Konten dari Pengguna

Analisis Program Dinas Kesehatan Kota Dumai dalam Mendukung Indonesia Emas 2045

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meisha Zahra Assifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi AI tentang pemeriksaan kesehatan di sekolah
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi AI tentang pemeriksaan kesehatan di sekolah

Pembangunan suatu daerah tidak hanya dilihat dari kemajuan ekonomi dan infrastrukturnya, tetapi juga dari kondisi kesehatan masyarakatnya. Masyarakat yang sehat akan lebih mampu menjalani aktivitas sehari-hari, menempuh pendidikan, dan bekerja secara produktif. Oleh karena itu, pelayanan kesehatan perlu menjadi salah satu perhatian pemerintah, mulai dari penyediaan layanan yang mudah dijangkau hingga upaya mencegah berbagai penyakit.

Hal ini berkaitan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045 yang menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu hal penting bagi kemajuan bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembangunan kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui kebijakan dan program yang dijalankan pemerintah daerah. Di Kota Dumai, Dinas Kesehatan memiliki peran dalam mendukung upaya tersebut melalui perencanaan program kesehatan untuk beberapa tahun ke depan dan pelaksanaannya setiap tahun.

  • Arah program kesehatan di Kota Dumai

Dinas Kesehatan Kota Dumai menyusun Rencana Strategis (Renstra) Tahun 2025–2029 sebagai pedoman dalam menentukan arah pembangunan kesehatan jangka menengah. Pelaksanaannya kemudian dirinci melalui Rencana Kerja (Renja) tahunan, salah satunya untuk tahun 2026. Kedua perencanaan ini penting agar kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun tetap mengarah pada tujuan pembangunan kesehatan yang telah ditetapkan.

Program yang direncanakan mencakup beberapa aspek. Salah satunya adalah Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat. Program ini berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat, baik untuk menjaga kondisi kesehatan maupun menangani penyakit. Pelayanan yang mudah dijangkau menjadi hal penting supaya masyarakat bisa memperoleh penanganan sesuai kebutuhannya.

Selanjutnya, terdapat Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Kesehatan. Keberadaan tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan sesuai bidangnya menjadi salah satu faktor pendukung kualitas pelayanan. Karena itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan perlu diperhatikan agar pelayanan yang diberikan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dinas Kesehatan juga merencanakan Program Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Makanan Minuman. Program ini berkaitan dengan kebutuhan obat dan alat kesehatan serta aspek pengawasan makanan dan minuman yang berhubungan dengan kesehatan. Ketersediaan kebutuhan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pelayanan kesehatan yang berjalan di masyarakat.

Selain itu, ada Program Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. Pelaksanaan pembangunan kesehatan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau fasilitas kesehatan. Masyarakat juga perlu berperan melalui kebiasaan hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan, dan memanfaatkan pelayanan kesehatan ketika dibutuhkan.

Program-program tersebut didukung oleh Program Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah yang membantu kelancaran pelaksanaan tugas Dinas Kesehatan. Dukungan administrasi, perencanaan, dan operasional tetap diperlukan agar kegiatan utama di bidang kesehatan dapat berjalan.

Dari berbagai program tersebut, terlihat bahwa pembangunan kesehatan mencakup beberapa kebutuhan yang saling berkaitan. Pelayanan kesehatan perlu didukung oleh tenaga yang kompeten, ketersediaan obat dan alat kesehatan, serta kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Jika aspek-aspek tersebut berjalan beriringan, upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.

  • Target Kinerja dan Dukungan Anggaran

Perencanaan program juga perlu disertai target yang jelas agar pelaksanaannya dapat dievaluasi. Dalam Renja Dinas Kesehatan Kota Dumai Tahun 2026, salah satu target yang ditetapkan adalah Umur Harapan Hidup sebesar 73,81 tahun. Indikator ini memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan masyarakat, meskipun pencapaiannya turut dipengaruhi berbagai faktor di luar program kesehatan tertentu.

Target lainnya adalah cakupan penemuan kasus tuberkulosis (TB) sebesar 83 persen. Penemuan kasus menjadi langkah penting dalam penanganan TB karena dapat membantu pasien memperoleh pengobatan dan mengurangi risiko penularan. Namun, upaya tersebut juga membutuhkan dukungan pemeriksaan, tindak lanjut pengobatan, dan pendampingan pasien.

Dari sisi anggaran, Renja Tahun 2026 mencantumkan indikasi pendanaan sekitar Rp437,16 miliar. Sekitar Rp317,37 miliar dialokasikan untuk Program Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah, sedangkan sekitar Rp119,79 miliar diperuntukkan bagi urusan wajib pelayanan dasar bidang kesehatan.

