Integritas dan Kompetensi Jadi Kunci, Generasi Muda Diminta Siap Hadapi Perubahan

Akun resmi Universitas Muhammadiyah Bandung
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari UM Bandung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bandung – Menurunnya semangat gerakan mahasiswa, kurangnya penguasaan keahlian khusus, dan ketatnya persaingan dunia kerja menjadi tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Mahasiswa dituntut tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kompetensi, dan kepedulian sosial.
Persoalan tersebut mengemuka dalam kegiatan Strategic Youth Leadership yang digelar SYLPRO bersama BEM Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan bertema "Become a Pentahelix Youth Leader" ini membahas pentingnya kepemimpinan dan kolaborasi generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.
Wakil Presiden BEM UM Bandung Fajar Abidin menyoroti perubahan karakter mahasiswa yang dinilai semakin kurang aktif dalam gerakan sosial.
Menurutnya, banyak anak muda memiliki kemampuan di berbagai bidang, tetapi belum menguasai keahlian tertentu secara mendalam.
Fajar juga mengaku resah melihat menurunnya semangat gerakan mahasiswa. Sebagian mahasiswa, menurutnya, lebih disibukkan dengan kepentingan pribadi sehingga kontribusinya terhadap masyarakat semakin terbatas.
Kondisi tersebut, kata Fajar, perlu menjadi evaluasi bersama. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi sekaligus membangkitkan kembali semangat kepemimpinan dan kepedulian sosial.
Sementara itu, Ketua Strategic Youth Leadership Community (SYLCOM) Abdullah Azzam mengatakan bahwa kegiatan tersebut mendapat respons positif dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya tercatat mendaftar untuk mengikuti program tersebut.
Menurut Azzam, SYLPRO berupaya membuka akses pengembangan diri, memperluas jejaring, dan membekali generasi muda dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.
Ia juga mengapresiasi UM Bandung yang telah memfasilitasi kegiatan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan potensi mahasiswa.
Pembina SYLCOM Haru Suandaru mengatakan bahwa kepemimpinan membutuhkan keseimbangan antara karakter, akhlak, dan kompetensi profesional.
Menurutnya, integritas tanpa kemampuan tidak cukup untuk menjalankan kepemimpinan. Begitu pula kompetensi tanpa karakter yang baik.
"Jujur saja tidak cukup. Kompetensi saja tidak cukup. Harus ada keduanya. Kepemimpinan tidak hadir secara tiba-tiba. Prosesnya sangat lama, dimulai dari rumah, sekolah, kampus, dan sebagainya," ujar Haru.
Haru mengingatkan mahasiswa agar mulai membangun integritas dari hal sederhana, termasuk tidak melakukan kecurangan akademik.
Menurutnya, kejujuran dan tanggung jawab selama menempuh pendidikan merupakan bagian dari proses membentuk pemimpin yang amanah.
Ia juga menilai pendidikan formal tidak selalu menjamin seseorang mampu bersaing di dunia kerja. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengembangkan keterampilan dan kompetensi profesional agar memiliki kesiapan menghadapi perubahan kebutuhan industri.
Haru berharap SYLPRO menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, memperkuat karakter, dan meningkatkan kapasitas kepemimpinan. Ia juga mengapresiasi kolaborasi generasi muda dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Sementara itu, Direktur Bina Intala Kemenaker RI Teguh Djatmiko yang hadir sebagai pembicara utama menegaskan bahwa Indonesia tidak kekurangan anak muda berprestasi.
Namun, bangsa ini membutuhkan generasi muda yang berintegritas, kompeten, mampu berkolaborasi, dan berani mengambil keputusan.
Menurut Teguh, gelar akademik tidak otomatis menjadikan seseorang mampu memimpin. Kepemimpinan membutuhkan kecakapan membaca situasi, memahami perubahan, dan mengambil keputusan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Teguh juga mengingatkan bahwa bonus demografi, kemajuan teknologi, dan kekayaan sumber daya alam tidak serta-merta menjamin kesejahteraan Indonesia.
Potensi tersebut harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang berkualitas, memiliki integritas, serta menjunjung tinggi etika dan akhlak.
Dalam konteks ketenagakerjaan, Teguh menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi dan kualitas pekerjaan.
Ia menjelaskan bahwa konsep pekerjaan layak (decent work) mencakup empat pilar, yakni kesempatan kerja produktif, pemenuhan hak pekerja, perlindungan sosial, dan dialog sosial.
Teguh pun mendorong generasi muda untuk terus memperbarui keterampilan seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mempersiapkan diri menjadi pencari kerja, tetapi juga harus memiliki kemampuan berinovasi dan menciptakan lapangan pekerjaan.
