Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar Ikut Tren, Ini Cara Brand Memanfaatkan Viralitas di Media Sosial

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dede Nadia Stevania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Freepik.com

Media sosial membuat tren datang dan pergi dengan sangat cepat. Dalam hitungan jam, sebuah sound, meme, gaya video, atau topik tertentu bisa muncul di berbagai platform dan diikuti oleh banyak pengguna. Kondisi ini tentu menjadi peluang bagi brand untuk mendapatkan perhatian lebih luas. Namun, mengikuti tren tidak selalu berarti strategi pemasaran yang tepat.

Bagi brand, tren seharusnya tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus diikuti agar terlihat kekinian. Lebih dari itu, tren perlu dipahami dan disesuaikan dengan karakter brand serta target audiens. Sebab, konten yang viral memang dapat mendatangkan perhatian, tetapi perhatian belum tentu berubah menjadi ketertarikan terhadap produk.

Ketika Tren Menjadi Peluang bagi Brand

Salah satu alasan brand tertarik mengikuti tren adalah karena tren dapat membantu konten mendapatkan jangkauan yang lebih luas. Ketika sebuah topik sedang banyak dibicarakan, konten yang relevan dengan tren memiliki peluang untuk ditemukan oleh lebih banyak orang.

Perubahan ini juga membuat media sosial menjadi bagian penting dalam strategi pemasaran. Bisnis tidak hanya menggunakan media sosial untuk memperkenalkan produk, tetapi juga untuk membangun hubungan dengan konsumen dan mendorong penjualan. Pada 2026, perkembangan social commerce dan integrasi teknologi AI juga menjadi bagian dari perubahan strategi pemasaran digital.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Brand tidak harus mengikuti setiap tren yang muncul.

Jika semua tren diikuti tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan identitas brand, konten justru bisa terlihat dipaksakan. Konsumen mungkin melihat kontennya, tetapi belum tentu memahami apa hubungan tren tersebut dengan produk yang ditawarkan.

Viral Belum Tentu Berarti Berhasil

Banyak orang masih menganggap jumlah views sebagai ukuran utama keberhasilan sebuah konten. Padahal, dalam pemasaran media sosial, keberhasilan tidak hanya dilihat dari seberapa banyak orang yang menonton.

Bayangkan sebuah video brand mendapatkan satu juta views, tetapi hanya sedikit orang yang mengunjungi profil, bertanya mengenai produk, atau melakukan pembelian. Artinya, konten tersebut memang berhasil mendapatkan perhatian, tetapi belum tentu berhasil mencapai tujuan pemasaran.

Hal inilah yang membuat brand perlu membedakan antara viralitas dan hasil bisnis.

Views, likes, komentar, dan shares dapat membantu menunjukkan respons audiens terhadap konten. Namun, brand juga perlu melihat indikator lain seperti kunjungan ke profil, klik tautan, leads, hingga transaksi. Dengan begitu, strategi media sosial tidak berhenti pada tahap membuat konten ramai, tetapi dapat diarahkan pada tujuan yang lebih jelas.

Jangan Asal Ikut Tren

Salah satu kesalahan yang bisa dilakukan brand adalah menggunakan tren hanya karena sedang populer.

Misalnya, sebuah sound sedang banyak digunakan di TikTok. Brand kemudian menggunakan sound tersebut dalam video promosi tanpa memikirkan konsep dan pesan yang ingin disampaikan. Akibatnya, konten memang menggunakan sesuatu yang sedang populer, tetapi tidak memberikan alasan bagi audiens untuk tertarik dengan produknya.

Padahal, tren dapat digunakan dengan cara yang lebih kreatif. Brand bisa mengambil elemen yang sedang populer kemudian menghubungkannya dengan produk, karakter brand, atau kebutuhan konsumennya.

Dengan cara tersebut, brand tidak hanya menjadi “pengikut tren,” tetapi ikut memberikan konteks baru di dalam tren tersebut.

