Belanja Sekarang, Bayar Nanti: Mengapa Gen Z Semakin Tertarik Menggunakan PayLater?
Tulisan dari Dede Nadia Stevania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PayLater menjadi salah satu pilihan pembayaran digital yang semakin dikenal oleh konsumen, termasuk Gen Z. Melalui layanan Buy Now Pay Later (BNPL), konsumen dapat membeli produk sekarang dan membayar pada waktu berikutnya sesuai ketentuan penyedia layanan. Fitur ini banyak ditemukan di platform belanja online dan aplikasi keuangan. Kemudahan tersebut membuat proses transaksi terasa lebih praktis, tetapi juga menimbulkan pertanyaan: apakah PayLater benar-benar membantu konsumen memenuhi kebutuhan, atau justru membuat mereka lebih mudah melakukan pembelian yang tidak direncanakan?
PayLater dan Perubahan Kebiasaan Belanja
Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat melakukan transaksi. Jika sebelumnya konsumen perlu menyiapkan uang tunai atau menggunakan kartu kredit, kini pembayaran dapat dilakukan melalui berbagai fitur yang tersedia di aplikasi.
PayLater menjadi salah satu alternatif karena konsumen tidak harus membayar seluruh harga barang pada saat transaksi. Sebagian layanan menyediakan pilihan pembayaran pada tanggal tertentu, sedangkan layanan lainnya menawarkan cicilan dengan jangka waktu yang berbeda.
Kemudahan ini dapat memberikan manfaat ketika konsumen memiliki kebutuhan penting, tetapi belum memiliki dana yang cukup pada saat itu. Misalnya, seseorang perlu membeli perlengkapan kuliah atau perangkat untuk menunjang pekerjaan, kemudian menggunakan PayLater dengan perhitungan pembayaran yang sudah direncanakan.
Namun, kemudahan tersebut juga dapat mengubah cara konsumen menilai harga. Ketika harga barang ditampilkan dalam bentuk cicilan kecil, konsumen mungkin lebih memperhatikan jumlah pembayaran per bulan dibandingkan total kewajiban yang harus diselesaikan.
Akibatnya, barang yang sebelumnya terasa mahal dapat terlihat lebih mudah dijangkau. Kondisi ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memahami perilaku konsumen digital.
Mengapa Gen Z Tertarik Menggunakan PayLater?
Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan ketertarikan konsumen terhadap layanan PayLater.
Pertama, kemudahan transaksi. Proses pembayaran yang terintegrasi dengan aplikasi belanja membuat konsumen tidak perlu berpindah platform untuk menyelesaikan transaksi. Dalam situasi tertentu, kemudahan tersebut dapat meningkatkan ketertarikan menggunakan layanan.
Kedua, fleksibilitas pembayaran. Konsumen dapat memilih waktu pembayaran atau skema cicilan sesuai ketentuan yang tersedia. Bagi sebagian pengguna, fitur ini membantu mengatur pengeluaran dalam jangka pendek.
Ketiga, promosi dan penawaran khusus. Voucher, cashback, atau potongan harga yang dikaitkan dengan penggunaan PayLater dapat membuat layanan semakin menarik. Konsumen yang awalnya tidak berniat menggunakan fasilitas tersebut bisa terdorong mencobanya karena melihat adanya keuntungan tambahan.
Keempat, pengaruh gaya hidup dan lingkungan sosial. Ketika layanan pembayaran digital semakin umum digunakan, konsumen dapat menganggap PayLater sebagai bagian dari kebiasaan belanja sehari-hari. Paparan konten media sosial dan rekomendasi orang lain juga dapat membentuk persepsi terhadap layanan tersebut.
Meski demikian, ketertarikan terhadap PayLater tidak selalu berarti konsumen memiliki perilaku konsumtif. Sebagian pengguna dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan yang sudah direncanakan. Perbedaan terletak pada bagaimana konsumen mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan membayar, dan konsekuensi transaksi.
Apa Kata Data tentang Penggunaan PayLater?
Tren PayLater dapat dilihat melalui perkembangan jumlah rekening dan nilai pembiayaan yang tercatat di sektor perbankan.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diberitakan ANTARA pada 4 Agustus 2026, baki debet PayLater perbankan mencapai Rp30,71 triliun pada Juni 2026. Nilai tersebut tumbuh 33,54% secara tahunan. Pada periode yang sama, jumlah rekening PayLater perbankan mencapai sekitar 32,80 juta rekening. OJK juga mencatat rasio kredit bermasalah atau NPL sebesar 2,36%.
Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan PayLater berkembang dalam layanan keuangan digital. Namun, jumlah rekening tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah pengguna unik karena satu orang bisa memiliki lebih dari satu rekening atau fasilitas.
