Konten dari Pengguna

Gen Z Tidak Betah Bekerja: Salah Karyawannya atau Perusahaannya?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vanipah S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: dibuat oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: dibuat oleh AI

Generasi Z sering dianggap sebagai generasi yang mudah bosan, tidak tahan tekanan, dan cepat mengundurkan diri dari pekerjaan. Ketika karyawan muda memilih resign dalam waktu singkat, mereka kerap dinilai kurang memiliki loyalitas. Namun, apakah benar semua keputusan resign terjadi karena karyawan tidak mampu menghadapi tekanan? Menurut pandangan saya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Keputusan seseorang untuk bertahan atau meninggalkan pekerjaan tidak hanya dipengaruhi oleh karakter pribadinya, tetapi juga oleh kondisi lingkungan kerja dan bagaimana perusahaan memperlakukan karyawannya. Oleh karena itu, fenomena ini perlu dilihat dari dua sisi sebelum menentukan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab.

Menurut saya, salah satu hal yang sering diabaikan adalah kondisi kerja yang dihadapi karyawan. Beban kerja yang berlebihan, gaji yang tidak sebanding dengan tanggung jawab, serta lingkungan kerja yang tidak sehat dapat membuat seseorang kehilangan kenyamanan dan motivasi. Penelitian Daniel dan Sanjaya (2024) terhadap 12 pekerja Gen Z di Bandung membahas sejumlah faktor yang berkaitan dengan keinginan karyawan untuk resign, termasuk beban kerja, kompensasi, budaya kerja, dan kepemimpinan. Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa keputusan resign tidak selalu muncul karena karyawan mudah menyerah. Perusahaan juga perlu mengevaluasi apakah sistem kerja dan perlakuan yang diberikan sudah mendukung karyawan untuk berkembang.

Di sisi lain, saya juga berpendapat bahwa karyawan Gen Z tidak bisa sepenuhnya melepaskan tanggung jawab kepada perusahaan. Dunia kerja memang memiliki target, aturan, dan tekanan yang perlu dihadapi secara profesional. Karyawan perlu belajar beradaptasi, menyelesaikan tugas dengan bertanggung jawab, dan membicarakan masalah sebelum terburu-buru mengambil keputusan resign. Namun, kemampuan beradaptasi bukan berarti harus menerima semua kondisi kerja tanpa mempertimbangkan kewajaran dan keadilan. Menurut saya, yang perlu dibangun adalah keseimbangan: karyawan bersedia belajar dan memperbaiki diri, sementara perusahaan juga bersedia mendengarkan serta memperbaiki kondisi kerja yang bermasalah.

Pada akhirnya, saya tidak setuju jika Gen Z langsung dicap sebagai generasi yang tidak loyal hanya karena memilih meninggalkan pekerjaannya. Setiap keputusan memiliki alasan dan kondisi yang berbeda, sehingga tidak adil jika semuanya dinilai dengan cara yang sama. Perusahaan perlu memberikan beban kerja yang wajar, gaji yang sesuai dengan tanggung jawab, serta lingkungan kerja yang sehat dan nyaman. Karyawan pun perlu menunjukkan komitmen dan profesionalisme dalam menjalankan pekerjaannya. Bagi saya, mempertahankan karyawan bukan hanya tentang menuntut loyalitas, tetapi juga tentang menciptakan tempat kerja yang membuat mereka merasa dihargai. Jadi, persoalannya bukan semata-mata siapa yang salah, melainkan apakah kedua pihak sudah menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.