Pemerintah Bekerja, Pemuda Mengawal: Menjaga Optimisme Indonesia
Tulisan dari Dr Anthony Leong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar kesempatan mengenang ikrar yang diucapkan pada 28 Oktober 1928. Momentum ini mengingatkan kita bahwa Indonesia dibangun oleh keberanian generasi muda untuk melampaui perbedaan dan membayangkan masa depan bersama.
Para pemuda saat itu berasal dari organisasi, suku, bahasa, dan wilayah berbeda. Mereka belum hidup dalam sebuah negara merdeka. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalangi mereka menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.
Sumpah Pemuda adalah pernyataan optimisme. Ia lahir bukan ketika keadaan sudah sempurna, melainkan ketika Indonesia masih berupa cita-cita. Para pemuda tidak menunggu seluruh persoalan selesai untuk percaya bahwa bangsa ini dapat berdiri.
Semangat seperti itulah yang dibutuhkan Indonesia hari ini. Kita hidup dalam situasi yang berbeda, tetapi tetap menghadapi tantangan besar. Persaingan global semakin ketat, teknologi mengubah dunia kerja, ketidakpastian ekonomi memengaruhi kehidupan masyarakat, dan perubahan iklim menimbulkan tekanan terhadap pangan, energi, serta lingkungan.
Di tengah keadaan tersebut, pemuda perlu menjaga sikap kritis sekaligus optimistis. Kritik dan optimisme bukan dua hal yang saling bertentangan. Kritik membantu pemerintah mengetahui kekurangan, sedangkan optimisme memberi energi untuk menyelesaikannya.
Aksi mahasiswa dan masyarakat yang berlangsung bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda menunjukkan bahwa generasi muda masih peduli terhadap arah bangsa. Mereka menyampaikan kegelisahan mengenai lingkungan, pendidikan, lapangan pekerjaan, anggaran, penegakan hukum, dan kebebasan berpendapat.
Aspirasi tersebut patut didengar. Namun, demonstrasi tidak seharusnya membawa kita pada kesimpulan bahwa seluruh keadaan buruk atau pemerintah tidak bekerja. Indonesia terlalu besar dan persoalannya terlalu kompleks untuk dinilai hanya dari satu peristiwa atau satu sudut pandang.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sedang menjalankan berbagai agenda besar. Program pemenuhan gizi diarahkan untuk memperbaiki kualitas manusia sejak usia sekolah. Penguatan koperasi desa diharapkan menggerakkan ekonomi dari bawah. Hilirisasi ditujukan untuk menciptakan nilai tambah dan lapangan pekerjaan. Pembangunan ketahanan pangan dan energi dilakukan agar Indonesia tidak mudah bergantung kepada negara lain.
Program sebesar itu membutuhkan keberanian politik, anggaran, koordinasi, dan waktu. Dalam pelaksanaannya tentu terdapat tantangan. Ada mekanisme yang harus diperbaiki, penyaluran yang perlu diawasi, data yang harus dibenahi, dan manfaat yang mesti diperluas.
Di sinilah pemuda mempunyai peranan penting. Tugas generasi muda bukan hanya memberikan dukungan tanpa pertanyaan. Sebaliknya, pemuda juga tidak cukup hanya berdiri di luar sistem dan menyatakan bahwa seluruh kebijakan salah.
Pemuda perlu menjadi kekuatan yang mengawal agar tujuan pembangunan tetap berada di jalur kepentingan rakyat. Mereka dapat memeriksa data, mengawasi penggunaan anggaran, mengembangkan inovasi, mendampingi masyarakat, dan menawarkan alternatif kebijakan.
Pemerintah bekerja, pemuda mengawal. Hubungan tersebut tidak perlu dibangun dalam suasana saling mencurigai. Pemerintah dan generasi muda pada dasarnya menginginkan hal yang sama, yaitu Indonesia yang adil, maju, mandiri, dan sejahtera.
Perbedaan biasanya muncul pada cara membaca masalah, menentukan prioritas, dan memilih jalan penyelesaian. Perbedaan semacam itu merupakan bagian dari demokrasi. Yang perlu dijaga adalah agar perdebatan tidak berubah menjadi permusuhan.
Pemerintah yang kuat bukan pemerintah yang tidak pernah dikritik. Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang mampu mendengar, memeriksa kritik secara objektif, menjelaskan kebijakan, serta memperbaiki pelaksanaannya apabila ditemukan kekurangan.
Sebaliknya, gerakan pemuda akan semakin kuat apabila kritiknya disertai data, perhitungan, dan solusi. Slogan dapat menarik perhatian, tetapi gagasanlah yang menghasilkan perubahan.
