Konten dari Pengguna

Ketika Harga Naik, Daya Beli Masyarakat Indonesia Ikut Tertekan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmah Handayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hakase_ Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Hakase_ Unsplash

Kenaikan harga barang dan jasa tidak hanya terlihat dari angka inflasi, tetapi juga terasa dalam kehidupan sehari-hari ketika pendapatan tidak meningkat seimbang.

Inflasi dan Daya Beli Masyarakat

Inflasi merupakan salah satu kondisi ekonomi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ketika harga makanan, transportasi, energi, dan berbagai kebutuhan lainnya meningkat, masyarakat harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk memperoleh barang dan jasa yang sama.

Daya beli sendiri menunjukkan kemampuan seseorang atau rumah tangga dalam memperoleh barang dan jasa berdasarkan pendapatan yang dimiliki. Karena itu, daya beli tidak cukup dilihat dari jumlah uang yang diterima, tetapi juga dari harga barang dan jasa yang harus dibayar.

Jika pendapatan meningkat tetapi harga barang naik lebih cepat, kondisi tersebut belum tentu membuat kemampuan ekonomi masyarakat menjadi lebih baik. Dalam situasi seperti ini, pendapatan riil dapat menurun karena uang yang dimiliki mampu membeli lebih sedikit barang dan jasa.

Sebagai gambaran sederhana, seseorang yang memiliki pendapatan Rp3.000.000 per bulan mungkin sebelumnya mampu memenuhi kebutuhan makanan, transportasi, pulsa, dan kebutuhan lainnya. Namun ketika harga kebutuhan tersebut meningkat sementara pendapatannya tetap, anggaran yang sama menjadi lebih terbatas.

Mengapa Inflasi Bisa Menekan Pendapatan Riil?

Hubungan inflasi dengan daya beli dapat dilihat melalui pendapatan riil. Ketika harga barang dan jasa meningkat sementara pendapatan nominal tidak mengalami peningkatan yang seimbang, kemampuan masyarakat untuk membeli kebutuhan akan menurun.

Tekanan tersebut membuat masyarakat perlu menyesuaikan anggaran. Mereka dapat memilih makanan yang lebih murah, mengurangi frekuensi pembelian tertentu, atau mengurangi pengeluaran lain yang dianggap kurang penting.

Artinya, dampak inflasi tidak hanya berupa perubahan angka harga, tetapi juga perubahan keputusan ekonomi rumah tangga. Masyarakat dengan pendapatan yang lebih terbatas biasanya memiliki ruang penyesuaian yang lebih kecil.

Pola Konsumsi Masyarakat Ikut Berubah

Ketika harga meningkat, masyarakat cenderung menjadi lebih selektif dalam berbelanja. Barang yang tidak mendesak dapat ditunda, dikurangi, atau bahkan tidak dibeli.

Perubahan tersebut juga dapat terlihat dari kebiasaan mengganti merek, memilih ukuran produk yang lebih kecil, mencari barang pengganti dengan harga lebih rendah, serta membandingkan harga sebelum membeli.

Jika kondisi ini berlangsung cukup lama, penurunan konsumsi barang nonpokok juga dapat memengaruhi pelaku usaha karena permintaan terhadap produk tertentu berpotensi ikut menurun.

Kelompok Berpendapatan Rendah Lebih Rentan

Dampak inflasi tidak dirasakan dengan tingkat yang sama oleh seluruh masyarakat. Kelompok berpendapatan rendah cenderung lebih rentan karena sebagian besar pendapatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, dan kesehatan.

Ketika harga kebutuhan dasar meningkat, kelompok tersebut memiliki pilihan yang lebih terbatas untuk mengurangi pengeluaran. Mereka biasanya lebih dahulu mengurangi kebutuhan yang masih dapat ditunda, sementara kebutuhan pokok tetap harus dipenuhi.

Kelompok berpendapatan menengah juga dapat merasakan tekanan inflasi, misalnya melalui pengurangan pengeluaran sekunder, penundaan pembelian, atau berkurangnya kemampuan menabung dan merencanakan keuangan.

Apa Penyebab Inflasi di Indonesia?

Inflasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dalam konteks Indonesia, beberapa faktor yang relevan antara lain peningkatan permintaan, kenaikan biaya produksi, perubahan harga pangan dan energi, nilai tukar, serta gangguan distribusi.

Ketika permintaan masyarakat meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan produksi atau pasokan, harga dapat terdorong naik. Di sisi lain, kenaikan biaya bahan baku, energi, transportasi, dan tenaga kerja juga dapat meningkatkan biaya produksi dan akhirnya memengaruhi harga jual.

Harga pangan memiliki peran penting karena makanan merupakan bagian besar dari pengeluaran rumah tangga. Gangguan produksi, perubahan cuaca, distribusi yang tidak lancar, atau berkurangnya pasokan dapat membuat harga komoditas tertentu meningkat.

