Film Pendek Horor: Kolaborasi Mahasiswa dalam Menghasilkan Karya Kreatif

Mahasiswa Universitas Pamulang, Ilmu Komunikasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Vellia Fakhiratunisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Broadcasting, Universitas Pamulang kembali menunjukkan kreativitasnya melalui film pendek bergenre horor berjudul Titipan Peuting. Film ini merupakan proyek akhir Mata Kuliah Komunikasi Antarbudaya Semester 6 yang diproduksi oleh Kelompok 3. Melalui proyek ini, mahasiswa ditantang untuk mengimplementasikan pengetahuan yang telah dipelajari selama perkuliahan, mulai dari penulisan naskah, penyutradaraan, pengambilan gambar, hingga proses penyuntingan dalam sebuah karya audiovisual yang utuh.
Sebagai mahasiswa Konsentrasi Broadcasting, proses pembuatan film ini menjadi sarana untuk mengasah kemampuan teknis sekaligus membangun kerja sama dalam sebuah tim produksi. Setiap anggota memiliki tanggung jawab sesuai dengan bidangnya masing-masing sehingga seluruh tahapan, mulai dari pra-produksi, produksi, hingga pascaproduksi, dapat berjalan secara terstruktur dan profesional.
Film Titipan Peuting mengangkat kisah tentang sebuah barang yang ditinggalkan dan tanpa sengaja ditemukan oleh seseorang. Di balik benda tersebut ternyata tersimpan misteri yang perlahan membawa teror dan mengubah kehidupan orang yang memilikinya. Mengusung tagline "Di balik setiap barang yang ditinggalkan, ada pemilik yang tak terlihat, menunggu untuk ditemukan," film ini menghadirkan horor yang dibangun melalui atmosfer, konflik psikologis, serta rasa penasaran yang terus berkembang hingga akhir cerita.
Film ini diproduseri oleh Victo Ramadhana Pogiya, sementara saya dipercaya sebagai sutradara sekaligus penulis cerita bersama Putri Nadila. Dalam proses penggarapannya, kami berupaya menghadirkan sebuah cerita yang tidak hanya mampu memberikan ketegangan kepada penonton, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa rasa penasaran terhadap sesuatu yang bukan milik kita dapat membawa konsekuensi yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Bagi saya, menjadi sutradara sekaligus penulis cerita merupakan pengalaman yang penuh tantangan. Mulai dari proses pengembangan ide, penyusunan alur cerita, penyutradaraan pemain, hingga pengambilan gambar, setiap tahapan membutuhkan komunikasi dan koordinasi yang baik agar visi cerita dapat dipahami oleh seluruh kru produksi.
"Melalui Titipan Peuting, saya ingin menghadirkan horor yang tidak hanya mengandalkan jumpscare, tetapi juga membangun ketegangan melalui suasana, ekspresi pemain, dan simbol-simbol yang muncul di setiap adegan. Saya berharap penonton tidak hanya merasa takut saat menonton, tetapi juga dapat menangkap pesan yang ingin kami sampaikan melalui cerita ini."
Seluruh proses produksi melibatkan kolaborasi dari setiap anggota tim. Film ini diproduseri oleh Victo Ramadhana Pogiya. Proses penulisan cerita dilakukan oleh saya bersama Putri Nadila, sementara proses sinematografi ditangani oleh Rafli Fadlian Maulana dan Reza Nur Alamsyah sebagai cameraman. Tahap pascaproduksi dikerjakan oleh Sarah Maulidya sebagai editor yang menyusun alur visual agar mampu membangun ketegangan secara bertahap.
Untuk mendukung kebutuhan artistik selama produksi, divisi Wardrobe dipercayakan kepada Suci Riawanata, sedangkan divisi Property ditangani oleh Syamsul dan Wildan Nabiel. Film ini juga dibintangi oleh Rajesh Abdul Basit, Rizwan Hadi Gunawan, dan Riffa Fauriza sebagai pemeran utama yang menghidupkan konflik dalam cerita.
Poster resmi Titipan Peuting menampilkan visual sebuah tangan yang menggenggam cincin bermata batu biru dengan dominasi warna hitam dan merah. Konsep visual tersebut dipilih sebagai simbol utama dari benda yang menjadi pusat konflik dalam cerita sekaligus memperkuat nuansa misterius yang dihadirkan sepanjang film.
Melalui Titipan Peuting, kami berharap karya ini tidak hanya menjadi bentuk penyelesaian tugas akademik, tetapi juga menjadi bukti bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi Konsentrasi Broadcasting Universitas Pamulang mampu menghasilkan karya audiovisual yang berkualitas melalui kreativitas, kerja sama tim, dan proses produksi yang matang. Pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk menghadapi dunia industri kreatif dan penyiaran di masa mendatang.
Film pendek Titipan Peuting dijadwalkan tayang pada 26 Juni 2026. Dengan mengangkat horor yang dekat dengan kehidupan sehari-hari namun dibalut nuansa misteri, film ini diharapkan mampu memberikan pengalaman menonton yang berkesan sekaligus mengingatkan bahwa tidak semua barang yang ditemukan layak untuk dimiliki, karena bisa jadi masih ada sesuatu yang menunggu untuk kembali kepada pemiliknya.
Vellia Fakhiratunisa Mahasiswa Universitas Pamulang, Ilmu Komunikasi
