Konten dari Pengguna

Terjebak Fantasi Medsos: Ketika "Flexing" Dikemas Manis Menjadi "Self-Reward"

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hotnida Gita Royani Nainggolan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi paylater, foto: shutterstock/detikbali
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi paylater, foto: shutterstock/detikbali

Awal tahun ini, OJK kembali mengingatkan publik soal fenomena yang mereka sebut over-indebtedness di kalangan anak muda — kebanyakan utang, terutama lewat paylater. Data terbaru menunjukkan jumlah pengguna paylater tumbuh puluhan persen dalam setahun terakhir, dan mayoritas dananya dipakai bukan untuk kebutuhan pokok, melainkan untuk fesyen, elektronik, dan gaya hidup. Regulator bahkan sudah menerbitkan aturan baru soal batas usia dan penghasilan minimum pengguna paylater demi meredam jebakan utang ini. Di saat yang sama, lini masa Instagram kita masih dipenuhi story para influencer yang memamerkan tas baru, liburan ke luar negeri, atau makan malam mewah dengan takarir manis: "Hasil kerja keras berbulan-bulan, jangan lupa self-reward ya!" Dua fenomena ini sebenarnya saling terkait erat, dan sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat ironinya jarang dibicarakan.

Fenomena pamer kemewahan atau flexing hari ini tidak lagi tampil vulgar. Ia bermetamorfosis jadi lebih halus, dibungkus narasi kesehatan mental dan penghargaan diri yang seolah positif. Dalam kajian komunikasi, ini bisa dijelaskan lewat Teori Kultivasi: paparan konten yang terus-menerus lambat laun membentuk konstruksi realitas di benak penontonnya. Ketika lini masa setiap hari dijejali standar hidup mewah yang diklaim sebagai "apresiasi diri", kita mulai menormalisasi gagasan bahwa sukses dan mencintai diri sendiri harus selalu diukur dari materi.

Di sinilah data OJK di atas jadi relevan. Regulator sendiri mengaitkan lonjakan utang anak muda dengan tiga hal: FOMO, budaya YOLO, dan yang belakangan makin ramai dibahas, doom spending — belanja impulsif karena merasa masa depan sudah tidak pasti. Ketiga pola ini tidak tumbuh di ruang hampa; ia dipupuk oleh linimasa yang tiap hari menampilkan standar hidup yang seolah wajar dicapai lewat "kerja keras", padahal sebagian besar penonton tidak tahu persis dari mana uang itu benar-benar berasal — apakah dari penghasilan sendiri, endorse, atau justru cicilan. Ironinya, narasi self-reward yang harusnya menenangkan justru mendorong sebagian pengikutnya memaksakan diri berutang demi ikut masuk ke lingkaran fantasi digital tersebut.

Kreator konten punya tanggung jawab moral yang sering luput dari perhatian di sini: transparansi. Jarang ada yang secara terbuka menyebut bahwa barang yang dipamerkan adalah hasil endorse, bukan beli sendiri, atau bahwa liburan tersebut dibiayai brand, bukan tabungan pribadi. Tanpa keterangan itu, audiens yang heterogen — termasuk yang penghasilannya jauh dari kata cukup — mengukur diri mereka dengan standar yang sebenarnya tidak nyata.

Kita tidak perlu menolak mentah-mentah ide self-reward. Yang perlu diubah adalah cara mengonsumsinya. Sebagai penonton, kita bisa mulai membiasakan diri bertanya sebelum ikut terpicu: barang ini dibeli tunai atau cicilan, ini konten organik atau endorse, dan yang terpenting, apakah validasi yang saya kejar ini benar-benar menenangkan atau justru menambah beban di tanggal muda nanti. Bagi kreator, langkah paling sederhana adalah mencantumkan keterangan jujur di setiap unggahan yang berbau flexing — apakah itu murni pencapaian pribadi atau kerja sama berbayar. Karena pada akhirnya, ketenangan pikiran yang sesungguhnya tidak pernah lahir dari status di aplikasi belanja, melainkan dari kemampuan merayakan hidup tanpa harus berutang demi gengsi digital.

BIODATA PENULIS

Nama: Hotnida Gita Royani Nainggolan

Status: Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi

Kampus: Universitas Medan Area

NPM: 248530012

No. WA: 081360867008