Konten dari Pengguna

Diplomasi Sopir Truk

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fajar Supriyatna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Generated by AI

Di jalan raya, kita bisa memperoleh nasihat dari orang yang tidak kita kenal, tidak kita pilih, dan bahkan tidak kita lihat wajahnya. Orang itu berada di depan, di balik kemudi. Nasihatnya berada di belakang, di bak truk. Sebuah pembagian tugas yang praktis: sopir mengurus jalan, bak mengurus perasaan.

“Berat Muatanku Tak Seberat Rinduku Padamu”

Kalimat itu terdengar seperti keluhan asmara, tetapi mengapa rindu harus dibandingkan dengan muatan? Barangkali karena timbangan lebih mudah ditemukan daripada kepastian. Pasir bisa ditimbang tapi kesetiaan belum tentu memiliki jembatan timbang, yang pada akhirnya membuat banyak orang kelebihan beban.

Kita tersenyum, truk berjalan, beberapa saat kemudian kita mendahuluinya, membawa pulang kelakarnya tanpa perlu ikut mengangkut bebannya.

Saya ingin menyebutnya diplomasi sopir truk. Istilah ini tentu tidak memerlukan pengesahan dari lembaga tertentu. Cukuplah dipakai untuk memahami cara seseorang menyampaikan sesuatu yang berat dengan bahasa yang masih memungkinkan orang lain tertawa. Ada keluhan, ada harga diri, ada keinginan dimengerti. Semuanya harus muat di bidang yang juga membutuhkan tempat bagi lampu rem.

Diplomasi semacam ini mengenal keterbatasan ruang. Kalau terlalu panjang, pembacanya sudah keburu mengambil jalur kanan. Karena itu, ia mesti singkat. Kita yang biasa menulis panjang-panjang patut merasa sedikit tersinggung. Rupanya tidak semua persoalan membutuhkan pendahuluan, landasan pemikiran dan rapat penyamaan persepsi. Sebagian terkadang cukup ditulis dengan cat.

Tentu, tulisan tersebut belum tentu karangan sopirnya. Bisa gagasan pemilik kendaraan, bisa kreativitas pelukis, bisa pula kalimat yang sudah beredar ke mana-mana. Jangan buru-buru memberikan gelar penyair kepada orang yang sedang berkonsentrasi menghindari lubang, karena jalan yang mulus lebih dibutuhkan olehnya.

Namun, siapa pun pembuatnya, pertemuan antara kata dan kendaraan itu menarik. Sebuah truk mengangkut kebutuhan orang banyak, sementara kalimat di belakangnya membawa urusan yang sangat pribadi: rindu, kecewa, nafkah dan doa. Barang menuju alamat penerima. Perasaan belum tentu mempunyai alamat yang bersedia menerima.

Di situlah kelakar memperoleh fungsi sosialnya. Mengeluh secara langsung kadang membuat seseorang lekas mendapat nasihat. Belum selesai bercerita, ia sudah dianjurkan bersyukur. Dengan bercanda, setidaknya ia mendapat kesempatan menuntaskan kalimat. Orang tertawa lebih dulu, lalu mungkin menyadari bahwa yang ditertawakan juga terdapat dalam hidupnya sendiri.

Bayangkan seorang pekerja yang pulang membawa kelelahan, sementara kebutuhan rumah tangga sudah menunggunya dalam keadaan segar. Uang belanja, biaya pendidikan, cicilan motor, semuanya tampak cukup istirahat, hanya pencari uangnya yang sudah mengantuk. Dalam keadaan demikian, kelakar memberi sedikit ruang bernapas. Persoalannya belum selesai, tetapi orang itu masih bisa berbicara sebagai manusia yang memiliki akal dan kehendak.

Keresahan tentang nafkah mempunyai konteks yang nyata. Dalam Labor Market Brief Juni 2026, Dewan Ekonomi Nasional mencatat tekanan pemutusan hubungan kerja serta indikasi terbatasnya penyerapan kembali pekerja yang kehilangan pekerjaan. Catatan itu bukan gambaran khusus kehidupan sopir truk. Ia memperlihatkan latar yang lebih luas: memperoleh pekerjaan dan menjaga penghasilan tetap menjadi perkara yang tidak sederhana.