Perbedaan besaran alokasi ini perlu dibaca dengan memperhatikan klasifikasi dan rincian belanjanya. Anggaran program penunjang tidak bisa langsung dianggap hanya untuk urusan administrasi, sebab penilaiannya perlu melihat kegiatan dan subkegiatan yang dibiayai. Di sisi lain, anggaran yang besar juga belum tentu menjamin keberhasilan program.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana anggaran tersebut digunakan dan sejauh mana pelaksanaannya mendukung target yang telah direncanakan. Karena itu, evaluasi tidak cukup hanya melihat jumlah dana yang disediakan, tetapi juga perlu menilai realisasi anggaran, pencapaian indikator, serta manfaat yang dirasakan masyarakat.

  • Keterkaitan dengan Pembangunan Kota Dumai

Program kesehatan daerah memiliki hubungan dengan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagaimana menjadi salah satu arah pembangunan Kota Dumai. Kondisi kesehatan yang baik dapat mendukung masyarakat agar lebih produktif dan mampu berpartisipasi dalam kegiatan sosial maupun ekonomi.

Hubungan tersebut dapat dilihat melalui program pelayanan kesehatan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Ketiga aspek ini saling mendukung dalam menciptakan pelayanan yang lebih baik dan mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatannya.

Meski begitu, kesesuaian program dengan arah pembangunan daerah tidak cukup dinilai dari tujuan yang tertulis dalam perencanaan. Pelaksanaan program juga perlu diperhatikan, misalnya apakah pelayanan dapat dijangkau oleh masyarakat, apakah tenaga kesehatan tersedia sesuai kebutuhan, dan apakah kegiatan yang dilakukan memberikan manfaat bagi kelompok yang menjadi sasaran.

Dengan demikian, program kesehatan perlu terus dievaluasi agar pelaksanaannya tidak hanya memenuhi rencana administratif, tetapi juga memberikan dampak terhadap kualitas hidup masyarakat Kota Dumai.

  • Dukungan terhadap RPJMN dan Indonesia Emas 2045

Pembangunan kesehatan di tingkat daerah juga menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. Oleh sebab itu, program Dinas Kesehatan Kota Dumai perlu berjalan searah dengan kebijakan nasional yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2025–2029.

Keterkaitan tersebut semakin jelas ketika dilihat dari tujuan Indonesia Emas 2045. Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan mampu bersaing. Kondisi tersebut tidak terbentuk secara tiba-tiba, melainkan memerlukan upaya yang dilakukan secara bertahap, mulai dari peningkatan pelayanan kesehatan hingga penguatan kesadaran masyarakat untuk mencegah penyakit.

Program kesehatan di Kota Dumai dapat menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Pelayanan yang memadai, tenaga kesehatan yang kompeten, ketersediaan obat, dan keterlibatan masyarakat merupakan aspek yang mendukung terciptanya kualitas hidup yang lebih baik.

Namun, kontribusi program daerah terhadap Indonesia Emas 2045 tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan atau besarnya anggaran. Hal yang lebih penting adalah hasil pelaksanaan program dan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat. Karena itu, target yang telah disusun perlu diikuti dengan pelaksanaan yang terarah serta evaluasi secara berkala.

Renstra 2025–2029 dan Renja 2026 merupakan bagian dari tahapan pembangunan yang lebih panjang. Keberhasilan mencapai tujuan Indonesia Emas 2045 membutuhkan kesinambungan kebijakan, sehingga program yang dilaksanakan saat ini dapat menjadi dasar bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat pada masa mendatang.

Penutup

Program Dinas Kesehatan Kota Dumai memiliki peran dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan kesehatan, penguatan tenaga kesehatan, pemenuhan kebutuhan obat dan alat kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat. Arah tersebut berkaitan dengan pembangunan daerah dan cita-cita Indonesia Emas 2045 yang membutuhkan sumber daya manusia berkualitas. Meski perencanaan dan anggaran menjadi bagian penting, keberhasilan program tetap bergantung pada pelaksanaan dan hasil yang dicapai. Oleh karena itu, evaluasi terhadap target, penggunaan anggaran, pemerataan pelayanan, dan manfaat bagi masyarakat perlu dilakukan agar pembangunan kesehatan benar-benar berjalan sesuai kebutuhan.

Meisha Zahra Assifa, Mahasiswi STIA Lancang Kuning Dumai prodi Administrasi Negara