Kumparan Logo
Konten Media Partner

Korban Dugaan Pelecehan Seksual di UNSRI Bertambah

Urban Idverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Universitas Sriwijaya. (foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Universitas Sriwijaya. (foto: Istimewa)

Korban dugaan kasus pelecehan seksual di Universitas Sriwijaya (UNSRI) bertambah, kini korban berinisial D mengaku mendapat perlakuan yang sama oleh terlapor R. D tidak membuat laporan polisi karena sudah sudah terlebih dahulu dilaporkan mahasiswi C dan F.

Kasubdit IV Renakta Polda Sumsel, Kompol Masnoni, mengatakan terlapor sama, korban juga mengaku dilecehkan oleh terduga pelaku melalui Whatsapp.

Korban pelecehan seksual Mahasiswi Universitas Sriwijaya atau Unsri, bertambah satu orang lagi. Seorang Mahasiswi berinisial D mengaku telah menjadi korban pelecehan seksual oleh dosen berinisial R.

Mahasiswi inisial D itu memberanikan dirinya melapor karena dua seniornya inisial C dan F sudah lebih dulu melapor dan mendapat respon baik dari pihak kepolisian. "D, C, dan F dimintai keterangan bersama dua orang saksi dalam penyelidikan kasus ini," katanya.

Hingga saat ini sudah ada empat orang yang mengaku menjadi korban di dua fakultas di UNSRI. Terduga korban Dr terlebih dahulu melaporkan A dan sudah dilakukan gelar perkara dan polisi sudah menaikkannya ke status penyidikan.

Salain itu, sudah ada 2 terlapor atas dugaan pelecehan seksual di UNSRI. Dosen A sendiri disebut telah mengakui perbuatan tersebut, sementara R yang diperiksa tidak mengakui perbuatannya.

Terkait persoalan ini, Direktur Direktur Women's Crisis Centre (WCC) Palembang, Yessi Ariyani, dalam keterangan tertulisnya mengatakan kasus pelecehan seksual Unsri atau Universitas Sriwijaya hendaknya disikapi Rektor dengan lebih tegas kepada pelaku.

“Sudah ada tiga mahasiswi yang mengaku dilecehkan oleh pelaku R, bahkan salah satu terduga korban mengalami upaya menghambatan yudisium yang kemudian viral di media sosial tersebut, Rektorat UNSRI harus bertindak tegas kepada pelaku,” katanya.

Pihaknya meminta agar pelaku dinonaktifkan dari tugasnya, mengingat proses hukum telah berjalan. Kekerasan pelecehan seksual ini menurutnya ibarat fenomena gunung es. Fenomena yang baru sedikit terungkap di permukaan dan bakal ditemukan banyak yang belum terungkap.

Banyak korban yang memilih untuk tidak melaporkan peristiwa kekerasan atau pelecehan seksual tersebut. Penyebabnya karena banyak alasan, diantaranya relasi hubungan kuasa yang kuat atau tidak imbang antar pelaku dan korban.

Ketua Dewan Pengurus WCC Palembang, Yeni Roslaini Izzi, mengatakan saat ini masih kuat budaya patriarki termasuk di Sumsel yang membuat budaya victim blaming, kepada korban yang melaporkan peristiwa tersebut.

Pada kasus Unsri, Yenni, menambahkan saat para korban telah berani mengungkapkan peristiwa kekerasan seksual yang dialami, namun pihak Rektorat malah terkesan melindungi pelaku.

"Adanya upaya-upaya pemanggilan yang dilakukan kampus, tanpa adanya pendampingan, sekaligus menegaskan jika tidak hadir maka akan mempengaruhi pada masalah-masalah lainnya, maka ini jelas sebuah intimidasi," katanya.