Konten dari Pengguna

Dunia Prahardi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarah Putri Romansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi

“Dia orang yang sama. Orang yang nyawamu kau hutangkan padanya, bahkan sebelum kau menghirup udara untuk pertama kalinya, Lyn.”

Senyum Lyn mengembang pahit. Kata-kata ayahnya menusuk seperti jarum di balik senja Jakarta yang muram. Ia memutar wajah, menyembunyikan air mata yang menggantung malu.

“Aku bahkan belum punya napas waktu itu, Yah. Hutang apa yang bisa dibuat oleh jiwa yang bahkan belum punya bentuk?”

Ayahnya terdiam. Di antara mereka, hanya suara kipas tua dan bunyi notifikasi dari ponsel Lyn yang terus menyala—entah dari komentar netizen atau tawaran endorsement yang tak henti.

Tapi hari itu, untuk pertama kalinya, Lyn tak membuka Instagram. Ia tak peduli pada angka like. Ia bahkan tak peduli bahwa wajahnya—yang biasa menghias billboard skincare itu—terlihat begitu kusut di cermin.

Karena sore ini, ia harus menemui lelaki itu.

Prahardi.

Lelaki yang namanya dulu hanya muncul sebagai legenda di majalah seni. Pelukis muda jenius yang karyanya pernah terjual miliaran di Swiss, namun hilang dari dunia sejak usia 24. Dan kini, kembali dalam hidup Lyn sebagai... hutang jiwa.

Prahardi tinggal di paviliun kecil belakang rumah sakit jiwa swasta. Bukan pasien biasa. Ia tak mengamuk, tak mengancam, tak bicara sendiri seperti kebanyakan gambaran skizofrenia yang ada di kepala Lyn. Tapi matanya... matanya seperti lukisan abstrak: indah, tapi tak bisa kau pahami.

Ketika Lyn masuk, lelaki itu sedang melukis. Latar putih. Sebentuk bayangan hitam di tengah kanvas.

“Siapa itu?” tanya Lyn pelan.

Prahardi tak langsung menjawab. Tapi ia berhenti melukis, lalu menoleh padanya.

Untuk sesaat, Lyn nyaris melangkah mundur.

Bukan karena takut. Tapi karena sesuatu di dalam mata lelaki itu—entah kenapa—seperti sudah mengenalnya. Seperti... ia pernah tinggal di situ.

“Itu kau,” ucap Prahardi. Suaranya rendah, parau. “Tapi ini bukan kau hari ini. Ini kau yang belum lahir. Waktu itu, ibumu memohon agar aku menyelamatkannya... jadi aku menyerahkan tubuhku untuk disiksa. Tapi bukan tubuh yang hancur. Yang hancur adalah... dunia di kepala ini.”

Lyn membeku.

Semua yang dulu terdengar seperti dongeng gila—cerita penculikan, tawar-menawar dengan nyawa, keputusan impulsif seorang anak muda demi menyelamatkan perempuan hamil yang bukan siapa-siapanya—kini hadir di hadapannya dalam bentuk seorang lelaki rusak.

Rusak, tapi hidup.

Dan hidupnya seolah tak pernah selesai.

Seperti lukisan itu.

“Kenapa kau terus melukis aku?” tanya Lyn, menahan suara bergetar.

Prahardi tersenyum tipis, lalu menjawab dengan kalimat yang membuat Lyn tak bisa lagi membedakan antara beban dan takdir:

“Karena kau satu-satunya alasan aku belum mati.”

bersambung pada https://www.wattpad.com/story/398431464?utm_source=android&utm_medium=whatsapp&utm_content=share_reading&wp_page=reading&wp_uname=whi_teblue