Konten dari Pengguna

Merantau: Ketika Rumah Menjadi Sebuah Makna, Bukan Sekadar Tempat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tri Pra Setyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cover edited by Penulis di Canva
zoom-in-whitePerbesar
Cover edited by Penulis di Canva

Ada perjalanan yang tidak selalu dapat diukur melalui jarak, tetapi melalui perubahan cara seseorang memahami kehidupan. Merantau lebih dari sepuluh tahun bukan hanya tentang meninggalkan kampung halaman, berpindah tempat tinggal, atau membangun kehidupan di lingkungan yang berbeda. Ia merupakan proses panjang untuk mengenali diri sendiri melalui perjumpaan dengan orang-orang, kebudayaan, pengalaman, dan realitas sosial yang sebelumnya mungkin tidak pernah dibayangkan.

Hampir enam belas tahun menjadi perantau dari Palembang mengajarkan bahwa rumah tidak selalu identik dengan tempat seseorang dilahirkan. Rumah juga dapat menjadi sebuah ingatan, nilai, bahasa, kebiasaan, dan hubungan emosional yang terus dibawa meskipun seseorang telah berada jauh dari asal kehidupannya.

Pada awalnya, merantau dapat dipahami sebagai perpindahan geografis. Namun, seiring berjalannya waktu, perpindahan tersebut berkembang menjadi perpindahan cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara memandang dunia. Lingkungan baru mempertemukan seseorang dengan beragam karakter, latar belakang sosial, kebiasaan, bahasa, serta sistem nilai. Dalam perjumpaan tersebut, seseorang belajar bahwa tidak semua orang memiliki cara pandang yang sama, sekalipun mereka hidup dalam ruang sosial yang berdekatan.

Di sinilah komunikasi memperoleh makna yang lebih mendalam. Komunikasi bukan sekadar kemampuan menyampaikan pesan, melainkan kemampuan memahami perbedaan, membaca situasi, membangun hubungan, dan menegosiasikan keberadaan diri di tengah masyarakat.

Identitas yang Terus Dinegosiasikan

Dalam perspektif Identity Negotiation Theory, identitas bukan sesuatu yang sepenuhnya statis. Identitas berkembang melalui interaksi antara individu dan lingkungan sosialnya. Seseorang yang merantau menghadapi proses untuk mempertahankan identitas asal sekaligus memahami identitas sosial yang berkembang di lingkungan barunya.

Saya tidak sepenuhnya meninggalkan identitas sebagai seseorang yang berasal dari Palembang. Namun, pengalaman hidup di lingkungan yang berbeda juga membentuk cara baru dalam memahami diri. Ada nilai yang tetap dipertahankan, ada kebiasaan yang mengalami penyesuaian, dan ada perspektif yang berubah setelah berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat.

Identitas akhirnya bukan persoalan memilih antara menjadi bagian dari kampung halaman atau menjadi bagian dari lingkungan baru. Keduanya dapat hadir secara bersamaan dalam diri seseorang.

Bahasa, Adaptasi, dan Penerimaan Sosial

Merantau juga memperlihatkan bahwa bahasa memiliki kekuatan sosial yang melampaui fungsinya sebagai alat komunikasi. Pilihan kata, intonasi, aksen, ekspresi, bahkan cara seseorang menempatkan diri dalam percakapan dapat memengaruhi bagaimana ia diterima oleh lingkungan sosial.

Dalam Communication Accommodation Theory, penyesuaian komunikasi dapat terjadi ketika seseorang mengubah atau mempertahankan pola komunikasinya dalam interaksi dengan orang lain. Penyesuaian tersebut dapat membantu membangun kedekatan, tetapi juga menghadirkan pertanyaan penting: sampai sejauh mana seseorang perlu menyesuaikan dirinya agar dapat diterima tanpa kehilangan identitas asalnya?

Bagi seorang perantau, adaptasi bukan berarti menghapus karakteristik budaya sendiri. Adaptasi justru membutuhkan kemampuan untuk memahami kapan harus menyesuaikan diri, kapan mempertahankan prinsip, dan bagaimana membangun komunikasi yang menghargai perbedaan.

Lingkungan Sosial sebagai Ruang Pembentukan Diri

Melalui perspektif Symbolic Interactionism, diri seseorang terbentuk dan berkembang melalui interaksi sosial. Cara orang lain memperlakukan, menilai, dan merespons kita dapat memengaruhi bagaimana kita memahami keberadaan diri sendiri.

Selama bertahun-tahun merantau, lingkungan sosial menjadi ruang pembelajaran yang tidak selalu tersedia di ruang pendidikan formal. Pertemuan dengan orang-orang yang berbeda latar belakang menghadirkan pengalaman mengenai kepercayaan, solidaritas, persaingan, penerimaan, penolakan, dan hubungan antarmanusia.

Dari sana muncul pemahaman bahwa menjadi dewasa tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya usia, tetapi juga kemampuan menginterpretasikan pengalaman dan memahami posisi diri dalam kehidupan sosial.

Ketahanan yang Dibangun Melalui Komunikasi

Lebih dari satu dekade merantau juga dapat dibaca melalui Communication Theory of Resilience. Ketahanan bukan semata-mata kemampuan seseorang untuk bertahan menghadapi kesulitan secara individual. Ketahanan juga dibangun melalui komunikasi, hubungan sosial, jaringan dukungan, serta kemampuan memberikan makna baru terhadap pengalaman hidup.

Dalam perjalanan tersebut, seseorang belajar bahwa tidak semua persoalan harus dihadapi sendirian. Relasi sosial, percakapan, dukungan emosional, dan keberadaan orang-orang yang bersedia mendengarkan merupakan bagian dari proses membangun ketahanan.

Merantau dengan demikian bukan cerita tentang seseorang yang selalu kuat, melainkan tentang seseorang yang terus belajar memahami keterbatasan, membangun hubungan, menerima perubahan, dan menemukan kembali makna dirinya.

Ketika Rumah Tidak Lagi Hanya Tentang Pulang

Setelah lebih dari satu dekade, makna merantau mengalami perubahan. Rumah tidak lagi semata-mata dipahami sebagai titik geografis tempat seseorang berasal. Rumah dapat hadir dalam ingatan, dalam hubungan yang terpelihara, dalam kebiasaan yang diwariskan, dan dalam rasa aman ketika seseorang menemukan lingkungan yang menerimanya.

Pada akhirnya, perjalanan merantau menghadirkan satu refleksi: seseorang dapat berubah karena lingkungan tempat ia tinggal, tetapi perubahan tersebut tidak harus membuatnya kehilangan akar identitasnya.

Merantau bukan tentang seberapa jauh seseorang meninggalkan tempat asalnya. Merantau adalah tentang bagaimana seseorang membangun makna baru tentang dirinya melalui komunikasi, interaksi, perbedaan, dan pengalaman sosial.

Sebab, terkadang perjalanan terpanjang bukanlah perjalanan menuju tempat yang jauh, melainkan perjalanan untuk memahami siapa diri kita setelah bertahun-tahun hidup di antara berbagai dunia sosial.