Konten dari Pengguna

Menolak Standar Kecantikan: Alasan Sosiologis Perempuan Selalu Merasa Kurang

Shyva Dewi Rizkya

Shyva Dewi Rizkya

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shyva Dewi Rizkya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan yang tertekan akibat standar kecantikan di media sosial. Foto: Generative AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan yang tertekan akibat standar kecantikan di media sosial. Foto: Generative AI

Coba kamu buka TikTok sekarang dan scroll sebentar. Dalam hitungan menit, kita disuguhi wajah mulus dan tubuh sempurna yang mengonstruksi standar kecantikan tidak realistis. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan tekanan sistemik yang diam-diam memicu krisis kesehatan mental pada mayoritas remaja perempuan di Indonesia.

Survei I-NAMHS dari Universitas Gadjah Mada mencatat bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental, dan gangguan kecemasan menjadi yang paling banyak dilaporkan. Tekanan soal penampilan adalah salah satu faktor yang terus muncul dalam berbagai penelitian sebagai pemicunya.

Yang menarik sekaligus memprihatinkan: sebagian besar perempuan yang merasakannya tidak pernah ngomong apa-apa.

Semua Merasakannya, Tapi Kenapa Diam Soal Standar Kecantikan?

Kalau kamu tanya satu per satu, banyak perempuan yang sebetulnya sadar bahwa standar kecantikan yang ada itu tidak realistis. Mereka tahu kulit manusia tidak selalu mulus. Mereka tahu tubuh orang berbeda-beda. Tapi mereka tidak bilang apa-apa.

Kenapa? Karena lingkungan sosial secara tidak langsung kasih sinyal bahwa mempersoalkan standar kecantikan itu aneh, terlalu sensitif, atau lebay. Jadi semua orang diam.

Dan karena semua diam, standar itu terasa seperti sesuatu yang memang sudah disepakati semua orang. Padahal tidak. Ini yang dalam ilmu komunikasi disebut Spiral of Silence, yaitu kondisi di mana keheningan kolektif membuat satu pandangan tertentu terasa seperti suara mayoritas, meskipun kenyataannya banyak yang tidak setuju.

Semakin sedikit yang bersuara, semakin kuat tekanannya. Dan tekanan itu akhirnya ditanggung sendiri-sendiri, dalam diam.

Standar Cantik Itu Bukan Tumbuh Sendiri, Dia Dibentuk

Dari mana datangnya ide bahwa kulit cerah itu identik dengan kepercayaan diri? Atau bahwa perempuan yang berhasil dan dicintai selalu berbadan langsing?

Itu bukan sesuatu yang muncul dari dalam diri kita sendiri. Itu dibentuk oleh konten yang kita konsumsi setiap hari. Dan penelitian dari Universitas Jenderal Soedirman (Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, 2025) membuktikannya secara konkret: dari 51 video endorsement produk kecantikan di TikTok Indonesia yang diteliti, 90,2 persen influencer yang muncul memiliki kulit kuning langsat. Hanya satu tipe tampilan yang mendominasi dan itu terus-menerus dilihat oleh jutaan perempuan Indonesia setiap harinya.

Teori Framing dari Robert Entman (1993) menjelaskan bahwa media tidak cuma menyampaikan informasi, tapi juga memilih cara tertentu untuk menyajikannya. Ketika yang muncul di konten kecantikan selalu wajah dan tubuh dengan tipe tertentu, otak kita perlahan menganggap itu sebagai standar yang wajar. Padahal itu adalah konstruksi, bukan realita.

Dan konstruksi itu menguntungkan banyak pihak. Industri kecantikan tumbuh di atas rasa tidak percaya diri yang terus dipelihara.

Tidak ada satu pun konten yang langsung bilang kamu tidak cantik. Tapi akumulasi dari ribuan konten itu perlahan membuat kamu merasa kamu adalah pengecualian dari kata normal.

