Konten dari Pengguna

Niatnya Healing, Kok Malah Boros? Mengungkap Perilaku Konsumtif di Balik Tren Nongkrong Gen Z

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dede Nadia Stevania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Freepik.com

Gen Z semakin akrab dengan tren nongkrong di coffee shop, kafe, maupun tempat makan yang menawarkan suasana nyaman dan menarik. Aktivitas ini sering dilakukan untuk melepas penat setelah kuliah atau bekerja, bertemu teman, hingga mencari suasana baru. Namun, niat awal untuk sekadar healing terkadang berakhir dengan pengeluaran yang lebih besar dari rencana. Fenomena ini menarik untuk dibahas dalam perilaku konsumen karena keputusan membeli tidak selalu didasarkan pada kebutuhan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh gaya hidup, lingkungan pertemanan, dan pengalaman yang ingin dirasakan.

Nongkrong Bukan Sekadar Minum Kopi

Bagi sebagian anak muda, nongkrong di coffee shop bukan hanya tentang membeli kopi atau makanan. Tempat tersebut juga menjadi ruang untuk bersosialisasi, mengerjakan tugas, berdiskusi, atau menikmati waktu sendiri.

Suasana tempat, desain interior, musik, pelayanan, hingga keberadaan teman dapat memengaruhi pengalaman konsumen. Tidak sedikit orang yang memilih suatu kafe bukan semata-mata karena produknya, tetapi juga karena suasana yang ditawarkan.

Penelitian berjudul Fenomena Ngopi di Coffee Shop Pada Gen Z yang diterbitkan dalam jurnal Social Science Academic pada 2023 mengkaji kebiasaan Gen Z di Kota Tangerang. Penelitian tersebut menemukan bahwa aktivitas ngopi di coffee shop memiliki beragam makna, mulai dari mencari ketenangan dan hiburan, membangun hubungan sosial, hingga memperoleh pengalaman yang menyenangkan dan nilai prestise.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas nongkrong dapat memiliki nilai sosial dan emosional bagi konsumen. Artinya, konsumen tidak hanya membayar produk yang dikonsumsi, tetapi juga pengalaman yang diperoleh selama berada di tempat tersebut.

Mengapa Nongkrong Bisa Membuat Pengeluaran Membesar?

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa aktivitas nongkrong terkadang membuat seseorang mengeluarkan uang lebih banyak dari rencana awal.

Pertama, pengaruh lingkungan pertemanan. Ketika teman-teman memilih tempat yang memiliki harga relatif tinggi, seseorang mungkin ikut menyesuaikan pilihannya agar tetap bisa menikmati kegiatan bersama. Dalam perilaku konsumen, hal ini berkaitan dengan kelompok referensi, yaitu kelompok yang dapat memengaruhi sikap dan keputusan seseorang.

Kedua, gaya hidup. Jika nongkrong sudah menjadi bagian dari rutinitas, pengeluaran untuk kopi, makanan, transportasi, dan aktivitas lainnya dapat terjadi berulang kali. Pengeluaran yang terlihat kecil dalam satu kesempatan bisa menjadi cukup besar apabila dilakukan terlalu sering.

Ketiga, pengalaman dan suasana tempat. Konsumen mungkin bersedia membayar lebih untuk tempat yang nyaman, memiliki desain menarik, atau menyediakan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhannya. Dalam kondisi ini, keputusan membeli tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga manfaat yang dirasakan.

Keempat, pengaruh media sosial. Konten mengenai kafe yang sedang populer dapat mendorong konsumen untuk datang dan mencoba produk tertentu. Ketika tempat tersebut ramai dibicarakan, muncul ketertarikan untuk merasakan pengalaman yang sama.

Namun, faktor-faktor tersebut tidak selalu membuat konsumen menjadi boros. Pengeluaran tetap bergantung pada kebutuhan, preferensi, dan kemampuan keuangan masing-masing individu.

Dari Healing Menjadi Perilaku Konsumtif

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah healing sering digunakan untuk menggambarkan aktivitas yang dilakukan guna mengurangi rasa lelah atau mencari suasana baru. Nongkrong dapat menjadi salah satu bentuk aktivitas tersebut.

Masalahnya muncul ketika keinginan untuk memperoleh pengalaman menyenangkan membuat konsumen mengabaikan batas pengeluaran. Misalnya, seseorang awalnya hanya berencana membeli satu minuman, tetapi akhirnya memesan makanan tambahan karena melihat menu yang menarik. Setelah itu, ia juga membeli produk lain karena mengikuti pilihan teman.

Jika perilaku tersebut terjadi berulang kali tanpa mempertimbangkan anggaran, pengeluaran dapat menjadi tidak terkendali.

Dalam kajian perilaku konsumen, kondisi ini dapat berkaitan dengan perilaku konsumtif, yaitu kecenderungan melakukan konsumsi secara berlebihan atau lebih mengutamakan keinginan dibandingkan kebutuhan. Meski demikian, sering nongkrong tidak otomatis berarti seseorang konsumtif. Penilaian perlu melihat alasan pembelian, frekuensi, dan dampaknya terhadap kondisi keuangan.

