"Amin Paling Serius": Dua Jiwa dengan Dua Dunia Berbeda

Mahasiswa ilmu komunikasi universitas Pancasakti Tegal
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Vieka Syifa kamila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah terbayang seperti apa “amin” yang paling serius di seluruh dunia?. Apakah ia terucap dari bibir seseorang yang hidupnya selalu tenang tanpa cela, atau justru terlahir dari napas yang terengah-engah setelah menerjang badai kehidupan? Sal Priadi dan Nadin Amizah mengemas jawabannya dengan indah dalam lagu “Amin Paling Serius.”
Alasan terbesar mengapa lagu ini begitu mengusik benakku hingga akhirnya kupilih untuk kubedah adalah karena seseorang yang pernah hadir dan mengenalkanku pada lagu ini. Lewat jemarinya yang menunjuk ke arah lirik demi lirik, aku belajar memahami bahwa lagu ini bukan sekadar susunan nada, melainkan cermin dari ketulusan yang tak sanggup diucapkan oleh lidah.

“Aku tahu kamu lahir dari cantik utuh cahaya rembulan. Sedang aku dari badai, marah riuh yang berisik, juga banyak hal-hal yang sedih”
Lirik tersebut seketika meremukkan dadaku. Ia mengajariku bagaimana cara memandang dua insan yang tercipta dari latar dunia yang saling bertolak belakang. Ketika ia kukatakan terlahir dari cantiknya rembulan yang utuh, itu menyuarakan bahwa ia sungguh memancarkan kecantikan dalam kondisi seutuh-utuhnya. Bukan hanya paras, melainkan juga hati, tindakan, hingga ucapannya turut menyumbang cahaya terang dalam mengutuhkan kecantikannya.
Bagaikan langit dengan bumi, aku terkekang oleh terjangan badai yang memorak-porandakan isi hatiku, marah riuh yang menambah kerutan di dahiku, serta hal-hal sedih yang selalu berhasil mengosongkan kantong air mataku. Diperparah dengan penghalang yang membentang di antara keyakinan dan cara kami menyebut nama Sang Pencipta. Ada rasa takut yang selalu berusaha menyadarkan kami betapa sulitnya melangitkan dua doa ke rumah yang berbeda.
“Tuk petualangan ini mari kita ketuk pintu yang sama, membawa amin paling serius seluruh dunia”
Di sinilah letak pilunya. Lirik ini menjadi ruang paling sunyi. Tempat kami saling menatap dan memilih untuk bertahan, meski tahu jalan yang akan kami lalui dipenuhi tanda tanya. Kami belajar saling memahami dan menoleransi rasa sakit, hingga tumbuh sebuah keberanian untuk memeluk rasa takut. Dua dunia yang kontras ini memilih untuk saling merapatkan jemari, melangkah bersama memasuki sebuah “peluang” penuh teka-teki.
Kami beranikan diri untuk mengetuk pintu takdir yang sama, sembari menggenggam sebuah doa yang dipanjatkan dengan segenap sisa tenaga dan jiwa. Sebuah “amin paling serius seluruh dunia”. Ini adalah puncak kepasrahan terdalam, sebuah permohonan yang terucap dari relung hati paling remuk, agar cinta yang kontras ini sudi direstui dan dikuatkan menembus segala rimba ketidakpastian.
“Bayangkan betapa cantik dan lucunya, gemuruh petir ini disanding rintik-rintik yang gemas, dan merayakan amin paling serius seluruh dunia”
Maka, tatkala dua takdir kami saling bertaut, keributan badai yang selama ini menyiksa batin tidak lagi terasa menakutkan. Justru timbul sebuah kehangatan ketika gemuruh petir lantang dari duniaku yang kelam, bersanding lembut dengan rintik-rintik hujan yang damai dari dunianya. Alam semesta seolah ikut terdiam menahan napas, tak lagi berharap pada peruntungannya dalam memisahkan kami setelah menyaksikan betapa cantik dan lucunya dua dunia yang bertaut tangan saling menyeimbangkan. Sebuah kompromi tulus yang lahir dari dua jiwa yang saling menguatkan, meski menyadari bahwa pada akhirnya “amin” kami mungkin tak akan pernah benar-benar bersatu di tempat yang sama.
