Konten dari Pengguna

Pancasila: Hafal Pancasila, Tapi Sudahkah Kita Menjalaninya?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari annisa nur falah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dibuat oleh penulis menggunakan Canva
zoom-in-whitePerbesar
Dibuat oleh penulis menggunakan Canva

Hampir semua orang Indonesia bisa menyebutkan lima sila Pancasila tanpa berpikir panjang. Sejak SD, kita diajari berdiri di lapangan dengan tangan hormat, mengikuti suara pembina upacara. Saat ujian PPKn, pertanyaannya biasanya sederhana: "Sila ketiga berbunyi apa?" Jika jawabannya benar, nilai bagus, lalu pelajaran pun sering dianggap selesai.

Masalahnya bukan pada Pancasila itu sendiri, melainkan pada cara kita mempelajarinya. Kita memperlakukannya seperti sesuatu yang cukup dihafalkan, tetapi jarang benar-benar diterapkan. Padahal, Pancasila lahir untuk menjawab persoalan nyata: bagaimana orang yang berbeda agama, suku, dan pilihan dapat hidup bersama dalam satu negara?

Antara Bunyi Sila dan Kenyataan

Kesenjangan itu mudah terlihat dalam keseharian.

Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan nilai Pancasila masih menjadi tantangan. Misalnya, toleransi antarumat beragama masih perlu terus dijaga. Di media sosial, perbedaan pendapat juga sering berubah menjadi saling menyerang.

Meski begitu, gambaran ini tidak sepenuhnya suram. Nilai-nilai itu masih hidup di banyak tempat: warga yang bergotong royong membangun jalan kampung atau membantu tetangga yang tertimpa musibah, umat yang saling menjaga saat hari raya agama lain, dan komunitas yang bergerak cepat menolong korban bencana tanpa bertanya siapa mereka. Artinya, Pancasila bukan tidak bisa dijalankan. Tetapi hanya belum menjadi kebiasaan yang merata.

Belajar dari Teladan, Bukan dari Hafalan

Tidak adil jika semua kesalahan dilimpahkan ke sekolah. Namun sekolah adalah tempat pertama kita mengenal Pancasila, sehingga cara mengajarkannya perlu berubah.

Anak tidak belajar keadilan dari menghafal bunyi sila kelima. Ia belajar ketika guru membagi jadwal piket secara adil dan mau mendengar keluhan kecil. Ia belajar musyawarah ketika diberi kesempatan ikut menentukan aturan kelas. Ia belajar gotong royong ketika membersihkan kelas bersama, bukan ketika menulis definisinya di buku.

Yang paling menentukan adalah teladan orang dewasa. Percuma mengajarkan sila kedua jika anak melihat orang tuanya memaki pengendara lain di jalan. Percuma berbicara tentang persatuan jika guru membeda-bedakan muridnya.

Ketika Nilai Disampaikan dengan Cara yang Salah

Sebagian generasi muda merasa kurang nyaman dengan kata “Pancasila", dan itu tidak sepenuhnya salah mereka. Sebagian generasi muda mungkin merasa kurang dekat dengan pembahasan Pancasila. Salah satu tantangannya adalah cara penyampaian yang terkadang terlalu kaku dan menggurui. Ketika nilai Pancasila hanya disampaikan sebagai hafalan, anak muda bisa merasakan bahwa Pancasila jauh dari kehidupan sehari-hari. Yang mereka tolak sering kali bukan isinya, melainkan cara penyampaiannya.

Di sinilah letak persoalannya: cara yang kaku membuat Pancasila berhenti sebagai hafalan dan slogan. Anak muda akan lebih mudah menerimanya jika nilai itu hadir lewat percakapan yang setara, contoh nyata, dan kesempatan untuk mempraktikkannya sendiri.

Mulai dari Hal Kecil

Membiasakan Pancasila tidak perlu menunggu program besar. Ia bisa dimulai dari kebiasaan sederhana:

  1. Antre tanpa menyerobot

  2. Memeriksa kebenaran kabar sebelum membagikannya

  3. Menghormati teman yang beribadah dengan cara berbeda

  4. Duduk dan mendengarkan sebelum membalas

  5. Ikut kerja bakti, meski hanya sebentar.

Tidak ada yang besar dari semua itu. Namun justru dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang, nilai-nilai Pancasila menjadi watak sehari-hari.

Pancasila tidak kekurangan hafalan. Yang kita butuhkan adalah lebih banyak menerapkannya. Lima sila itu bukan hanya untuk diucapkan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.