Media Sosial dan Keinginan Mengikuti Tren

Media sosial turut membentuk cara konsumen mengenal dan memilih tempat nongkrong. Foto minuman, suasana kafe, serta rekomendasi kreator konten dapat membuat suatu tempat terlihat menarik.

Ketika sebuah kafe sering muncul di beranda, konsumen mungkin merasa penasaran dan ingin mengunjunginya. Apalagi jika tempat tersebut dianggap sedang populer di kalangan teman atau komunitasnya.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Hospitality dan Pariwisata pada 2026 membahas pembentukan identitas sosial Gen Z melalui kebiasaan nongkrong di coffee shop di Tangerang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa coffee shop dapat dimaknai sebagai ruang produktif, kreatif, dan representatif bagi gaya hidup modern. Aktivitas nongkrong juga berkaitan dengan rasa nyaman, penerimaan sosial, dan ekspresi diri melalui pilihan tempat, minuman, penampilan, serta dokumentasi di media sosial.

Penelitian tersebut menggunakan wawancara terhadap lima informan, sehingga hasilnya memberikan gambaran mendalam mengenai pengalaman mereka, bukan ukuran perilaku seluruh Gen Z.

Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi dapat memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar membeli produk. Dalam beberapa situasi, konsumen juga ingin membangun identitas, menunjukkan preferensi, atau merasa menjadi bagian dari lingkungan sosial tertentu.

Apakah Nongkrong Selalu Berarti Boros?

Tidak selalu. Nongkrong dapat menjadi kegiatan yang bermanfaat ketika dilakukan sesuai kebutuhan dan kemampuan keuangan.

Seseorang yang datang ke coffee shop untuk mengerjakan tugas, berdiskusi, atau bertemu teman mungkin memang membutuhkan tempat yang nyaman. Dalam situasi tersebut, pengeluaran yang dilakukan dapat menjadi bagian dari kebutuhan aktivitasnya.

Sebaliknya, apabila seseorang terus mengunjungi tempat mahal hanya karena ingin mengikuti tren, sementara pengeluaran tersebut mengganggu kebutuhan utama, kebiasaan itu perlu dievaluasi.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa perilaku konsumen tidak dapat dinilai hanya dari jenis produk atau tempat yang dikunjungi. Hal yang lebih penting adalah alasan di balik keputusan pembelian dan bagaimana konsumen mengelola pengeluarannya.

Cara Menikmati Nongkrong Tanpa Mengabaikan Keuangan

Nongkrong tetap bisa menjadi aktivitas menyenangkan tanpa harus membuat pengeluaran berlebihan. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.

Pertama, tentukan anggaran khusus untuk hiburan atau nongkrong. Dengan begitu, konsumen memiliki batas pengeluaran yang jelas.

Kedua, pilih tempat sesuai kemampuan keuangan. Tidak semua kegiatan bersama teman harus dilakukan di kafe dengan harga tinggi. Tempat yang lebih sederhana tetap dapat memberikan pengalaman sosial yang menyenangkan.

Ketiga, perhatikan kebutuhan sebelum memesan. Jika tujuan utama hanya bertemu teman atau mengerjakan tugas, konsumen tidak harus membeli banyak produk.

Keempat, jangan menjadikan media sosial sebagai satu-satunya acuan dalam memilih tempat. Tempat yang sedang viral belum tentu paling sesuai dengan kebutuhan atau anggaran.

Terakhir, evaluasi pengeluaran secara berkala. Dengan mencatat pengeluaran untuk nongkrong, konsumen dapat mengetahui apakah kebiasaan tersebut masih sesuai dengan kondisi keuangannya.

Memahami Perilaku Konsumen di Balik Tren Nongkrong

Tren nongkrong Gen Z menunjukkan bahwa keputusan konsumsi tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan terhadap produk. Gaya hidup, pengalaman, pengaruh teman, dan media sosial juga dapat membentuk pilihan konsumen.

Coffee shop dapat menjadi ruang untuk mencari hiburan, membangun hubungan sosial, dan mengekspresikan diri. Namun, ketika keinginan mengikuti tren lebih dominan daripada pertimbangan kebutuhan dan kemampuan keuangan, pengeluaran dapat menjadi berlebihan.

Dari perspektif Perilaku Konsumen, fenomena ini memperlihatkan pentingnya memahami motivasi di balik keputusan pembelian. Konsumen tidak hanya membeli kopi atau makanan, tetapi juga pengalaman dan nilai sosial yang melekat pada aktivitas tersebut.

Pada akhirnya, healing tidak harus selalu mahal. Menikmati waktu bersama teman tetap dapat dilakukan dengan cara yang sesuai kebutuhan dan kemampuan keuangan. Hal terpenting adalah memahami alasan di balik setiap keputusan konsumsi agar aktivitas yang bertujuan menyegarkan pikiran tidak justru menambah beban pengeluaran.