Konten dari Pengguna

Live TikTok Jadi Ladang Cuan: Peluang Bisnis di Balik Tren Live Shopping

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dede Nadia Stevania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Freepik.com

Live TikTok kini tidak hanya menjadi tempat untuk berinteraksi dan menghibur penonton. Melalui live shopping, aktivitas siaran langsung juga berkembang menjadi salah satu peluang bisnis dalam digital marketing. Penjual dan kreator dapat memperkenalkan produk, menjawab pertanyaan calon pembeli, memberikan penawaran, hingga mengarahkan penonton untuk melakukan pembelian dalam satu sesi.

Perubahan ini menunjukkan bahwa media sosial dan aktivitas belanja semakin sulit dipisahkan. Konsumen tidak harus membuka marketplace terlebih dahulu untuk menemukan produk. Mereka dapat mengenal sebuah produk ketika sedang menonton video atau live, kemudian tertarik, mencari informasi, dan akhirnya melakukan transaksi.

Dari Hiburan Menjadi Aktivitas Jual Beli

TikTok pada awalnya dikenal sebagai platform berbagi video pendek. Namun, perkembangannya membuat TikTok tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem social commerce.

Melalui TikTok Shop, penjual dapat memanfaatkan video dan siaran LIVE untuk memperkenalkan produk. Kreator juga dapat berpartisipasi melalui program afiliasi dengan merekomendasikan produk dalam video maupun LIVE. TikTok sendiri menyediakan fitur afiliasi yang memungkinkan kreator menemukan produk untuk dipromosikan dan memperoleh komisi berdasarkan ketentuan program.

Model seperti ini membuat proses pemasaran menjadi lebih interaktif. Konsumen bukan hanya melihat foto produk dan membaca deskripsi, tetapi dapat menyaksikan produk diperagakan secara langsung dan berkomunikasi dengan host.

Mengapa Live TikTok Bisa Menjadi Peluang Bisnis?

Salah satu kekuatan live shopping terletak pada kemampuannya menggabungkan konten, komunikasi, promosi, dan transaksi. Dalam satu sesi, penjual dapat menjelaskan manfaat produk sekaligus menunjukkan cara penggunaannya.

Interaksi secara langsung juga memberikan kesempatan kepada konsumen untuk mengajukan pertanyaan. Misalnya, calon pembeli dapat menanyakan ukuran, bahan, warna, fungsi, ketersediaan stok, atau cara penggunaan produk. Jawaban yang diberikan secara langsung dapat membantu mengurangi keraguan sebelum membeli.

Penelitian mengenai perilaku konsumen pada aktivitas live shopping di TikTok Shop di Indonesia juga menunjukkan bahwa interaksi selama siaran menjadi bagian penting dalam pengalaman konsumen. Penelitian tersebut menggunakan pengguna TikTok Shop di Indonesia sebagai objek penelitian dan dilakukan pada Januari–Maret 2025.

Artinya, kemampuan menjual dalam live bukan hanya bergantung pada produk. Cara host menyampaikan informasi dan membangun komunikasi dengan penonton juga dapat memengaruhi pengalaman belanja.

Affiliate Creator Ikut Membuka Peluang Cuan

Menariknya, seseorang tidak harus memiliki produk sendiri untuk dapat terlibat dalam aktivitas ini. Salah satu peluang yang berkembang adalah affiliate marketing.

Melalui model afiliasi, kreator dapat mempromosikan produk milik seller melalui video atau LIVE. Ketika terjadi transaksi yang memenuhi ketentuan program, kreator dapat memperoleh komisi.

Peran affiliate creator semakin mendapat perhatian dalam ekosistem TikTok Shop dan Tokopedia. Pada Indonesia Summit 2026, keduanya mempertemukan dan memberikan apresiasi kepada seller serta affiliate content creator sebagai bagian dari penguatan ekosistem perdagangan berbasis discovery.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa kreator tidak lagi hanya berperan sebagai pembuat konten. Mereka juga dapat menjadi bagian dari proses pemasaran dan penjualan produk.

Banyak Penonton Belum Tentu Banyak Penjualan

Meski sering disebut sebagai ladang cuan, melakukan live tidak otomatis menghasilkan penjualan tinggi. Jumlah penonton memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Sebuah live dapat memiliki banyak penonton tetapi menghasilkan sedikit transaksi apabila produk tidak sesuai dengan audiens, informasi kurang jelas, atau host tidak mampu membangun kepercayaan.

Karena itu, seller perlu memperhatikan beberapa indikator, seperti jumlah penonton, durasi menonton, interaksi, klik produk, jumlah pesanan, nilai transaksi, hingga tingkat konversi. Data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui apakah aktivitas live benar-benar menghasilkan dampak terhadap penjualan.

Dengan pendekatan tersebut, live shopping tidak hanya dilakukan berdasarkan perkiraan, tetapi dapat dievaluasi sebagai bagian dari strategi digital marketing.

