Inovasi Keren: Sulap Limbah Rebusan Pindang Jadi Berkah

Mahasiswa Universitas Diponegoro program studi Teknologi Hasil Perikanan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Tri Wijayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Tambaksari, yang dikenal sebagai sentra produksi ikan pindang, menghasilkan limbah rebusan ikan dalam jumlah besar setiap harinya. Limbah ini, bila tidak dimanfaatkan, dapat mencemari lingkungan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan pendekatan multidisiplin melalui program yang dilakukan oleh Tri Wijayanti dengan memanfaatkan limbah rebusan ikan pindang menjadi produk bernilai tambah, yaitu petis ikan. Pemanfaatan limbah rebusan ikan melibatkan integrasi berbagai disiplin ilmu, seperti teknologi pangan, kesehatan lingkungan, dan kewirausahaan. Proses pembuatan petis diawali dengan penyaringan air rebusan, penambahan aromatik seperti serai dan daun salam, perebusan ulang hingga mengental dan berwarna cokcoklat kehitaman dan pengemasan menggunakan botol. Produk petis yang dihasilkan memiliki cita rasa khas dan mengandung nutrisi seperti protein 17-20%, lemak 0,2%, karbohidrat 24%, kalsium 37 mg/l, fosfor 36 mg/l, besi 2,8 mg/l dari sari ikan. Melalui program ini, masyarakat Desa Tambaksari tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru berbasis potensi lokal. Selain ramah lingkungan, petis ikan ini juga aman dikonsumsi karena menggunakan bahan alami tanpa tambahan kimia berbahaya. Kegiatan ini menjadi contoh konkret pemanfaatan limbah menjadi produk inovatif yang mendukung pelaku usaha yang berkelanjutan di wilayah pesisir.
Kesan:"Warga sangat antusias saat saya memaparkan program kerja saya terkait pembuatan petis ikan dari limbah air rebusan ikan pindang, namun untuk menerapkannya mereka belum bisa karena proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup panjang"
Laporan oleh : Tri Wijayanti
