Konten dari Pengguna

Pulang, Menemukan Makna di Balik Kemudi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tsamara Alfia Thasiru tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam perjalanan menuju kampus, saya bertemu seorang pengemudi ojek online yang gemar berdiskusi dengan penumpangnya. Ceritanya tentang keluarga dan pilihan hidup membuka sudut pandang baru bagi saya dalam memaknai pekerjaan dan masa depan.

Ilustrasi pengemudi ojek online dan penumpang dalam perjalanan menuju kampus. Gambar dibuat menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengemudi ojek online dan penumpang dalam perjalanan menuju kampus. Gambar dibuat menggunakan AI

Tidak semua perjalanan menuju kampus berakhir ketika penumpang tiba di tujuan. Ada percakapan yang ikut tertinggal, bahkan setelah kendaraan yang ditumpangi tak lagi terlihat.

Saya mengalaminya pada 6 April 2026, ketika seorang pengemudi ojek online mengantar saya dari Gatak, Sukoharjo, menuju Universitas Sebelas Maret (UNS). Langit agak mendung dan jalanan cukup ramai. Di atas motor Beat yang dikendarainya, AS, 45 tahun, mulai mengajak saya berbincang.

Ia menanyakan kampus, program studi, dan semester yang sedang saya jalani. Ketika obrolan sampai pada rencana setelah lulus, saya mengaku masih bingung menentukan arah masa depan. AS tidak berhenti pada kata-kata penyemangat. Ia mengajak saya melihat kebingungan itu dari sisi yang lebih luas.

Bukan Hanya Mengantar Penumpang

Bagi AS, perjalanan bukan hanya tentang memindahkan penumpang dari satu tempat ke tempat lain. Ia terbiasa memanfaatkan waktu di jalan untuk berbincang dan berdiskusi dengan orang yang ditemuinya.

AS tampak ceria dan mudah membangun percakapan, baik dengan anak muda maupun orang yang lebih tua. Ketika penumpang menceritakan keluh kesahnya, ia tidak sekadar menghibur. Ia berusaha menawarkan cara pandang lain agar masalah itu terlihat dari sisi yang berbeda.

Kebiasaan itu terasa pada saya. Pertanyaannya tentang rencana setelah lulus terdengar sederhana, tetapi ternyata tidak mudah saya jawab. Saya masih berusaha mengenali diri sendiri dan menimbang berbagai pekerjaan yang mungkin saya jalani.

Alih-alih memberi jawaban instan, AS membagikan pengalaman hidupnya, termasuk masa ketika ia bekerja di sektor pertambangan di Papua. Percakapan kami pun bergeser dari persoalan karier ke pertanyaan yang lebih mendasar: pekerjaan seperti apa yang ingin dijalani, dan apa yang hendak dicari melalui pekerjaan itu?

Dari Papua, Memilih Pulang

Bekerja di pertambangan Papua membuat AS berada jauh dari keluarga. Ketika anak-anaknya masih kecil, jarak membatasi kehadirannya dalam masa pertumbuhan mereka.

Pada akhirnya, ia meninggalkan pekerjaan itu dan kembali ke Jawa Tengah. Keinginan untuk lebih dekat dengan anak-anak menjadi salah satu alasannya. Saya tidak mengetahui seluruh pertimbangan di balik keputusan tersebut, sehingga tidak berani menyebut keluarga sebagai satu-satunya alasan.

Meski begitu, cerita AS menunjukkan bahwa keputusan soal pekerjaan tidak selalu ditentukan oleh penghasilan atau pencapaian. Ada kehidupan di luar pekerjaan yang ikut dipertimbangkan, termasuk kesempatan hadir bersama keluarga ketika anak-anak masih kecil.

Cerita itu tidak langsung memberi saya jawaban tentang pekerjaan yang harus dipilih setelah lulus. Namun, saya mulai melihat bahwa menentukan masa depan bukan hanya soal menemukan profesi yang diinginkan, melainkan juga soal kehidupan seperti apa yang ingin dijalani ketika pekerjaan itu menjadi keseharian.

Setelah Mendapatkan Pekerjaan, Lalu Apa?

Bagi AS, memilih pekerjaan tidak semestinya hanya berangkat dari ambisi pribadi. Kebermanfaatan bagi orang lain juga perlu menjadi pertimbangan. Pesan itulah yang paling membekas dari percakapan kami.

“Mbak, kalau besok sudah bekerja, jangan hanya berorientasi pada ego atau kepentingan diri sendiri. Cobalah memaknai kehidupan setelah mendapatkan pekerjaan itu. Lihat juga seberapa besar kebermanfaatan dan pengaruh yang bisa kita berikan kepada lingkungan sekitar serta orang lain melalui pekerjaan tersebut. Dengan begitu, kita bisa lebih bersyukur dan menemukan makna kehidupan bukan hanya dari apa yang berhasil kita dapatkan, tetapi juga dari apa yang bisa kita berikan kepada orang lain,” ujar AS.

Pesan itu membuat saya memikirkan ulang kebingungan yang tadi saya ceritakan. Sebagai mahasiswa, saya sering memandang kelulusan dan pekerjaan sebagai dua hal besar yang harus disiapkan. Saya ingin menemukan arah yang tepat, tetapi belum sepenuhnya paham apa yang sebenarnya saya cari.

Bagi saya, pandangan AS bukan ajakan untuk berhenti mengejar cita-cita atau mengabaikan pencapaian pribadi. Saya memaknainya sebagai pengingat bahwa pekerjaan tidak hanya dinilai dari apa yang diperoleh, tetapi juga dari apa yang dapat diberikan melalui pekerjaan itu.

Percakapan yang Tertinggal

Perjalanan dari Gatak menuju UNS berlangsung sekitar setengah jam. Dalam waktu sesingkat itu, saya tentu tidak mengetahui seluruh kisah hidup AS. Namun, percakapan kami memperlihatkan sisi dirinya yang tidak langsung terlihat dari pekerjaannya: kebiasaannya berdiskusi dan usahanya menawarkan sudut pandang lain ketika seseorang menceritakan persoalannya.

Saya berangkat sebagai penumpang yang belum yakin dengan arah masa depan. Kami tidak sampai pada jawaban pasti tentang apa yang harus saya lakukan setelah lulus. Namun, percakapan itu mengubah cara saya memandang pertanyaan yang selama ini saya pikirkan. Barangkali, saya terlalu sibuk mencari profesi yang ingin diraih hingga lupa memikirkan kehidupan yang akan dijalani setelah mendapatkannya. Pekerjaan hanyalah salah satu bagian dari perjalanan yang lebih panjang.

Saya tidak tahu apakah percakapan singkat itu akan diingat AS sebagaimana saya mengingatnya. Namun, pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa seseorang tidak harus memberi jawaban pasti untuk membantu orang lain berpikir. Terkadang, cara pandang baru sudah cukup untuk membuat sebuah pertanyaan tampak berbeda.

Perjalanan hari itu berakhir ketika saya tiba di kampus. Namun, satu pertanyaan masih saya bawa setelah turun dari motor: ketika kelak menemukan pekerjaan, kehidupan seperti apa yang ingin saya jalani, dan untuk siapa saya ingin pulang setiap harinya?