Tak Semua Pejuang Reformasi Ikut Berpesta

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Meisya Mawadah Nuralifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua puluh tujuh tahun setelah gelombang Reformasi 1998 mengguncang Indonesia, tidak semua orang yang pernah berdiri di jalanan menikmati hasil yang sama. Ada yang menjadi pejabat, komisaris, atau pengusaha sukses. Namun, ada pula yang memilih tetap hidup sederhana sambil mempertahankan keyakinan yang pernah mereka perjuangkan.
Potret itu tergambar dalam cerpen Tidak Ikut Berpesta karya N. Ferianto yang diterbitkan Kompas.id pada 20 Mei 2026. Cerita ini menghadirkan kisah Damar dan Arif, dua mantan aktivis mahasiswa Yogyakarta yang pernah berada di tengah arus demonstrasi Reformasi 1998. Mereka percaya perubahan bisa diperjuangkan dengan idealisme, tetapi waktu membawa kawan-kawan seperjuangan mereka ke jalan yang berbeda. Sementara banyak rekannya masuk ke lingkar kekuasaan, Damar dan Arif tetap menjalani kehidupan biasa.
Cerpen dibuka dengan suasana warung kopi di Yogyakarta. Damar dan Arif melihat pelantikan seorang menteri baru yang ternyata adalah mantan kawan seperjuangan mereka. Adegan sederhana itu menjadi pintu masuk untuk mengenang masa lalu ketika mereka turun ke jalan bersama ribuan mahasiswa pada Mei 1998. Mereka meneriakkan tuntutan yang sama, "Turunkan Soeharto, hentikan KKN, tegakkan demokrasi."
Namun, Reformasi yang mereka perjuangkan ternyata melahirkan kenyataan yang tidak selalu sesuai harapan. Dalam cerpen itu disebutkan bahwa banyak teman mereka menjadi pejabat dan pengusaha, sedangkan Damar hanya menjadi dosen biasa dan Arif membuka percetakan kecil di Yogyakarta. Ketika mendapat undangan reuni gerakan mahasiswa, Arif sempat berkata, "Biar saja. Kita tidak ikut berpesta. Kita jaga idealisme."
Ucapan itu menjadi inti dari keseluruhan cerita. "Tidak ikut berpesta" bukan hanya berarti tidak menikmati jabatan atau kekuasaan, tetapi juga menggambarkan kegelisahan orang-orang yang merasa tertinggal oleh perubahan zaman.
Menurut Burhan Nurgiyantoro, karya fiksi merupakan hasil penghayatan terhadap persoalan manusia dan kehidupan yang kemudian diolah secara imajinatif sehingga mampu menghadirkan pengalaman batin bagi pembaca. Fiksi tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan persoalan kemanusiaan.
Hal itu terlihat jelas dalam cerpen karya N. Ferianto. Konflik utama tidak berupa pertentangan fisik, melainkan pergulatan batin dua tokoh yang mempertanyakan arti perjuangan dan makna keberhasilan. Damar bahkan mengakui bahwa yang paling berat bukan kehilangan kesempatan, melainkan kehilangan keyakinan. Dalam percakapan dengan Arif, ia berkata, "Kadang iya, tapi aku tak tahu apakah karena kehilangan kesempatan atau kehilangan keyakinan."
Dari sisi penokohan, Damar dan Arif digambarkan sebagai tokoh yang berkembang. Mereka bukan lagi mahasiswa penuh semangat seperti pada tahun 1998, melainkan dua pria paruh baya yang mulai berdamai dengan kenyataan. Perubahan karakter tersebut menunjukkan adanya perkembangan psikologis tokoh yang menjadi salah satu unsur penting dalam karya fiksi menurut Nurgiyantoro.
Sementara itu, Budi Darma dalam Pengantar Teori Sastra menjelaskan bahwa sastra yang baik adalah sastra yang mampu memancing pembaca untuk merenung dan menafsirkan makna kehidupan. Sastra semacam ini disebut sastra serius karena tidak berhenti pada hiburan semata, melainkan menghadirkan renungan yang terus hidup dalam ingatan pembaca.
Cerpen Tidak Ikut Berpesta memenuhi ciri tersebut. Pembaca tidak hanya mengikuti kisah dua mantan aktivis, tetapi juga diajak bertanya mengenai arti keberhasilan, idealisme, dan perubahan zaman. Apakah seseorang dianggap berhasil hanya karena memiliki jabatan? Apakah idealisme yang bertahan justru merupakan bentuk kekalahan? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggantung hingga akhir cerita.
Puncak renungan muncul ketika Damar menulis secarik kalimat dan menyimpannya di balik bingkai foto lamanya:
"Mereka memuja masa lalu bukan karena masa itu suci, tetapi karena di sanalah mereka terakhir kali merasa berarti."
Kalimat tersebut menjadi semacam simpulan batin dari keseluruhan cerita. Masa lalu bukan dipandang sebagai sesuatu yang sempurna, tetapi sebagai ruang tempat manusia pernah memiliki keyakinan yang kuat terhadap hidupnya.
Pada bagian akhir, Damar dan Arif kembali duduk di boulevard UGM sambil mendengarkan marching band yang sedang berlatih. Ketika Arif mengatakan bahwa dunia memang berubah, Damar menjawab dengan tenang, "Mungkin. Tapi kita tidak ikut di dalamnya."
Jawaban itu tidak terdengar sebagai penyesalan, melainkan sebagai pengakuan yang jujur. Sebagaimana dikemukakan Robert Stanton, konflik dalam karya fiksi tidak selalu berupa pertarungan antar manusia, tetapi dapat hadir dalam bentuk pergulatan batin yang menjadi penggerak cerita. Pergulatan batin itulah yang membuat sebuah cerita memiliki kedalaman makna.
Pada akhirnya, Tidak Ikut Berpesta bukan sekadar cerita tentang dua mantan aktivis Reformasi. Cerpen ini menjadi cermin tentang manusia yang pernah percaya pada perubahan, tetapi kemudian harus menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai cita-cita. Melalui kisah Damar dan Arif, N. Ferianto menghadirkan sebuah pertanyaan sederhana tetapi penting: ketika dunia terus berubah, apakah yang sebenarnya masih layak dipertahankan?
Daftar Pustaka
Darma, Budi. 2004. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Ferianto, N. 2026. "Tidak Ikut Berpesta". Kompas.id, 20 Mei 2026.
Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Stanton, Robert. 2012. Teori Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
