Bukan Sekedar Trend, Transportasi Umum Bisa Mengubah Cara Sosial Menjalani Kota

Universitas pamulang Fakultas FKIP Prodi PGSD
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nailaekaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemacetan telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat di berbagai wilayah perkotaan. Waktu perjalanan yang panjang dapat mengurangi waktu istirahat, menghambat aktivitas kerja, dan memengaruhi kualitas hidup masyarakat.
Di tengah persoalan tersebut, transportasi umum sering dipandang sebagai salah satu solusi. Kehadiran bus, kereta, dan berbagai moda angkutan massal memberikan pilihan bagi masyarakat untuk melakukan perjalanan tanpa harus menggunakan kendaraan pribadi.
Namun, persoalan transportasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah kendaraan di jalan. Cara masyarakat bergerak juga berhubungan dengan tata ruang, akses terhadap fasilitas publik, distribusi kegiatan ekonomi, dan kesempatan memperoleh layanan dasar.
Karena itu, membangun transportasi umum bukan sekadar menyediakan kendaraan. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa layanan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Transportasi dan Perkembangan Kota
Kota menjadi pusat berbagai aktivitas, mulai dari pekerjaan, pendidikan, perdagangan, hingga pelayanan kesehatan. Ketika tempat tinggal dan lokasi kegiatan berada berjauhan, masyarakat membutuhkan sarana transportasi untuk menjangkaunya.
Masalah muncul ketika pertumbuhan aktivitas perkotaan tidak diimbangi dengan sistem transportasi yang memadai. Ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat meningkatkan kepadatan lalu lintas, terutama ketika banyak orang melakukan perjalanan pada waktu yang hampir bersamaan.
Kementerian Perhubungan dalam publikasinya mengenai sistem transportasi perkotaan menyoroti pentingnya pengembangan angkutan umum untuk menghadapi persoalan kemacetan. Upaya tersebut membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah, terutama dalam penyediaan layanan yang aman, nyaman, dan terjangkau.
Persoalan ini menunjukkan bahwa transportasi merupakan bagian dari perencanaan wilayah. Jalan, permukiman, kawasan perkantoran, sekolah, dan pusat perdagangan perlu dihubungkan melalui sistem mobilitas yang mendukung aktivitas masyarakat.
Akses Transportasi Memengaruhi Kesempatan
Transportasi yang mudah dijangkau dapat membantu masyarakat mengakses berbagai kesempatan. Pelajar, misalnya, membutuhkan perjalanan yang aman dan terjangkau untuk mencapai sekolah. Pekerja memerlukan layanan yang dapat diandalkan agar bisa tiba di tempat kerja tepat waktu.
Hal serupa berlaku bagi masyarakat yang perlu mengunjungi fasilitas kesehatan atau mengurus kebutuhan administratif. Ketika transportasi sulit dijangkau atau biayanya terlalu tinggi, aktivitas tersebut dapat menjadi lebih berat bagi sebagian kelompok masyarakat.
Karena itu, keberadaan transportasi umum tidak cukup dinilai dari jumlah bus atau stasiun yang dibangun. Jarak dari tempat tinggal menuju halte, waktu tunggu, tarif, keamanan, dan kemudahan berpindah moda juga perlu diperhatikan.
Sebuah halte mungkin tersedia di pusat kota, tetapi manfaatnya akan terbatas apabila masyarakat dari kawasan permukiman yang jauh tidak memiliki akses menuju halte tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan pentingnya konsep konektivitas, yaitu keterhubungan antara berbagai tempat dan moda transportasi. Sistem yang baik seharusnya membantu masyarakat menyelesaikan perjalanan secara menyeluruh, bukan hanya menyediakan satu bagian dari perjalanan.
Mengapa Kendaraan Pribadi Masih Menjadi Pilihan?
Meskipun transportasi umum terus dikembangkan, sebagian masyarakat masih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Pilihan tersebut tidak selalu disebabkan oleh kebiasaan atau keinginan untuk memperoleh kenyamanan lebih.
Ada masyarakat yang tinggal jauh dari jalur angkutan umum. Ada pula yang membutuhkan perjalanan berulang ke beberapa lokasi dalam satu hari atau harus bekerja pada jam ketika layanan transportasi terbatas.
Bagi sebagian pengguna, perjalanan dengan kendaraan pribadi juga dianggap lebih praktis karena dapat langsung menghubungkan tempat tinggal dengan tujuan.
Oleh karena itu, mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum membutuhkan lebih dari sekadar imbauan. Pemerintah dan pengelola layanan perlu memahami alasan masyarakat memilih moda tertentu, kemudian memperbaiki kekurangan yang membuat angkutan umum kurang menarik.
Integrasi antarmoda, kepastian jadwal, tarif yang terjangkau, serta akses yang aman bagi pejalan kaki dapat membantu meningkatkan kenyamanan perjalanan.
Perencanaan juga perlu memperhatikan kelompok yang kerap menghadapi hambatan mobilitas, seperti penyandang disabilitas, lansia, anak-anak, dan orang yang bepergian bersama balita.
Membangun Kota yang Lebih Mudah Dijangkau
Transportasi umum yang baik dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan kota yang lebih terhubung. Namun, keberhasilannya memerlukan perencanaan yang mempertimbangkan kebutuhan penduduk, pola permukiman, serta lokasi berbagai pusat kegiatan.
Kawasan tempat tinggal yang terhubung dengan angkutan umum, misalnya, dapat memudahkan masyarakat menjangkau pekerjaan dan layanan publik. Jalur pejalan kaki yang aman juga membantu masyarakat mencapai halte tanpa harus bergantung pada kendaraan lain.
Di sisi lain, pengembangan transportasi tidak boleh hanya berfokus pada kota besar. Wilayah pinggiran dan kota yang sedang berkembang juga membutuhkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan penduduknya.
Pada akhirnya, transportasi umum bukan hanya pilihan perjalanan, melainkan bagian dari upaya membangun kehidupan perkotaan yang lebih inklusif. Sistem transportasi yang baik membantu menghubungkan manusia dengan pekerjaan, pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai kesempatan lainnya.
Kota yang nyaman bukan semata-mata kota dengan jalan yang lebar atau kendaraan yang cepat. Kota yang baik juga merupakan kota yang memungkinkan masyarakat bergerak dengan aman, terjangkau, dan tanpa hambatan yang tidak perlu.
