Konten dari Pengguna

FOMO: Mengapa Kita Takut Tertinggal dari Kehidupan Orang Lain?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ulya Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi saat orang mengikuti trend atau FOMO. Sumber: pexels.pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi saat orang mengikuti trend atau FOMO. Sumber: pexels.pexels.com

FOMO mulai terasa ketika kita melihat teman-teman berkumpul tanpa kita, lalu tiba-tiba merasa ingin ikut meskipun sebelumnya tidak memiliki rencana ke mana-mana. Atau ketika membuka media sosial, kita menemukan seseorang sedang berlibur, teman lain baru meraih pencapaian, sementara orang-orang yang kita kenal terlihat menjalani kehidupan yang menyenangkan. Awalnya, kita mungkin hanya melihat unggahan tersebut sambil lalu. Namun, tanpa disadari, muncul pertanyaan kecil dalam pikiran mengapa kehidupan orang lain terlihat lebih menarik daripada kehidupan kita sendiri? Pertanyaan inilah yang membuat FOMO terus dibicarakan, dan tidak sedikit orang yang mencari berita terkini FOMO untuk memahami apa yang sebenarnya sedang mereka alami. Merasa ada pengalaman yang terlewatkan, kesempatan yang tidak diambil, atau momen kebersamaan yang tidak menjadi bagian dari hidup kita dapat memunculkan perasaan seperti ini. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), atau fear of missing out, yaitu kekhawatiran bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman berharga tanpa keterlibatan kita. FOMO bukan sekadar keinginan untuk ikut bersenang-senang, tetapi juga perasaan tidak nyaman ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang tampaknya sedang kita lewatkan. Fear of missing out sebenarnya sudah ada sebelum media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, kehadiran media sosial membuat pengalaman orang lain lebih mudah terlihat. Kita tidak lagi hanya mengetahui kegiatan teman melalui cerita langsung, tetapi juga dapat melihat berbagai potongan kehidupan mereka setiap kali membuka layar ponsel. Bahkan sekadar menelusuri berita hari ini media sosial pun bisa membuat kita terpapar pencapaian dan keseruan orang lain. Dalam situasi ini, FOMO dapat muncul ketika informasi yang kita lihat membuat kita merasa kehilangan pengalaman yang dianggap penting atau menyenangkan. Media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Sebuah unggahan mungkin memperlihatkan liburan yang menyenangkan, perayaan pencapaian, atau kebersamaan dengan teman-teman. Kita jarang mengetahui keseluruhan cerita di baliknya, termasuk kegagalan, konflik, dan hari-hari biasa yang tidak dibagikan. Akibatnya, kita bisa membandingkan kehidupan sehari-hari yang dijalani secara lengkap dengan potongan pengalaman orang lain yang terlihat menarik. Inilah sebabnya berita terkini media sosial yang kita lihat sering kali hanya memperlihatkan sisi terbaik seseorang. Komunikasi dalam kehidupan digital dapat dipahami melalui Social Comparison Theory yang diperkenalkan oleh psikolog Leon Festinger pada 1954. Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mengevaluasi pendapat dan kemampuannya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Dalam perspektif psikologi, kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain merupakan bagian dari cara manusia memahami posisi dirinya di lingkungan sosial. Proses ini menjadi semakin terlihat dalam komunikasi digital, ketika informasi tentang kehidupan orang lain tersedia hampir setiap saat melalui media sosial. Dalam kehidupan digital, perbandingan itu dapat meluas ke pencapaian akademik, pekerjaan, pertemanan, hingga pengalaman yang dianggap menyenangkan. Ketika orang lain terlihat lebih maju atau lebih bahagia, kita mungkin mulai mempertanyakan apakah kehidupan sendiri sudah cukup baik, dan di titik inilah FOMO terasa begitu nyata. Komunikasi digital menjadi menarik untuk dibahas karena media sosial bukan hanya menyediakan informasi tentang aktivitas orang lain, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan dan menafsirkan kehidupan. Dalam komunikasi semacam ini, pengguna dapat memilih momen yang ingin dibagikan, sedangkan orang yang melihatnya memaknai unggahan tersebut berdasarkan pengalaman masing-masing. Ketika paparan semacam ini terjadi berulang kali, kehidupan orang lain dapat menjadi tolok ukur yang kita gunakan untuk mengevaluasi diri sendiri. Topik ini pun semakin sering muncul dalam berita terkini komunikasi, terutama ketika membahas dampak teknologi terhadap cara kita berinteraksi. Penelitian Dinh dan Lee yang diterbitkan dalam BMC Psychology pada 2025 turut membahas hubungan antara paparan media sosial, perbandingan sosial ke atas, FOMO, dan keinginan menampilkan diri secara daring. Melalui survei terhadap 367 pengguna media sosial di Amerika Serikat, penelitian tersebut menemukan hubungan antara paparan media sosial yang lebih sering, kecenderungan membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul, dan pengalaman FOMO. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa aktivitas di media sosial tidak hanya berkaitan dengan apa yang kita lihat, tetapi juga dengan cara kita mengevaluasi diri dan menampilkan kehidupan kepada orang lain. Bagi yang mengikuti berita terbaru FOMO, temuan semacam ini menjadi salah satu rujukan penting. Bayangkan ketika beberapa teman mengunggah foto makan bersama, sementara kita menghabiskan akhir pekan di rumah. Sebelumnya, kita mungkin memang ingin beristirahat dan merasa nyaman dengan pilihan tersebut. Namun, setelah melihat unggahan mereka, istirahat yang awalnya terasa menyenangkan bisa berubah menjadi perasaan bahwa kita tertinggal. Kita mulai bertanya-tanya apakah seharusnya ikut pergi, apakah teman-teman akan semakin dekat tanpa kita, atau apakah ada pengalaman yang nantinya tidak bisa kita dapatkan kembali. Keinginan untuk ikut serta tidak selalu merupakan FOMO. Kita bisa benar-benar ingin berkumpul dengan teman atau mencoba pengalaman baru karena memang menyukainya. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika keputusan lebih banyak didorong oleh ketakutan tertinggal daripada keinginan pribadi. Kita mengikuti sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, melainkan karena merasa tidak nyaman melihat orang lain melakukannya tanpa kita. Komunikasi dengan lingkungan sosial dalam situasi tersebut dapat memengaruhi cara kita memaknai pengalaman yang tidak kita ikuti. Unggahan, komentar, dan respons orang lain memberi gambaran tentang pengalaman yang sedang populer atau dianggap menarik. Namun, ketika gambaran tersebut terus dijadikan ukuran, kita bisa kehilangan kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan. Kita akhirnya sibuk mengikuti kehidupan yang terlihat menarik di layar tanpa selalu memeriksa apakah hal itu sesuai dengan keinginan kita. Dalam berita terbaru komunikasi, pola seperti ini kerap disebut sebagai tantangan baru dalam komunikasi digital. Media sosial tetap memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat menjaga hubungan, menemukan pengalaman baru, memperoleh informasi, dan mendapatkan inspirasi dari orang lain. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata terletak pada penggunaan media sosial, melainkan juga pada bagaimana kita memaknai informasi yang diterima. Kehidupan yang ditampilkan orang lain tidak harus menjadi standar yang wajib kita penuhi, sekalipun kita rutin membaca berita terbaru media sosial. Merasa tertinggal bukan selalu berarti kehidupan kita berjalan terlalu lambat. Mungkin, salah satu cara memahami FOMO adalah dengan membedakan sesuatu yang benar-benar kita inginkan dari sesuatu yang hanya kita takutkan akan terlewatkan. Apakah kita ingin pergi karena memang menyukai kegiatannya, atau hanya karena tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang tidak ikut? Apakah kita menginginkan suatu pencapaian karena sesuai dengan tujuan pribadi, atau karena melihat orang lain sudah lebih dahulu mendapatkannya? Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita mengenali kapan keputusan berasal dari keinginan sendiri dan kapan perbandingan sosial mulai memengaruhinya. Dengan begitu, berita hari ini komunikasi tentang tren apa pun tidak otomatis menjadi tuntutan bagi kita. FOMO pada akhirnya tidak bisa dihilangkan dengan mengikuti semua pengalaman yang dimiliki orang lain. Akan selalu ada tempat yang belum dikunjungi, kesempatan yang tidak diambil, dan cerita yang tidak menjadi bagian dari kehidupan kita. Itu bukan berarti kita menjalani hidup dengan kurang baik. Setiap orang memiliki keadaan, prioritas, dan waktunya sendiri, sehingga kehidupan tidak harus berjalan dengan urutan yang sama.

Hampir setiap orang pernah mengalami FOMO dalam bentuk yang berbeda-beda. Pada situasi tertentu, berbagai perasaan seperti khawatir, cemas, atau takut tertinggal dapat muncul ketika seseorang terus membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih menarik.

Barangkali, yang membuat kita merasa tertinggal bukan selalu karena kehidupan kita berjalan terlalu lambat, melainkan karena kita terlalu sering mengukur perjalanan sendiri menggunakan potongan kehidupan orang lain. Kita boleh mengetahui berita hari ini FOMO atau apa yang sedang terjadi di luar sana tanpa harus menjadikan semuanya sebagai sesuatu yang wajib dialami. Sebab, kehidupan yang bermakna bukan tentang seberapa banyak pengalaman orang lain yang berhasil kita ikuti, melainkan seberapa jauh kita mengenali dan menjalani kehidupan yang benar-benar kita inginkan.