Konten dari Pengguna

Menebak Masa Depan Tim: Kenapa Peramalan SDM Jadi Senjata Rahasia Perusahaan

ERNI ZAI

ERNI ZAI

Mahasiswa S1 Manajemen, Universitas Pamulang.

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ERNI ZAI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: AI-generated/Canva
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: AI-generated/Canva

Malam itu aku duduk di depan laptop dengan segelas teh yang sudah dingin. Tugas Perencanaan SDM harus dikumpulkan besok, dan aku baru sampai di bab tentang persiapan SDM menghadapi perubahan lingkungan bisnis. Awalnya aku baca cuma untuk mengejar deadline. Sampai aku buka HP dan melihat lagi berita PHK. Pabrik lain, kota lain, kalimatnya hampir sama dengan berita minggu lalu.

Aku berhenti mengetik. Di satu layar ada teori tentang meramalkan kebutuhan tenaga kerja. Di layar satunya ada orang-orang yang baru kehilangan pekerjaan. Rasanya dua hal itu seharusnya saling bicara.

Bayangkan toko roti Bu Sari

Biar gampang, coba bayangkan sebuah toko roti rekaanku. Pemiliknya Bu Sari, karyawannya 12 orang. Setiap menjelang Lebaran pesanan parsel kue kering naik berkali-kali lipat, dan toko itu selalu ramai. Tahun ini, dua pembuat kue senior yang sudah bertahun-tahun memegang resep andalan memutuskan pindah ke kota lain dua bulan sebelum Lebaran.

Bu Sari panik. Ia pasang lowongan, dapat dua orang baru, tapi mereka butuh waktu belajar. Kue kering gosong, rasa tidak seperti biasanya, dan beberapa pesanan parsel terlambat. Pelanggan lama mulai pindah ke toko lain. Setelah Lebaran, Bu Sari malah harus mengurangi karyawan karena pendapatan turun.

Kalau diceritakan begini, kelihatannya ini murni nasib buruk. Tapi kalau kita pakai kacamata peramalan SDM, ada yang bisa dilakukan jauh sebelumnya. Bu Sari bisa mencatat bahwa tiap tahun puncak pesanan jatuh sebelum Lebaran. Ia bisa mengecek siapa saja yang kemampuannya sulit digantikan dan mulai melatih dua anak muda empat bulan lebih awal. Dengan begitu, ketika dua seniornya pergi, dapurnya tetap berjalan.

Itulah inti peramalan SDM: menebak kebutuhan tenaga kerja ke depan, baik jumlah maupun kemampuannya, lalu menyiapkannya sebelum masalah datang.

Apa kata penelitian?

Aku penasaran, apakah ini cuma enak di teori. Ternyata ada beberapa penelitian di Indonesia yang meneliti pengaruh perencanaan SDM terhadap kinerja karyawan.

Studi Muliyati dan kawan-kawan (2024) di perusahaan ritel menemukan bahwa perencanaan SDM berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, dengan nilai t-hitung 2,554 yang lebih besar dari t-tabel 1,988. Penelitian lain di PT Perkebunan Nusantara I Regional 5, yang dimuat di Jurnal Ilmiah Ekonomi Global Masa Kini edisi Juli 2026, menemukan bahwa perencanaan SDM dan audit SDM berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, sedangkan manajemen talenta tidak berpengaruh signifikan.

Sebuah skripsi Universitas Pasundan (2024) di PT Sanggar Karya Bandung punya angka yang lebih jelas. Perencanaan SDM dan orientasi kerja secara bersama-sama memengaruhi kinerja karyawan sebesar 76%, dan perencanaan SDM menyumbang 38,4% sendiri.

Aku sadar ini bukan bukti mutlak. Penelitian-penelitian itu dilakukan di satu perusahaan atau satu sektor dengan sampel terbatas, jadi hasilnya belum tentu berlaku di mana-mana. Tapi polanya konsisten: perusahaan yang merencanakan SDM-nya cenderung punya karyawan yang kinerjanya lebih baik.

Kenapa ini penting sekarang?

Soalnya dunia kerja kita sedang bergerak cepat. Data Kemnaker mencatat 88.519 pekerja kena PHK sepanjang 2025, dan BPJS Ketenagakerjaan melaporkan 125 ribu korban PHK sudah mencairkan JHT sampai akhir Juli 2026. Lalu laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum memperkirakan akan ada 170 juta pekerjaan baru dan 92 juta pekerjaan yang tergeser sampai 2030. Para pengusaha dalam survei itu juga memperkirakan sekitar 39% keterampilan inti pekerja akan berubah.

Artinya, masalahnya bukan cuma soal berapa orang yang dibutuhkan, tapi juga kemampuan apa. Perusahaan yang tidak menebak arah itu dari awal akan kewalahan, seperti Bu Sari tadi, hanya dengan taruhan yang jauh lebih besar.

Yang ternyata bikin peramalan gagal

Di materi kuliahku ada satu temuan yang kusukai. Penelitian Zedeck dan Mosier (1990) menyebut bahwa orang sering sibuk membuat model statistik yang canggih, tapi lupa memikirkan apakah pimpinan mau menerima dan memakai hasilnya. Akibatnya alat untuk meramal sudah ada, tapi tidak dipakai karena tidak ada dukungan.

Aku jadi sadar, peramalan SDM bukan soal rumus. Ini soal keberanian melihat ke depan dan jujur pada hasilnya, termasuk kalau hasilnya tidak enak didengar.

Buat aku pribadi

Setelah malam itu, aku mulai menanyakan hal yang sama pada diriku sendiri. Kalau 39% keterampilan akan berubah, keterampilan apa yang harus kupelajari sekarang? Aku kuliah manajemen dan belajar perbankan, dan teller bank termasuk yang diprediksi menyusut paling cepat. Aku tidak mau jadi orang yang baru mencari payung setelah hujan deras turun.

Jadi, kalau kamu sedang membaca ini sambil bekerja atau kuliah, coba tanya hal yang sama pada dirimu. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi supaya kita siap menghadapi perubahan sebelum perubahan itu yang menghampiri kita.