Bagaimana Kondisi Inflasi Indonesia pada 2026?

Berdasarkan data yang digunakan dalam artikel ini, inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat 3,34% secara tahunan dan kemudian turun menjadi 2,88% pada Juli 2026. Pada Juli 2026 juga terjadi deflasi bulanan sebesar 0,14%.

Bank Indonesia mencatat bahwa inflasi Juli 2026 masih berada dalam sasaran 2,5±1%. Inflasi inti tercatat 2,76% secara tahunan, administered prices 3,58%, dan volatile food 2,52%.

Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi inflasi dapat berubah dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh berbagai kelompok harga. Karena itu, pengendalian inflasi perlu memperhatikan pangan, energi, distribusi, serta kebijakan ekonomi secara bersamaan.

Dampaknya bagi Pelaku Usaha

Inflasi juga memberi tekanan kepada pelaku usaha. Ketika harga bahan baku, energi, transportasi, dan biaya operasional meningkat, biaya produksi ikut naik.

Pelaku usaha dapat menghadapi pilihan yang tidak mudah. Mereka dapat menaikkan harga jual, mempertahankan harga dengan margin keuntungan yang lebih kecil, atau menyesuaikan ukuran dan jumlah produk.

Masalahnya, kenaikan harga jual dapat membuat konsumen mengurangi pembelian. Karena itu, tekanan inflasi dapat membentuk hubungan timbal balik antara konsumen dan pelaku usaha: konsumen menghadapi harga yang lebih tinggi, sedangkan usaha menghadapi biaya produksi yang meningkat.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Menjaga Daya Beli?

Menjaga daya beli tidak cukup hanya dengan mengendalikan angka inflasi. Pemerintah perlu memperhatikan ketersediaan dan distribusi barang, terutama komoditas pangan yang memiliki pengaruh besar terhadap pengeluaran masyarakat.

Perlindungan terhadap kelompok berpendapatan rendah juga penting agar kenaikan harga tidak terlalu menekan pemenuhan kebutuhan dasar. Kebijakan fiskal, bantuan sosial, subsidi tertentu, dan koordinasi pengendalian inflasi dapat menjadi bagian dari upaya tersebut sesuai kondisi ekonomi dan kemampuan anggaran negara.

Dari sisi masyarakat, pengelolaan keuangan dapat dilakukan dengan membuat skala prioritas, membedakan kebutuhan dan keinginan, membandingkan harga, serta mengurangi pengeluaran yang kurang penting.

Pelaku usaha juga perlu beradaptasi melalui efisiensi biaya, evaluasi proses produksi, pencarian alternatif bahan baku, dan penyesuaian strategi pemasaran tanpa mengurangi kualitas produk secara berlebihan.

Kesimpulan

Inflasi dapat memengaruhi daya beli masyarakat terutama ketika kenaikan harga tidak diikuti peningkatan pendapatan yang seimbang. Kondisi tersebut dapat menurunkan pendapatan riil dan mendorong masyarakat mengubah pola konsumsi, seperti memilih produk yang lebih murah, mengurangi pembelian barang nonpokok, mencari barang pengganti, atau menunda pembelian tertentu.

Dampak inflasi juga berbeda menurut kondisi pendapatan. Kelompok berpendapatan rendah dan menengah ke bawah cenderung lebih rentan karena sebagian besar pendapatannya digunakan untuk kebutuhan dasar. Oleh sebab itu, menjaga daya beli membutuhkan pengendalian inflasi yang berjalan bersama peningkatan pendapatan, kesempatan kerja, produktivitas, perlindungan kelompok rentan, dan kelancaran distribusi.

Sumber

Asia, N., Jumadil, A., & Syukri, F. (2026). Dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat Indonesia. LIQUIDITY: Jurnal Ilmu Manajemen dan Bisnis, 4(2), 9–15.

Badan Pusat Statistik. (2026, 1 Juli). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Juni 2026 sebesar 3,34 persen.

Badan Pusat Statistik. (2026, 3 Agustus). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen.

Bank Indonesia. (2026, 13 Juli). Analisis inflasi Juni 2026.

Bank Indonesia. (2026, 13 Agustus). Analisis inflasi Juli 2026.

Herlambang, M. F., Pratiwi, R., Zain, N., & Hasibuan, R. R. A. (2026). Analisis dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat. Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa, 4(2), 1–11. https://doi.org/10.61722/jipm.v4i2.2160

Nasir. (2025). Analisis dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah di Makassar. Journal of Economic Research, 1(1).

Wati, E. J., Sari, M. I., & Hidayattullah, Y. (2025). Dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat di Indonesia: Tinjauan literatur. Jurnal Media Akademik, 3(11).

Di tulis Oleh:

Naila Aprilia Sari, Rahmah Handayanidan, Savira Nesya Paramita. Mahasiswa Universitas Paamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen