Gen Z Ingin Kerja Fleksibel, Apa Tantangannya bagi Perusahaan?
Tulisan dari Dede Nadia Stevania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian Gen Z, bekerja tidak lagi hanya tentang datang ke kantor, menyelesaikan tugas, lalu menerima gaji setiap bulan. Cara memandang pekerjaan mulai berubah. Fleksibilitas, keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, serta kesempatan untuk berkembang menjadi beberapa hal yang semakin diperhatikan ketika memilih pekerjaan.
Perubahan tersebut menjadi tantangan baru bagi perusahaan. Jika dulu pekerjaan identik dengan jam kerja dan tempat kerja yang tetap, sekarang perusahaan mulai berhadapan dengan kebutuhan tenaga kerja yang menginginkan pola kerja lebih fleksibel. Namun, fleksibilitas juga perlu berjalan bersama tanggung jawab dan pencapaian target.
Lantas, bagaimana perusahaan dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan Gen Z tanpa mengurangi produktivitas?
Gen Z Mulai Melihat Pekerjaan dengan Cara Berbeda
Gen Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang membuat komunikasi dan pekerjaan dapat dilakukan dari berbagai tempat. Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian dari mereka memiliki pandangan yang berbeda mengenai cara bekerja.
Laporan Indonesia Millennial & Gen Z Report 2027 dari IDN Research Institute menunjukkan bahwa Gen Z dan milenial sedang menghadapi perubahan dalam dunia kerja, termasuk perubahan prioritas dalam menjalani karier. Pada Gen Z, work-life balance, kesempatan bekerja dari rumah, dan makna dalam pekerjaan menjadi beberapa faktor yang dianggap penting.
Artinya, pekerjaan tidak hanya dinilai dari gaji atau jabatan. Cara perusahaan memperlakukan karyawan dan memberikan ruang untuk menjalani kehidupan di luar pekerjaan juga dapat menjadi pertimbangan.
Fleksibel Bukan Berarti Bebas Tanpa Aturan
Istilah kerja fleksibel terkadang disalahartikan sebagai bekerja sesuka hati. Padahal, fleksibilitas bukan berarti karyawan bebas mengabaikan tanggung jawab.
Kerja fleksibel dapat diterapkan melalui berbagai bentuk. Misalnya, perusahaan memberikan pilihan bekerja dari rumah pada hari tertentu, menerapkan sistem hybrid, atau memberikan keleluasaan dalam mengatur waktu selama pekerjaan dan target tetap terpenuhi.
Di Indonesia, perubahan pola kerja juga menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Ketenagakerjaan menyebut perkembangan model bisnis dan ekonomi digital mendorong kebutuhan terhadap aturan ketenagakerjaan yang lebih adaptif, termasuk dalam menghadapi gig economy dan bentuk kerja yang semakin beragam.
Karena itu, fleksibilitas sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai fasilitas, tetapi sebagai bagian dari sistem kerja yang memiliki aturan dan tujuan yang jelas.
Tantangan Perusahaan: Menjaga Produktivitas
Salah satu pertanyaan yang sering muncul ketika membahas kerja fleksibel adalah apakah produktivitas karyawan akan tetap terjaga.
Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana sistem tersebut diterapkan. Perusahaan tidak cukup hanya memberikan pilihan WFH atau jam kerja fleksibel. Perusahaan juga perlu memiliki target, indikator kinerja, komunikasi yang jelas, dan sistem evaluasi yang dapat digunakan untuk melihat hasil pekerjaan.
Dengan demikian, fokus penilaian dapat bergeser dari sekadar “berapa lama karyawan berada di kantor” menjadi “apa hasil pekerjaan yang berhasil diselesaikan”.
Hal ini juga penting karena setiap pekerjaan memiliki kebutuhan yang berbeda. Pekerjaan yang membutuhkan interaksi langsung dengan pelanggan tentu tidak dapat menerapkan fleksibilitas dengan cara yang sama seperti pekerjaan yang sebagian besar dilakukan menggunakan komputer.
Perusahaan Perlu Menemukan Titik Tengah
Kebutuhan Gen Z dan kepentingan perusahaan sebenarnya tidak selalu bertentangan. Keduanya dapat dipertemukan jika perusahaan mampu membuat aturan kerja yang jelas.
Misalnya, perusahaan dapat menentukan pekerjaan apa yang bisa dilakukan secara remote dan pekerjaan apa yang tetap membutuhkan kehadiran di kantor. Jadwal kerja fleksibel juga dapat diberikan dengan batas waktu dan target yang sudah disepakati.
Komunikasi antara atasan dan karyawan juga menjadi penting. Ketika bekerja secara fleksibel, karyawan membutuhkan kejelasan mengenai tugas, prioritas, tenggat waktu, dan cara berkoordinasi dengan tim.
Tanpa komunikasi yang baik, fleksibilitas justru dapat menimbulkan masalah baru, seperti miskomunikasi, pekerjaan yang tumpang tindih, atau sulitnya mengetahui perkembangan tugas.
Jangan Hanya Memberikan Fleksibilitas, Berikan Kepercayaan
Fleksibilitas juga berkaitan dengan kepercayaan.
Perusahaan yang menerapkan sistem kerja fleksibel perlu memberikan ruang kepada karyawan untuk menunjukkan bahwa mereka mampu bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Sebaliknya, karyawan juga harus membuktikan bahwa fleksibilitas yang diberikan tidak mengurangi komitmen terhadap pekerjaan.
Dengan sistem seperti ini, hubungan antara perusahaan dan karyawan tidak hanya didasarkan pada pengawasan, tetapi juga pada kepercayaan dan pencapaian hasil.
Sebuah perusahaan tidak harus selalu mengawasi karyawan setiap saat untuk mengetahui apakah pekerjaan berjalan dengan baik. Target dan hasil kerja dapat menjadi salah satu dasar untuk melakukan evaluasi.
Fleksibilitas Bisa Menjadi Strategi Manajemen SDM
Bagi perusahaan, memberikan fleksibilitas bukan hanya soal mengikuti keinginan Gen Z. Jika dirancang dengan tepat, fleksibilitas dapat menjadi bagian dari strategi manajemen sumber daya manusia.
Perusahaan saat ini bersaing mendapatkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan dan keterampilan tertentu. Ketika kebutuhan karyawan berubah, perusahaan juga perlu menyesuaikan cara mereka menarik dan mempertahankan talenta.
Selain fleksibilitas, perusahaan tetap perlu memperhatikan kompensasi, kesempatan pengembangan diri, budaya kerja, dan keamanan kerja. Sebab, kebutuhan setiap karyawan tidak hanya satu hal.
Laporan IDN Research Institute juga menunjukkan bahwa Gen Z tidak sekadar mencari fleksibilitas. Makna pekerjaan dan keamanan finansial turut menjadi pertimbangan dalam kehidupan kerja mereka.
Jadi, menawarkan WFH saja belum tentu cukup untuk membuat karyawan bertahan.
Gen Z Membawa Tantangan Sekaligus Peluang
Masuknya semakin banyak Gen Z ke dunia kerja membuat perusahaan perlu memikirkan kembali bagaimana sistem kerja yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Perusahaan tidak harus mengubah seluruh sistem hanya karena mengikuti karakter generasi tertentu. Namun, perusahaan juga tidak bisa mengabaikan perubahan cara generasi muda melihat pekerjaan.
Tantangannya adalah menemukan keseimbangan antara kebutuhan karyawan dan tujuan perusahaan. Fleksibilitas perlu disertai target yang jelas. Kebebasan perlu diikuti tanggung jawab. Dan kepercayaan perlu dibangun melalui kinerja yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, pertanyaan bagi perusahaan bukan hanya apakah mereka mau memberikan kerja fleksibel atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana fleksibilitas tersebut dapat dirancang agar karyawan tetap produktif, perusahaan tetap mencapai target, dan hubungan kerja dapat berjalan secara sehat.
Bagi Gen Z, pekerjaan mungkin tidak lagi hanya tentang “bekerja sebanyak mungkin”. Sementara bagi perusahaan, tantangannya adalah menciptakan lingkungan kerja yang mampu menjawab perubahan tersebut tanpa kehilangan arah bisnis.

