Konten dari Pengguna

Perempuan sebagai Pilar Peradaban dan Pembentuk Generasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Intan Fadilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Kindel Media from Pexels: https://www.pexels.com/photo/a-mother-and-her-kids-reading-a-book-7105615/ Mother and two children reading a book together, fostering closeness and learning at home.
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Kindel Media from Pexels: https://www.pexels.com/photo/a-mother-and-her-kids-reading-a-book-7105615/ Mother and two children reading a book together, fostering closeness and learning at home.

Peran perempuan dalam kehidupan sosial selalu menarik untuk dikaji karena memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan generasi. Perempuan memegang peran utama dalam proses pembentukan masyarakat yaitu melalui keluarga sebagai unit terkecil dan fundamental dalam struktur masyarakat. Sebagai pendidik pertama dalam keluarga, perempuan adalah sosok yang pertama kali membentuk pikiran, karakter, dan nilai-nilai dasar seorang anak bahkan jauh sebelum anak itu lahir, dan sebelum anak mengenal dunia luar, ia telah belajar dari apa yang ditunjukkan oleh ibunya karena anak adalah peniru yang ulung.

Menurut Center on the Developing Child di Harvard University, sekitar 1 juta koneksi saraf baru terbentuk setiap detik pada masa awal kehidupan anak dan 90% perkembangan otak terjadi sebelum usia lima tahun (Harvard, n.d.). Hal ini menunjukkan bahwa di masa emas inilah peran ibu di rumah sangat di butuhkan untuk membentuk kognitif, perilaku, dan spiritual yang akan menentukan arah hidup anaknya.

Penelitian dari National Scientific Council on the Developing Child (2007) menunjukkan bahwa interaksi responsif antara ibu dan anak secara langsung memengaruhi pembentukan arsitektur otak yang berdampak pada kemampuan belajar, regulasi emosi, dan kesehatan mental jangka panjang (Harvard, n.d.). Ki Hajar Dewantara juga pernah menegaskan bahwa pendidikan yang sejati adalah penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak (Efendy Thamrin, 2023). Dalam konteks ini, perempuan adalah penuntun pertama yang membuka jalan bagi kekuatan kodrat tersebut berkembang.

Mari sekarang kita kaji perempuan dari akar bahasa. Secara etimologi, kata “Perempuan” berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari kata empu yang berarti tuan, mulia atau yang dimuliakan, dan pembuat suatu karya agung, dengan penambahan imbuhan “per-“ dan “-an”. Kata empu kemudian menjadi “Perempuan”. Artinya secara etimologis perempuan memiliki kedudukan yang terhormat (Saraswati, 2016). Kata perempuan juga berhubungan dengan kata “ampu” yang berarti “sokong” atau “penyangga” ini merujuk pada peran perempuan sebagai penopang keluarga dan masyarakat (El Adawiyah & Indrawan, 2021).

Perempuan yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik dengan disertai kecerdasan emosional, cenderung memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam memahami situasi, mengambil keputusan, dan mencegah masalah baik di keluarga maupun masyarakat. Data UNICEF 2019 menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir dari ibu berpendidikan cenderung memiliki status gizi 40% lebih baik, tingkat kelangsungan hidup 50% lebih tinggi, dan prestasi akademik yang secara konsisten lebih unggul dibandingkan anak dari ibu tanpa pendidikan (Unicef, 2019).

Di sisi lain, ketika perempuan terjebak dalam kondisi buruk, baik karena kurangnya pendidikan maupun kerusakan moral dampaknya dapat merambat ke lingkungan keluarga, pola pembentukan karakter anak, hingga kualitas kehidupan masyarakat secara luas. Generasi yang tumbuh tanpa peran perempuan yang berkualitas cenderung mengalami lemahnya pembentukan nilai dan karakter, sehingga lebih rentan terhadap berbagai penyimpangan sosial serta kesulitan dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang baik. Inilah makna dari peribahasa “Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuan itu baik maka akan baiklah negaranya dan apabila perempuan itu rusak, maka rusak pula negaranya”.

Saat ini perempuan di berbagai penjuru dunia tengah menghadapi musuh yang sama, yaitu kekuatan yang ingin menjauhkan mereka dari peran utama tersebut. Musuh itu tidak saja berupa musuh fisik, melainkan juga dalam bentuk ideologi yang menyesatkan. Dorongan untuk menuntut persamaan dengan pria bukannya keadilan, dorongan untuk tergila-gila pada konsumerisme dan mode, dorongan untuk melepaskan diri dari aturan-aturan agama yang dianggap mengekang kebebasan, merupakan bentuk-bentuk penjajahan budaya yang dilakukan oleh Barat.

Dalam sistem kapitalisme, perempuan sering dijadikan sasaran pasar dan alat untuk memperoleh keuntungan. Akibatnya, perempuan kerap mengalami berbagai bentuk ketidakadilan seperti kekerasan, pelecehan, pemerkosaan, dan eksploitasi yang pada akhirnya juga berdampak buruk bagi kehidupan perempuan itu sendiri serta tatanan sosial masyarakat.

Sebaliknya, ketika perempuan kembali menemukan siapa dirinya yang sejati dan apa perannya yang sejati di muka bumi, maka mereka akan bangkit. Kunci utama perubahan nasib manusia yang tertindas adalah kebangkitan si manusia itu sendiri. Tanpa kebangkitan, tidak akan ada perubahan bagi dirinya, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11. Ayat ini menjelaskan bahwa "Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka sendiri berusaha mengubah apa yang ada pada diri mereka". Kebangkitan yang dimaksud jika dikaitkan pada perempuan adalah bangkitnya kesadaran bahwa perempuan diciptakan mulia dan seharusnya hidup mulia, tidak ditindas oleh kekuatan mana pun.

Posisi utama perempuan adalah sebagai pendidik generasi muda. Ibu yang memiliki pengetahuan, nilai keimanan, dan kesadaran terhadap perannya dapat melahirkan generasi yang mampu membawa perubahan bagi masyarakat. Karena itu, perempuan memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan perubahan sosial ke arah yang lebih baik dan membantu masyarakat keluar dari berbagai bentuk ketidakadilan dan penindasan. Dengan demikian, perempuan sebagai pilar peradaban bukan hanya sekadar ungkapan, tetapi menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menentukan kualitas kehidupan masyarakat.