lumut/sabut kelapa. Kokedama dapat digantung atau diletakkan di atas wadah, sehingga dapat terlihat unik, alami, dan estetis untuk dijadikan sebagai hiasan ruangan.

Melalui pelatihan ini, diberikan penjelasan mengenai pengertian dan manfaat kokedama, alat dan bahan yang digunakan, langkah-langkah pembuatan, cara perawatan, serta praktik pembuatan kokedama secara langsung. Alat dan bahan yang digunakan pun sederhana, seperti tanaman hias, lumut/sabut kelapa, media tanam (tanah, pupuk, arang sekam), gantungan, benang jahit, tali rami/nilon, gunting, pinset, wadah pengaduk, dan sarung tangan/lateks.

Setelah praktik pembuatan kokedama selesai, ibu-ibu KWT terlihat puas dengan hasil karyanya masing-masing. Mereka pun merasa senang karena ternyata cara membuat kokedama sangatlah mudah serta bahan-bahannya juga mudah ditemukan di wilayah desa. Bahkan, sebagian besar ibu-ibu KWT antusias untuk membuat ulang kokedama di rumah masing-masing.

“Mbak, untuk bahan-bahan yang masih sisa ini apakah boleh kami bawa pulang untuk praktik di rumah?” tanya salah satu anggota KWT dengan antusias kepada mahasiswa KKN.

Suasana pelatihan terasa hidup dan menyenangkan. Tawa dan semangat saling membantu menghiasi setiap proses kokedama yang dibuat. Dari bulatan tanah dengan dibungkus lumut/sabut kelapa yang sederhana, lahirlah kokedama yang bukan sekadar menjadi hiasan, tetapi juga menjadi simbol ketelatenan dan kecintaan terhadap lingkungan.

Tim KKN 116 UNS 2026 berharap dengan adanya pelatihan sederhana ini dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kreativitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, hingga mampu meningkatkan ekonomi rumah tangga masyarakat setempat.