Pahami Siapa yang Menjadi Audiens

Strategi mengikuti tren juga perlu disesuaikan dengan target audiens.

Tidak semua tren cocok untuk semua kelompok konsumen. Tren yang populer di kalangan Gen Z, misalnya, belum tentu memiliki daya tarik yang sama bagi kelompok usia lainnya. Karena itu, brand perlu mengetahui siapa yang ingin mereka jangkau sebelum membuat konten.

Perubahan perilaku pengguna juga membuat strategi media sosial semakin membutuhkan pemahaman terhadap audiens. Tren media sosial tidak hanya berkaitan dengan apa yang sedang viral, tetapi juga bagaimana pengguna menemukan informasi, berinteraksi dengan konten, dan akhirnya mempertimbangkan sebuah produk.

Dengan memahami audiens, brand dapat menentukan apakah sebuah tren memang relevan atau justru lebih baik dilewatkan.

Kreativitas Lebih Penting daripada Sekadar Kecepatan

Tren di media sosial bergerak cepat. Karena itu, brand memang perlu responsif. Namun, cepat bukan berarti harus terburu-buru.

Konten yang mengikuti tren tetap membutuhkan ide yang jelas. Brand perlu memikirkan bagaimana tren tersebut dapat menjadi bagian dari cerita yang ingin disampaikan.

Contohnya, sebuah brand makanan dapat memanfaatkan tren video pendek untuk menunjukkan cara menikmati produknya. Brand fashion dapat menggunakan tren tertentu untuk menampilkan inspirasi outfit. Sementara itu, brand kecantikan dapat mengadaptasi format konten yang sedang populer untuk memberikan tips penggunaan produk.

Dengan begitu, tren berfungsi sebagai pintu masuk untuk menarik perhatian, sedangkan isi konten menjadi alasan bagi audiens untuk tetap tertarik.

Dari Viralitas Menuju Hubungan dengan Konsumen

Social media marketing pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana membuat konten menjadi viral. Tujuan yang lebih penting adalah bagaimana perhatian tersebut dapat berkembang menjadi hubungan dengan konsumen.

Konten yang menarik dapat membuat orang berhenti scrolling. Konten yang relevan dapat membuat mereka tertarik. Konten yang memberikan informasi atau solusi dapat membuat mereka mempertimbangkan produk. Setelah itu, pengalaman yang baik dapat mendorong mereka untuk membeli dan bahkan kembali menggunakan produk tersebut.

Artinya, brand perlu melihat media sosial sebagai sebuah perjalanan, bukan hanya tempat untuk mengumpulkan views.

Viralitas dapat menjadi awal yang baik, tetapi bukan akhir dari strategi pemasaran.

Jadi, Haruskah Brand Selalu Mengikuti Tren?

Jawabannya tidak selalu.

Brand perlu memilih tren yang memiliki hubungan dengan target audiens, karakter produk, dan tujuan pemasaran. Jika sebuah tren memang relevan, brand dapat menggunakannya sebagai kesempatan untuk memperluas jangkauan. Sebaliknya, jika tidak sesuai, tidak mengikuti tren juga bukan berarti tertinggal.

Di tengah perubahan media sosial yang semakin cepat, strategi pemasaran justru perlu semakin terarah. Brand harus mampu membaca tren, memahami audiens, dan mengubah perhatian menjadi interaksi yang memiliki nilai.

Pada akhirnya, menjadi viral mungkin bisa membuat sebuah brand dikenal lebih banyak orang. Namun, kemampuan mengubah viralitas menjadi ketertarikan, kepercayaan, dan tindakan konsumenlah yang membuat strategi media sosial memiliki arti bagi bisnis.

Jadi, bukan sekadar ikut tren. Brand perlu tahu mengapa tren tersebut diikuti, siapa yang ingin dijangkau, dan apa yang ingin dicapai setelah perhatian berhasil didapatkan.