Otak Kita Mulai Percaya Apa yang Terus Dilihat

Indonesia adalah negara dengan pengguna TikTok terbesar di dunia, mencapai 157,6 juta pengguna per Juli 2024 menurut data Statista. Mayoritas penggunanya berusia di bawah 34 tahun dan rata-rata menghabiskan 3,5 jam per hari di platform tersebut.

Bayangkan apa yang dilihat oleh jutaan perempuan muda Indonesia dalam 3,5 jam itu. Ratusan konten kecantikan, review skincare, tutorial makeup, dan video transformasi yang hampir semuanya menampilkan satu tipe penampilan yang sama. Sebagian besar sudah difilter dan diedit, tapi otak kita tidak selalu menyadari itu.

George Gerbner dan Larry Gross (1976) menemukan bahwa paparan media yang berulang-ulang membuat orang lama-lama menganggap isi media sebagai gambaran dunia yang nyata. Prinsip yang sama bekerja di sini. Semakin sering perempuan Indonesia melihat satu tipe tampilan yang sama, semakin besar kemungkinan mereka menganggap itu sebagai standar normal. Dan ketika mereka bercermin dan tidak melihat hal yang sama, muncul perasaan tidak cukup yang susah dijelaskan tapi sangat nyata dirasakan.

Industri kecantikan tumbuh di atas rasa tidak percaya diri yang terus dipelihara. Kamu tidak kurang, standar mereka yang tidak masuk akal.

Terus Harus Ngapain?

Solusinya bukan uninstall TikTok atau berhenti peduli dengan penampilan sama sekali. Tapi ada beberapa hal konkret yang bisa mulai dilakukan.

Pertama, buat ruang untuk jujur. Kalau spiral keheningan terjadi karena tidak ada yang berani bicara duluan, maka memutus lingkaran itu dimulai dari satu orang yang berani jujur soal ketidaknyamanannya. Di grup teman, di keluarga, atau bahkan di kolom komentar. Ketika satu orang bersuara, yang lain jadi tahu mereka tidak sendirian.

Kedua, lebih kritis terhadap konten yang dikonsumsi. Bukan berarti harus curiga terhadap semua konten, tapi cukup untuk selalu ingat bahwa apa yang kelihatan di layar bukan gambaran dunia yang sesungguhnya. Filter, editing, dan pencahayaan bisa mengubah penampilan siapa pun secara drastis.

Ketiga, tanggung jawab bukan cuma ada di pundak individu. Kreator konten, brand, dan platform punya peran besar dalam membentuk standar yang selama ini berlaku. Dan mereka juga punya tanggung jawab untuk menghadirkan gambaran yang lebih beragam dan lebih jujur. Penelitian dari Unsoed sudah membuktikan bahwa yang tampil di TikTok Indonesia hampir seragam. Ini bukan situasi yang tidak bisa diubah.

Ini Bukan Masalah Pribadi

Tekanan standar kecantikan bekerja secara berlapis. Banyak yang diam padahal tidak setuju karena takut dianggap berbeda. Media terus membingkai satu tipe kecantikan seolah-olah itu satu-satunya yang dianggap layak. Dan paparan yang terus-menerus membuat gambaran yang tidak realistis terasa seperti normal.

Data dari Indonesia sendiri sudah cukup bicara: jutaan remaja perempuan kita bermasalah dengan kesehatan mental, dan hampir tidak ada yang mengakses bantuan. Konten kecantikan yang mendominasi layar mereka hampir seragam. Dan mereka menghabiskan berjam-jam sehari di platform itu.

Ini bukan masalah yang cukup diselesaikan dengan nasihat untuk lebih bersyukur atau mencintai diri sendiri. Ini masalah yang butuh perubahan sistemik. Dari cara media menyajikan kecantikan, dari cara platform mengelola algoritmanya, dan dari cara kita sebagai masyarakat mulai berani bicara soal tekanan yang selama ini dianggap wajar.