Bahasa laporan tentu berbeda dengan bahasa bak truk. Laporan memerlukan kategori, periode, dan penjelasan metodologi. Kehidupan sehari-hari menagih keputusan: pengeluaran mana yang didahulukan, kebutuhan siapa yang ditunda. Keduanya perlu dipertemukan agar pembicaraan tentang tenaga kerja tetap mengenali orang yang sedang bekerja.

Kini kelakar semacam itu juga memperoleh kendaraan tambahan: telepon genggam. Foto bak truk dapat beredar jauh melampaui rute truknya. Kendaraannya masih mencari tempat bongkar muat, kalimatnya sudah sampai ke grup percakapan. Teknologi memang mampu mempercepat perjalanan pesan. Urusan mempercepat pembayaran adalah bidang lain.

Di media sosial, keluhan tentang gaji, pekerjaan, dan cicilan juga mudah mengambil bentuk lelucon. Kita bisa membacanya sebagai usaha mencari teman senasib. Mengakui kesulitan terasa sedikit lebih ringan ketika ada orang lain yang menjawab dengan tawa yang mengandung pengertian.

Tetapi di sana pula keluhan bisa kehilangan pemiliknya. Kita menyimpan gambarnya, meneruskan pesannya, menambahkan tanda tertawa, selesai. Pengalaman seseorang telah memberikan hiburan kepada banyak orang, sementara orang itu tetap harus menyelesaikan kesulitannya sendiri. Kita mengenal kalimatnya lebih baik daripada keadaan yang melahirkannya.

Karena itu, pujian kepada kreativitas rakyat perlu dijaga agar tidak berubah menjadi kekaguman terhadap penderitaan. Orang yang masih bisa melucu saat kesusahan memang mengagumkan. Namun, kesusahannya tidak otomatis patut dipertahankan supaya persediaan humor nasional tetap aman.

Kelakar pun tidak semuanya layak dibela. Ada tulisan yang menjadikan perempuan sasaran olok-olok atau mengulang prasangka yang merendahkan. Cat berwarna cerah tidak membuat penghinaan menjadi lebih sopan. Kita dapat menghargai kebebasan berekspresi sekaligus menilai apa yang diekspresikan. Sopir, seperti penulis kolom dan pejabat, tidak memperoleh kekebalan hanya karena berhasil membuat orang tertawa.

Yang layak dipelajari dari diplomasi ini ialah kemampuannya mendekatkan pengalaman kepada orang lain. Komunikasi publik sering menginginkan kedekatan yang sama. Bahasa dibuat santai, sapaan dibuat akrab. Itu berguna, selama keakraban tidak berhenti pada urusan menyapa.

Untuk pekerja angkutan, misalnya, percakapan dapat dimulai dari perkara yang konkret: berapa lama menunggu bongkar muat, kapan bisa beristirahat, kepada siapa keluhan disampaikan. Pengelola angkutan dan tempat bongkar muat dapat menyepakati pencatatan waktu tunggu serta jalur pengaduan dengan penanggung jawab yang jelas. Pemerintah dapat mempertemukan pihak-pihak itu dan menilai tindak lanjutnya. Kesepakatan tentu harus memperhitungkan keadaan operasional, tetapi sekurangnya keluhan tidak disuruh berputar tanpa alamat.

Mendengar dengan cara demikian membutuhkan kesabaran yang lebih panjang daripada membaca tulisan di bak truk. Ada penjelasan yang tidak lucu. Ada persoalan yang tidak selesai dengan balasan ramah. Di situlah perhatian diuji: apakah kita tetap bersedia mendengar ketika orang tersebut tidak sedang menghibur kita?

Pada akhirnya, sopir harus memperhatikan jalan di depan. Kita yang berada di belakang sempat membaca kelakarnya. Hubungan itu singkat, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa barang-barang yang tiba dalam kehidupan kita dibawa oleh manusia dengan kebutuhan hidupnya sendiri.

Ketika truk itu menepi, mungkin sopirnya turun untuk makan di warung, namun di warung tersebut, ia tidak bisa membayar nasi dengan kalimat yang tadi membuat kita tertawa.