Kenapa Perusahaan Sering Kewalahan Soal Karyawan? Mungkin Ini yang Terlewat

Mahasiswa universitas pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari BINTANG PRAWIRO ROMADHONY tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah dengar cerita kantor yang tiba-tiba keteteran karena tiga orang resign di bulan yang sama? Atau sebaliknya, kantor yang karyawannya banyak, tapi separuhnya kelihatan tidak punya kerjaan?
Dua-duanya sering berakar dari hal yang sama: perusahaan tidak punya rencana soal orang-orangnya.
Bukan Cuma Urusan Rekrut-Merekrut
Banyak yang mengira urusan SDM itu hanya soal buka lowongan, wawancara, lalu selesai. Padahal ada satu tahap sebelum itu yang jauh lebih penting, yaitu perencanaan SDM. Sederhananya, ini soal menjawab pertanyaan: setahun ke depan, perusahaan butuh berapa orang, dengan kemampuan seperti apa?Contohnya begini. Sebuah toko roti berencana buka cabang baru di awal tahun. Kalau baru sibuk cari karyawan seminggu sebelum buka, hasilnya bisa ditebak: orang seadanya, belum terlatih, dan pelayanan berantakan di hari-hari pertama. Kalau dari tiga bulan sebelumnya sudah dihitung butuh berapa kasir, berapa tukang roti, dan siapa dari cabang lama yang bisa dipindah untuk jadi penanggung jawab, pembukaannya jauh lebih tenang.
Hitung Dulu, Baru Gerak
Biasanya perusahaan mulai dari melihat kondisi yang ada: berapa jumlah karyawan sekarang, siapa mengerjakan apa, dan bagian mana yang beban kerjanya sudah terlalu berat. Dari situ baru dihitung kebutuhan ke depan, dengan mempertimbangkan rencana bisnis, karyawan yang kemungkinan keluar, sampai yang sebentar lagi pensiun. Kalau ada selisih antara yang dimiliki dan yang dibutuhkan, di situlah rencana aksi disusun. Bisa dengan merekrut orang baru, melatih karyawan lama supaya punya keahlian tambahan, atau memindahkan orang ke posisi yang lebih cocok. Dan karena situasi bisnis cepat berubah, rencana ini perlu dicek ulang secara berkala, bukan disusun sekali lalu disimpan di laci.
Manfaatnya Terasa ke Semua Pihak
Buat perusahaan, biaya jadi lebih terkontrol. Tidak ada gaji yang terbuang untuk posisi yang sebenarnya tidak dibutuhkan, dan tidak ada tim yang kelelahan karena kekurangan orang. Buat karyawan, jalur kariernya lebih jelas. Mereka tahu kalau mau naik posisi, kemampuan apa yang perlu dikejar. Perusahaan juga jadi punya calon pengganti kalau posisi penting tiba-tiba kosong, jadi tidak panik cari orang dadakan.
Tapi Tidak Selalu Mulus
Jujur saja, di lapangan hal ini sering terhambat. Prediksi bisa meleset karena kondisi ekonomi berubah mendadak. Data karyawan kadang berantakan atau tidak diperbarui. Yang paling sering, bagian SDM baru dilibatkan setelah keputusan bisnis diambil, padahal seharusnya mereka ikut duduk sejak awal. Perusahaan yang mau berkembang perlu menganggap SDM sebagai bagian dari strategi, bukan sekadar bagian administrasi. Karena sebagus apa pun rencana bisnisnya, yang menjalankannya tetap orang-orangnya.
