El Nino 2026: Luas Standing Crop Menurun, Potensi Panen Padi Tertekan

Statistisi - Badan Pusat Statistik
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Desak Nyoman Febrina Ambara Puspita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

El Nino dengan intensitas sangat kuat diperkirakan terus melanda wilayah Indonesia hingga awal tahun 2027. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena ini akan berdampak pada penundaan awal musim hujan serta mempersingkat periode musim hujan sebagian besar wilayah tanah air. Curah hujan mayoritas wilayah Indonesia pada Agustus 2026 tercatat berada pada kategori rendah, yang tentu berpengaruh pada budidaya tanaman padi.

Dampak kekeringan ini mulai membayangi komoditas inti pangan nasional, salah satunya beras. Berdasarkan rilis Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Oktober 2026 lalu, jika melihat proporsi luas lahan yang biasa ditanami padi pada Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya (Juli 2026) maupun tahun sebelumnya (Agustus 2025), terjadi penurunan proporsi luas standing crop. Standing crop yang dimaksud yaitu fase generatif (padi yang berpotensi dipanen pada h+1 bulan), fase vegetatif akhir (padi yang berpotensi dipanen pada h+2 bulan) dan fase vegetatif awal (padi yang berpotensi dipanen pada h+3 bulan).
Dalam rilis tersebut, BPS juga membandingkan proporsi standing crop pada bulan Agustus tahun 2021-2026 secara berturut-turut sebesar 31,16%; 31,98%; 29,79%; 33,24%; 34,15%; dan 28,07%. Faktanya, pada Agustus 2023 di mana Indonesia juga sedang mengalami fenomena El Nino memiliki pola yang sama dengan Agustus 2026 yaitu proporsi luas standing crop yang cenderung lebih rendah pada lahan yang biasa ditanami padi dibandingkan Agustus di tahun lainnya. Penurunan luas standing crop mengindikasikan lebih rendahnya luas pertanaman padi yang berada pada fase sebelum panen atau penurunan potensi luas panen padi dalam tiga bulan berikutnya.
Selain itu, pada Agustus 2026, kita dapat menyoroti terjadinya penurunan proporsi luas persiapan lahan, kenaikan proporsi luas lahan yang diberakan/dibiarkan, kenaikan proporsi luas yang berpotensi mengalami gagal panen, dan kenaikan proporsi luas lahan yang ditanami selain padi, dibanding bulan sebelumnya (Juli 2026) maupun tahun lalu (Agustus 2025).
Luas panen padi pada Agustus 2026 sebesar 1,08 juta hektare juga dipastikan turun 2,83% dibandingkan Agustus 2025. Ditambah lagi, potensi luas panen padi 3 bulan setelahnya (Sep–Nov 2026) diperkirakan mencapai 2,23 juta hektare atau turun 12,97% dibandingkan Sep–Nov 2025. Namun, kinerja sektor pertanian tidak sepenuhnya terpuruk. Secara kumulatif, luas panen padi Januari-Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare masih merupakan yang tertinggi selama 3 tahun kebelakang pada periode bulan yang sama. BPS juga telah memprediksi angka potensi luas panen untuk September-November 2026. Hasilnya, secara kumulatif, potensi luas panen Januari-November 2026 mencapai 10,56 juta hektare, lebih kecil dibandingkan periode bulan yang sama tahun 2025 namun masih lebih tinggi dibandingkan periode bulan yang sama tahun 2023 (saat terjadi El Nino).
Selain informasi terkait proporsi luas lahan yang biasa ditanami padi pada Agustus 2026, rilis Berita Resmi Statistik BPS juga memberikan informasi terkait produksi beras. Secara kumulatif, produksi beras Januari-Agustus 2026 masih lebih tinggi 0,07% dibandingkan periode bulan yang sama di tahun 2025 walaupun Indonesia sedang dilanda El Nino. Namun, berdasarkan angka potensi produksi beras Januari-November 2026, secara kumulatif, Indonesia diperkirakan memproduksi beras sebesar 32,34 juta ton di mana mengalami penurunan produksi beras sebesar 2,82% dibandingkan periode bulan yang sama di tahun 2025.
Untuk mengantisipasi penurunan panen pada kuartal akhir tahun, langkah mitigasi yang cepat dan terukur dari pemerintah menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas pasokan beras nasional hingga awal 2027.
