Konten dari Pengguna

Siapa yang Membentuk Cara Kita Melihat Dunia?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ulya Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi saat kita terkena agenda setting di media sosial. Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi saat kita terkena agenda setting di media sosial. Sumber: pexels.com

Pernah merasa bahwa sesuatu yang sering muncul di media sosial lama-kelamaan terlihat seperti sebuah kebenaran? Kita melihat pendapat yang sama berulang kali, mengikuti akun dengan pandangan serupa, membaca berita dari sumber yang terasa dekat, hingga akhirnya menganggap bahwa apa yang kita lihat adalah gambaran utuh tentang dunia. Padahal, belum tentu demikian. Setiap hari, kita menerima begitu banyak informasi melalui media sosial, portal berita, mesin pencari, percakapan dengan teman, hingga rekomendasi konten yang muncul di layar. Namun, tidak semua informasi hadir secara kebetulan. Ada pilihan redaksi, keputusan platform, sistem algoritma, dan lingkungan sosial yang ikut menentukan informasi apa yang sampai kepada kita. Tanpa disadari, cara kita memahami suatu peristiwa dapat dipengaruhi oleh apa yang terus-menerus kita konsumsi. Sesuatu yang sering muncul terasa penting, pendapat yang sering kita dengar terasa benar, sementara sudut pandang yang jarang terlihat perlahan menghilang dari perhatian. Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih besar: seberapa jauh pandangan kita benar-benar berasal dari diri sendiri ketika informasi yang kita konsumsi telah diseleksi oleh media, algoritma, dan lingkungan sosial?

Dunia yang Kita Lihat Tidak Selalu Dunia yang Utuh Media memiliki peran penting dalam menentukan isu apa yang mendapat perhatian publik. Melalui proses pemilihan berita, penentuan sudut pandang, dan penempatan informasi, media membantu masyarakat memahami peristiwa tertentu. Dalam kajian komunikasi, proses ini dikenal melalui konsep agenda-setting. yaitu bagaimana media dapat memengaruhi isu yang dianggap penting oleh masyarakat. Namun, pengaruh tersebut tidak hanya datang dari media berita. Di ruang digital, algoritma juga ikut menentukan konten yang muncul di hadapan pengguna. Sistem rekomendasi biasanya mempertimbangkan berbagai sinyal, seperti interaksi, riwayat tontonan, dan preferensi pengguna untuk menyajikan konten yang dianggap relevan. Akibatnya, dua orang yang menggunakan platform yang sama dapat memiliki pengalaman informasi yang sangat berbeda. Seseorang mungkin terus melihat pembahasan mengenai isu lingkungan, sementara orang lain lebih sering menerima konten hiburan atau politik. Keduanya hidup dalam ruang digital yang sama, tetapi memperoleh gambaran dunia yang tidak selalu sama. Ketika Lingkungan Ikut Membentuk Keyakinan Pengaruh informasi tidak berhenti pada apa yang ditampilkan media atau algoritma. Lingkungan sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk cara seseorang memahami dunia. Keluarga, teman, lingkungan kampus, rekan kerja, hingga komunitas digital dapat memengaruhi pendapat yang kita anggap wajar. Ketika orang-orang di sekitar kita memiliki pandangan serupa, kita mungkin merasa lebih nyaman untuk menyetujuinya daripada mempertanyakan kembali informasi yang diterima. Fenomena ini berkaitan dengan echo chamber, yaitu kondisi ketika seseorang lebih banyak terpapar pada informasi dan pandangan yang memperkuat keyakinan yang sudah dimiliki. Dalam situasi seperti ini, perbedaan pendapat dapat semakin jarang ditemui, bukan selalu karena tidak ada, melainkan karena kita tidak lagi banyak menjumpainya. Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua rekomendasi algoritma otomatis menciptakan ruang gema. Pilihan pribadi, kebiasaan bermedia, dan struktur jaringan sosial juga ikut berperan. Karena itu, persoalannya bukan hanya tentang algoritma, tetapi juga bagaimana manusia memilih, menerima, dan merespons informasi. Apakah Kita Masih Berpikir dengan Pikiran Sendiri? Pertanyaan tersebut bukan berarti manusia sepenuhnya kehilangan kebebasan berpikir. Kita tetap memiliki kemampuan untuk menilai, mempertanyakan, dan mengambil keputusan. Akan tetapi, kebebasan berpikir membutuhkan kesadaran bahwa informasi yang kita terima selalu memiliki konteks dan keterbatasan. Misalnya, ketika sebuah isu sedang ramai diperbincangkan, kita sering kali langsung membentuk pendapat berdasarkan potongan video, unggahan singkat, atau komentar yang paling banyak mendapatkan perhatian. Padahal, informasi tersebut mungkin belum menjelaskan latar belakang, kronologi, maupun sudut pandang pihak lain. Kita juga dapat merasa sudah memahami sebuah persoalan hanya karena telah membaca banyak unggahan tentang topik yang sama. Padahal, jumlah informasi tidak selalu sejalan dengan keluasan perspektif. Bisa jadi, kita hanya menerima pengulangan dari satu sudut pandang yang sama. Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Kita perlu membedakan antara informasi yang benar-benar memperluas pemahaman dan informasi yang hanya membuat kita semakin yakin terhadap pendapat sendiri.

Mengambil Kembali Kendali atas Cara Kita Melihat Dunia Menghadapi situasi tersebut bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial atau berhenti menggunakan teknologi. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan mengkonsumsi informasi secara sadar. Kita dapat memulainya dengan mencari sumber yang beragam, membaca lebih dari satu pemberitaan mengenai isu yang sama, memeriksa konteks sebelum membagikan informasi, dan sesekali mengikuti perspektif yang berbeda dari keyakinan pribadi. Kita juga perlu memahami bagaimana platform menggunakan aktivitas pengguna untuk mengatur rekomendasi konten. Di sisi lain, media perlu menjaga tanggung jawab dalam menyajikan informasi, sementara platform digital perlu semakin transparan mengenai sistem rekomendasi dan pengelolaan konten. Literasi digital tidak seharusnya hanya dibebankan kepada pengguna, karena ekosistem informasi juga dibentuk oleh keputusan perusahaan teknologi dan institusi media. Pada akhirnya, dunia tidak hanya dibentuk oleh apa yang kita lihat, tetapi juga oleh apa yang tidak pernah sampai kepada kita. Informasi yang muncul di layar hanyalah sebagian dari kenyataan yang jauh lebih luas. Mungkin kita tidak dapat sepenuhnya mengendalikan informasi apa yang beredar di sekitar kita. Namun, kita masih bisa menentukan bagaimana menyikapinya: apakah menerimanya begitu saja, atau berhenti sejenak untuk mempertanyakan sumber, konteks, dan sudut pandangnya. Sebab, menjadi manusia yang terhubung dengan dunia bukan berarti harus menerima semua hal yang ditampilkan kepada kita. Justru, kita perlu memiliki keberanian untuk melihat lebih jauh dari apa yang disediakan oleh layar. Dan mungkin, kebebasan berpikir yang sesungguhnya dimulai ketika kita berani bertanya, apakah ini benar-benar pandanganku, atau hanya pandangan yang terlalu sering diperlihatkan kepadaku?