Survei Katadata Insight Center (KIC) bersama OVO Finansial yang dilakukan pada 2024 juga memberikan gambaran mengenai alasan penggunaan PayLater. Dalam survei terhadap 2.153 responden Gen Z dan Milenial di 10 kota pilihan di Indonesia, sebanyak 59% responden menyatakan menggunakan PayLater sebagai alat untuk mengatur keuangan. Selain itu, 41,1% menggunakannya ketika tidak memiliki cukup uang, sedangkan 40% memanfaatkannya untuk memperoleh cashback atau promosi.
Perlu diperhatikan bahwa angka tersebut merupakan hasil survei gabungan Gen Z dan Milenial, bukan gambaran khusus Gen Z. Meski begitu, data ini memperlihatkan bahwa alasan penggunaan PayLater cukup beragam, mulai dari pengaturan pengeluaran hingga ketertarikan terhadap promosi.
PayLater dan Pembelian Impulsif
Dalam materi Perilaku Konsumen, pembelian impulsif atau impulse buying merupakan pembelian yang terjadi secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya. Perilaku ini dapat muncul ketika konsumen melihat produk yang menarik, mendapatkan penawaran khusus, atau merasakan dorongan untuk segera membeli.
PayLater dapat menjadi salah satu faktor yang mempermudah proses pembelian tersebut. Ketika konsumen tidak perlu mengeluarkan uang secara langsung, hambatan yang dirasakan saat membeli barang bisa menjadi lebih rendah.
Sebagai contoh, seseorang awalnya hanya membuka marketplace untuk melihat produk fashion. Setelah menemukan pakaian yang sedang tren, ia tertarik karena tersedia voucher khusus pengguna PayLater. Tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan pengeluaran bulanannya, ia akhirnya melakukan transaksi.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa keputusan pembelian dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor, seperti promosi, kemudahan pembayaran, dan dorongan emosional.
Penelitian Yandi Suprapto, Laurenzia Angelina Yonata, dan Isnaini Nuzula Agustin yang diterbitkan pada Juli 2026 dalam E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana mengkaji perilaku impulsif Gen Z dalam penggunaan PayLater. Penelitian terhadap 309 data responden pengguna PayLater di Indonesia menemukan bahwa persepsi manfaat dan kesenangan berpengaruh positif terhadap adopsi PayLater, sedangkan persepsi kemudahan tidak menunjukkan pengaruh. Adopsi PayLater juga terbukti meningkatkan perilaku impulsif pada kelompok responden yang diteliti.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan PayLater tidak hanya berkaitan dengan kemudahan teknis, tetapi juga dengan manfaat dan pengalaman yang dirasakan konsumen.
Kemudahan yang Perlu Diimbangi Kesadaran Finansial
Meskipun PayLater menawarkan fleksibilitas, konsumen tetap perlu memahami bahwa layanan tersebut merupakan fasilitas pembiayaan yang menimbulkan kewajiban pembayaran.
Sebelum menggunakannya, konsumen perlu memperhatikan beberapa hal, seperti total tagihan, biaya administrasi, bunga jika berlaku, tanggal jatuh tempo, serta konsekuensi apabila terlambat membayar. Ketentuan setiap penyedia layanan dapat berbeda sehingga informasi tersebut perlu diperiksa sebelum transaksi dilakukan.
Konsumen juga sebaiknya tidak hanya melihat besarnya cicilan. Jumlah pembayaran yang terlihat kecil dapat menjadi beban ketika beberapa transaksi dilakukan secara bersamaan.
Misalnya, seseorang memiliki beberapa tagihan PayLater dari transaksi yang berbeda. Masing-masing tagihan mungkin terlihat ringan, tetapi jika dijumlahkan, total kewajiban bulanannya dapat menjadi cukup besar.
Karena itu, membuat anggaran dan mencatat seluruh kewajiban pembayaran menjadi langkah penting. Konsumen juga perlu membedakan kebutuhan dan keinginan agar penggunaan layanan tidak menjadi kebiasaan membeli barang hanya karena tersedia fasilitas pembayaran nanti.
Memahami PayLater dari Perspektif Perilaku Konsumen
Fenomena PayLater menunjukkan bahwa keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh harga dan kebutuhan produk. Cara pembayaran, promosi, persepsi manfaat, serta pengalaman menggunakan layanan juga dapat membentuk perilaku konsumen.
Bagi Gen Z, layanan ini dapat menjadi alternatif pembayaran yang praktis apabila digunakan dengan perencanaan. Namun, kemudahan transaksi juga dapat mendorong pembelian yang kurang dipertimbangkan apabila konsumen terlalu berfokus pada keinginan saat ini.
Dari perspektif pemasaran, PayLater memperlihatkan bagaimana perusahaan dapat memengaruhi keputusan konsumen melalui kemudahan dan fleksibilitas transaksi. Sementara itu, dari sisi konsumen, pemahaman mengenai perilaku pembelian dapat membantu seseorang mengenali alasan di balik keputusannya.

