Public Speaking: Kemampuan yang Dianggap Sepele, Padahal Menentukan Arah Karier

Mahasiswi Universitas pamulang dengan Jurusan Manajemen
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tri Suci Pajriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak mahasiswa menganggap public speaking itu urusan orang-orang tertentu saja, misalnya mereka yang aktif organisasi, jadi MC, atau memang dari kecil sudah suka bicara. Sisanya merasa cukup mengerjakan tugas dengan baik, lalu berdoa supaya tidak ditunjuk maju presentasi. Saya dulu juga berpikir begitu. Tapi makin lama kuliah, makin terlihat bahwa anggapan itu keliru, dan akibatnya baru terasa belakangan.
Coba perhatikan suasana di kelas. Ada teman yang idenya biasa saja, tapi cara menyampaikannya runtut dan tenang, sehingga satu ruangan jadi menyimak. Ada juga teman yang idenya sebenarnya bagus, tapi karena terlalu gugup dan bicaranya tidak tertata, orang jadi sulit menangkap maksudnya. Dari situ kelihatan bahwa pintar saja belum cukup. Sebuah gagasan baru punya nilai kalau orang lain bisa memahaminya.
Hal yang sama berlaku di dunia kerja. Proses rekrutmen biasanya dimulai dari wawancara, yaitu momen ketika kita harus menjelaskan siapa diri kita dalam waktu singkat. Setelah diterima pun, kita akan sering rapat, presentasi laporan, menjelaskan pekerjaan ke atasan, atau bernegosiasi dengan klien. Dalam urusan sumber daya manusia (SDM), perusahaan tidak hanya mencari orang yang menguasai bidang teknis. Mereka juga mencari orang yang bisa bekerja sama, dan bekerja sama hampir selalu dimulai dari kemampuan berkomunikasi. Karyawan yang bisa menyampaikan pendapat dengan jelas biasanya lebih cepat dipercaya, lebih mudah dipahami, dan lebih sering dilibatkan dalam keputusan penting.
Di sisi lain, saya perhatikan banyak orang salah paham soal apa itu public speaking. Sebagian mengira ini soal bicara lancar tanpa salah, suara lantang, dan penampilan yang meyakinkan. Padahal inti public speaking adalah menyampaikan pesan supaya sampai ke pendengar. Orang yang bicaranya sederhana tapi jelas sering kali lebih efektif daripada orang yang berbicara panjang dengan banyak istilah tapi membuat pendengarnya bingung.
Soal rasa gugup, menurut saya itu hal yang sangat wajar. Hampir semua orang mengalaminya, termasuk pembicara yang sudah berpengalaman. Masalahnya bukan di gugupnya, tapi di kebiasaan menghindar. Setiap kali kita menolak kesempatan bicara, rasa takut itu justru makin besar karena tidak pernah diuji. Sejumlah penelitian pada mahasiswa juga menunjukkan hal serupa: kepercayaan diri dan keterampilan berkomunikasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan public speaking. Artinya, kemampuan ini memang bisa tumbuh lewat pembiasaan. Mulailah dari yang kecil, seperti aktif bertanya di kelas, memberi pendapat saat diskusi kelompok, atau menjadi moderator di acara kecil. Lama-lama, berdiri di depan banyak orang tidak lagi terasa seseram dulu.
Ada beberapa hal sederhana yang menurut saya sangat membantu. Pertama, kuasai materi yang akan disampaikan. Orang yang benar-benar paham biasanya lebih tenang, karena ia tidak takut kehabisan bahan. Kedua, susun poin-poin utama dengan urut, dan jangan menghafal kalimat kata demi kata. Kalau lupa satu kalimat, hafalan bisa buyar, tapi kalau kita paham alurnya, kita bisa menyambung dengan kata-kata sendiri. Ketiga, atur kecepatan bicara. Saat gugup, orang cenderung berbicara terlalu cepat, padahal jeda sebentar justru membuat kita terlihat lebih mantap. Keempat, lihat lawan bicara, jangan hanya menatap layar atau catatan. Kontak mata kecil saja sudah bisa membuat pendengar merasa diajak bicara.
Yang tidak kalah penting adalah latihan. Banyak orang berharap bisa tampil bagus tanpa persiapan, lalu kecewa ketika hasilnya berantakan. Padahal pembicara yang kelihatan santai biasanya sudah berlatih berkali-kali. Latihan di depan cermin, merekam diri sendiri, atau meminta teman menjadi pendengar bisa membantu kita menyadari kebiasaan yang selama ini tidak terasa, seperti terlalu sering bilang "eee" atau "anu", berbicara sambil menunduk, atau gerak tangan yang berlebihan.
Perguruan tinggi sebenarnya punya peran besar dalam hal ini. Presentasi kelompok, seminar, diskusi kelas, sampai sidang skripsi bukan sekadar syarat untuk mendapatkan nilai. Semua itu adalah ruang latihan yang relatif aman sebelum kita masuk ke dunia kerja yang sesungguhnya. Kalau salah bicara di kelas, paling-paling hanya malu sebentar. Kalau salah bicara saat wawancara kerja atau presentasi ke klien, taruhannya bisa lebih besar. Sayangnya, tidak sedikit mahasiswa yang memandang tugas presentasi hanya sebagai beban yang penting selesai, bukan sebagai kesempatan untuk berkembang.
Dunia kerja sekarang juga menuntut kita bisa berbicara di banyak situasi. Selain bertemu langsung, kita sering harus tampil di rapat daring, membuat konten video, atau menjadi pembicara di webinar. Bagi yang berkecimpung di bidang pemasaran digital, misalnya, kemampuan berbicara di depan kamera dan menyampaikan pesan produk dengan menarik sudah hampir jadi kebutuhan dasar. Artinya, public speaking bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan bekal utama yang perlu dipersiapkan sejak sekarang.
Pada akhirya, public speaking bukan soal tampil sempurna di depan banyak orang. Ini soal keberanian menyampaikan pikiran dengan jelas dan bertanggung jawab. Kemampuan ini bisa dilatih oleh siapa saja, tidak harus menunggu punya bakat. Jadi, kalau suatu hari ada kesempatan untuk bicara di depan, jangan buru-buru menolak. Bisa jadi itu adalah latihan kecil yang suatu saat sangat berguna, entah di ruang wawancara, di ruang rapat, atau di tempat lain yang belum kita bayangkan.