Jika sebuah program dianggap terlalu besar anggarannya, pemuda dapat menawarkan rancangan yang lebih efisien. Jika biaya pendidikan dinilai terlalu tinggi, mahasiswa dapat mengusulkan model pembiayaan yang berkelanjutan. Jika lapangan pekerjaan dianggap belum memadai, generasi muda dapat memetakan sektor yang berpotensi menyerap tenaga kerja dan kebutuhan kompetensinya.
Dalam persoalan lingkungan, pemuda dapat membantu pemerintah mengawasi korporasi, memetakan kerusakan, membangun teknologi pemantauan, dan mengembangkan usaha hijau. Dalam pemberantasan korupsi, mereka dapat mendorong transparansi serta menggunakan teknologi untuk memperkuat pengawasan publik.
Dengan cara itu, kritik tidak berhenti menjadi kemarahan. Kritik berubah menjadi pengetahuan dan partisipasi.
Pemerintah juga perlu memperluas ruang dialog. Pertemuan dengan mahasiswa jangan hanya dilakukan ketika demonstrasi membesar. Dialog dapat dibangun secara berkala dengan melibatkan kampus, organisasi pemuda, komunitas, pengusaha muda, peneliti, pekerja, dan kelompok masyarakat.
Dialog tersebut harus mempunyai tindak lanjut. Setiap aspirasi dapat dipetakan berdasarkan instansi yang bertanggung jawab, langkah yang telah dilakukan, masalah yang masih dihadapi, dan target penyelesaiannya. Pemerintah tidak harus menyetujui seluruh tuntutan, tetapi perlu menjelaskan pertimbangannya secara jernih.
Komunikasi semacam itu akan membangun kepercayaan. Masyarakat dapat melihat bahwa pemerintah hadir, bekerja, dan bersedia dievaluasi. Pemuda juga memperoleh ruang untuk memahami bahwa pemerintahan harus mempertimbangkan banyak kepentingan serta keterbatasan sekaligus.
Optimisme Indonesia tidak boleh dibangun melalui penyangkalan terhadap masalah. Optimisme justru tumbuh ketika bangsa ini berani melihat persoalan secara jujur dan percaya bahwa kita memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya.
Indonesia mempunyai modal besar. Kita memiliki generasi muda yang jumlahnya besar, kreatif, dekat dengan teknologi, dan semakin terhubung dengan pengetahuan dunia. Di berbagai daerah, anak muda membangun usaha, mengembangkan teknologi, menciptakan lapangan kerja, menjaga lingkungan, serta membantu masyarakat tanpa selalu mendapatkan perhatian media.
Mereka menunjukkan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh perdebatan politik di Jakarta. Masa depan juga dibangun di ruang kelas, laboratorium, bengkel, sawah, tempat usaha, komunitas, dan ruang digital.
Generasi muda perlu mengambil bagian dalam peluang baru. Kecerdasan buatan, energi terbarukan, hilirisasi, ekonomi kreatif, pangan, kesehatan, industri digital, dan transformasi desa membuka ruang bagi lahirnya pekerjaan serta perusahaan baru.
Pemerintah harus memastikan ruang tersebut dapat diakses secara adil melalui pendidikan, pelatihan, pembiayaan, infrastruktur, dan kepastian hukum. Sementara itu, pemuda harus mempersiapkan kompetensi, disiplin, keberanian mengambil risiko, dan kemauan untuk terus belajar.
Semangat Sumpah Pemuda pada akhirnya bukan hanya tentang keberanian menyampaikan suara. Ia juga tentang kesediaan memikul tanggung jawab.
Para pemuda 1928 tidak mewarisi negara yang sudah selesai. Mereka membantu menciptakannya. Generasi hari ini juga tidak menerima Indonesia yang sempurna. Kita menerima Indonesia yang harus terus dibangun.
Karena itu, mari menjaga optimisme tanpa kehilangan sikap kritis. Mari mendukung kerja pemerintah sambil memastikan manfaatnya sampai kepada rakyat. Mari menyampaikan kritik tanpa merusak persaudaraan dan menawarkan solusi tanpa merasa paling benar.
Pemerintah bekerja, pemuda mengawal. Keduanya bukan kekuatan yang harus saling meniadakan, melainkan mitra dalam perjalanan Indonesia.
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa masa depan bangsa dapat dimulai dari keyakinan beberapa anak muda. Hampir satu abad kemudian, keyakinan itu harus kembali dinyalakan. Bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui karya, pengawasan, inovasi, dan kerja bersama.
Selamat Hari Sumpah Pemuda. Mari kita jaga persatuan, rawat harapan, dan bergerak bersama membangun Indonesia yang lebih kuat.