Promo Menarik, tetapi Konsumen Tetap Perlu Kritis

Promo menjadi salah satu daya tarik dalam live shopping. Potongan harga, voucher, bundling, atau penawaran dalam waktu terbatas dapat mendorong konsumen untuk segera melakukan pembelian.

Penelitian mengenai TikTok Live Shopping juga menunjukkan bahwa pengalaman live shopping dan social proof dapat berkaitan dengan perilaku pembelian impulsif konsumen.

Namun, kondisi tersebut juga perlu diperhatikan dari sisi konsumen. Penawaran yang terlihat menarik dapat membuat seseorang membeli barang secara spontan meskipun produk tersebut sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Karena itu, konsumen tetap perlu memeriksa harga akhir, ulasan, reputasi seller, spesifikasi produk, biaya tambahan, dan ketentuan pengembalian sebelum melakukan checkout.

Kepercayaan Menjadi Modal Penting

Dalam live shopping, kepercayaan menjadi salah satu faktor yang tidak kalah penting dibandingkan harga atau promosi.

Konsumen tidak dapat memegang produk secara langsung sehingga informasi yang diberikan seller dan host menjadi salah satu dasar dalam mempertimbangkan pembelian. Cara host menjelaskan produk, menjawab pertanyaan, serta memberikan demonstrasi dapat memengaruhi keyakinan calon pembeli.

Kepercayaan juga dapat terbentuk melalui komentar, ulasan, dan pengalaman konsumen sebelumnya. Semakin banyak informasi yang dapat diverifikasi, semakin mudah konsumen menilai apakah produk dan seller dapat dipercaya.

Karena itu, strategi live shopping yang baik seharusnya tidak hanya mengejar transaksi sebanyak mungkin, tetapi juga menjaga transparansi informasi dan pengalaman konsumen.

Apa yang Membuat Live Menarik?

Keberhasilan sebuah live tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering seseorang melakukan siaran. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, pemilihan produk harus sesuai dengan target audiens. Produk yang relevan akan lebih mudah menarik perhatian calon pembeli.

Kedua, host harus mampu berkomunikasi dengan jelas. Penonton membutuhkan informasi yang mudah dipahami, bukan sekadar promosi berulang.

Ketiga, produk sebaiknya diperlihatkan secara nyata. Demonstrasi dapat membantu calon pembeli memahami bentuk, ukuran, fungsi, atau cara penggunaan produk.

Keempat, interaksi perlu dijaga. Membaca komentar dan menjawab pertanyaan membuat live terasa lebih personal.

Kelima, promosi harus disampaikan secara transparan. Konsumen perlu mengetahui harga dan mekanisme promo dengan jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

TikTok dan Perubahan Strategi Digital Marketing

Perkembangan live shopping memperlihatkan adanya perubahan dalam cara brand menjangkau konsumen. Jika sebelumnya pemasaran digital banyak mengandalkan iklan untuk mengarahkan konsumen ke marketplace, kini produk dapat ditemukan melalui konten dan interaksi sosial.

Sebuah artikel mengenai perkembangan TikTok Shop dan live commerce di Indonesia pada 2026 menjelaskan bahwa pengguna dapat menonton video, mengikuti live streaming, dan melakukan aktivitas belanja dalam ekosistem yang semakin terintegrasi.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa TikTok Shop memiliki pengaruh terhadap perilaku dan keputusan pembelian, terutama melalui interaksi sosial dalam ekosistem social commerce.

Perubahan tersebut membuat strategi digital marketing perlu beradaptasi. Brand tidak cukup hanya memiliki produk dan iklan. Mereka perlu membuat konten yang menarik, memilih kreator yang sesuai, membangun interaksi, serta memahami data dari aktivitas pemasaran yang dilakukan.

Bukan Cuma Soal Cuan

Istilah “ladang cuan” dalam konteks live TikTok sebaiknya tidak dipahami sebagai cara mendapatkan uang secara instan. Di balik live yang terlihat sederhana, terdapat proses pemasaran yang membutuhkan persiapan.

Seller perlu menentukan produk, memahami target pasar, menyiapkan materi, memilih waktu yang sesuai, menentukan penawaran, serta mengevaluasi hasilnya. Sementara kreator perlu membangun audiens dan menjaga kepercayaan agar rekomendasi produk tetap memiliki nilai bagi pengikutnya.

Dengan demikian, penghasilan dari live atau affiliate sangat bergantung pada berbagai faktor, seperti produk, audiens, kemampuan komunikasi, jumlah transaksi, dan ketentuan komisi. Tidak semua aktivitas live akan menghasilkan pendapatan yang sama.

Pada akhirnya, layar ponsel tidak lagi hanya menjadi tempat untuk menonton. Melalui live shopping, layar tersebut dapat berubah menjadi etalase digital, ruang promosi, sekaligus tempat terjadinya transaksi.