Konten dari Pengguna

Padukan Budaya dan Teknologi; ‘Mu’a Dai Do Hokos’ Efektif Cegah Stunting

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vinsen Belawa Making tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sosialisasi Tim Dosen Undana Kepada Masyarakat Rote. (Foto Dokumen Pribadi Vinsen Making)
zoom-in-whitePerbesar
Sosialisasi Tim Dosen Undana Kepada Masyarakat Rote. (Foto Dokumen Pribadi Vinsen Making)

Bagaimana memastikan seseorang sudah makan cukup sesuai kebutuhan energi tubuhnya? Pertanyaan sederhana itu menjadi titik awal tim dosen Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Nusa Cendana (Undana), mengembangkan aplikasi edukasi berbasis Android bernama “Mu’a Dai Do Hokos?”, yang berarti “Makan cukup atau tidak?” dalam bahasa Rote.

Aplikasi tersebut diperkenalkan kepada masyarakat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar di Kantor Desa Ingguinak, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Jumat (24/7/2026).

Tim Dosen dan Mahasiswa Undana Pose Bersama saat kegiatan. (Foto; Dokumen probadi Vinsen Making)

Sebanyak 30 ibu-ibu menjadi sasaran kegiatan yang berjudul “Implementasi Aplikasi ‘Mu’a Dai Do Hokos’ sebagai Media Edukasi yang Mengintegrasikan Konsep Fisika dengan Budaya (Etnofisika) dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman tentang Kebutuhan Energi untuk Mencegah Stunting.”

Ketua tim, Jannes Bastian Selly, M.Si., M.Kes., mengatakan gagasan tersebut berangkat dari persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni pemenuhan kebutuhan energi dan gizi.

Menurut dia, persoalan pemenuhan energi tidak semata-mata berkaitan dengan ada atau tidaknya makanan. Pengetahuan mengenai berapa banyak energi yang dibutuhkan tubuh dan berapa banyak energi yang diperoleh dari makanan juga penting.

“Setiap orang memiliki kebutuhan energi yang berbeda. Kebutuhan tersebut dipengaruhi antara lain oleh usia, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan aktivitas fisik. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk mengenali kebutuhan energinya sendiri,” kata Jannes.

Fisika masuk ke meja makan

Yang menarik, edukasi tersebut tidak diberikan semata-mata dari perspektif kesehatan atau gizi. Tim Undana menggunakan konsep fisika, khususnya energi dan hukum pertama termodinamika, untuk menjelaskan bagaimana tubuh manusia menggunakan energi.

Tubuh manusia dalam pendekatan tersebut dipandang sebagai sebuah sistem yang memperoleh energi dari makanan. Energi kimia yang tersimpan dalam makanan kemudian digunakan tubuh untuk mempertahankan fungsi-fungsi biologis, metabolisme, dan melakukan aktivitas sehari-hari.

Jika asupan energi tidak mencukupi kebutuhan tubuh dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap masalah gizi. Karena itu, pemahaman mengenai keseimbangan antara kebutuhan dan asupan energi menjadi salah satu bagian yang penting dalam upaya pencegahan masalah gizi, termasuk stunting dan wasting.

“Konsep energi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan manusia. Kita hanya perlu menerjemahkan konsep fisika yang selama ini dianggap abstrak menjadi sesuatu yang dapat dipahami dan digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Jannes.

Pendekatan tersebut kemudian dipadukan dengan budaya lokal Rote. Bahasa Rote digunakan dalam penamaan aplikasi agar pesan yang disampaikan terasa lebih dekat dengan masyarakat.

Bagi tim, penggunaan bahasa lokal bukan sekadar persoalan nama. Hal itu menjadi bagian dari pendekatan etnofisika, yaitu menghubungkan konsep-konsep fisika dengan lingkungan, budaya, pengalaman, dan kehidupan masyarakat setempat.

Ada katalog makanan dan kalkulator energi

Aplikasi “Mu’a Dai Do Hokos?” dikembangkan berbasis Android dan dapat diakses secara gratis melalui Google Play Store.

Di dalamnya tersedia sejumlah fitur edukasi, antara lain bahan bacaan mengenai kebutuhan energi, katalog makanan beserta kandungan energinya, serta kalkulator kebutuhan energi harian.

Dengan fitur tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya energi bagi tubuh, tetapi juga dapat mencoba menghitung kebutuhan energi hariannya.

“Harapannya, masyarakat tidak hanya tahu bahwa mereka harus makan cukup, tetapi juga mulai memahami apa yang dimaksud dengan cukup dan bagaimana memperkirakannya,” kata Jannes.

Tidak berhenti pada penyuluhan

Dalam kegiatan di Desa Ingguinak, edukasi juga diawali dengan pengumpulan data sederhana mengenai kondisi peserta.

Tim melakukan pengukuran massa dan tinggi badan untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT). Tekanan darah peserta juga diukur.

Selanjutnya, peserta diminta mencatat jenis dan takaran makanan yang mereka konsumsi selama satu hari sebelumnya. Catatan tersebut digunakan sebagai contoh untuk memperkirakan asupan energi.

Setelah itu, tim memberikan penyuluhan mengenai kebutuhan energi sekaligus memperkenalkan cara menggunakan aplikasi “Mu’a Dai Do Hokos?”.

Untuk melihat perubahan pemahaman, peserta kembali mengisi kuesioner pengetahuan setelah mengikuti kegiatan.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan peserta mengenai kebutuhan energi setelah kegiatan edukasi.

Bagi tim, hasil tersebut menjadi indikasi awal bahwa penggunaan media digital yang dikembangkan dengan mempertimbangkan bahasa dan konteks budaya lokal dapat menjadi pendekatan yang menjanjikan dalam edukasi masyarakat.

Namun, peningkatan pengetahuan tidak serta-merta dianggap sebagai bukti bahwa masalah stunting telah teratasi. Perubahan perilaku konsumsi, kondisi ekonomi, ketersediaan pangan, pola asuh, sanitasi, serta berbagai faktor lain tetap perlu diperhatikan.

“Pengetahuan adalah salah satu modal untuk perubahan perilaku. Karena itu, kami berharap peningkatan pengetahuan ini dapat dilanjutkan dengan perubahan dalam cara masyarakat merencanakan dan memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari,” ujar Jannes.

Camat: Perguruan tinggi harus hadir dengan solusi

Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari pemerintah setempat.

Camat Rote Barat Laut, Joshua Dethan, S.P., bersama Plt. Kepala Desa Ingguinak, Tomi Dano, S.H., mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai menarik dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Integrasi antara budaya lokal dan teknologi menjadi salah satu hal yang dinilai menarik dari kegiatan itu. Aplikasi yang menggunakan bahasa Rote juga dinilai memiliki nilai tambah karena membawa unsur lokal ke dalam inovasi berbasis teknologi.

Pemerintah setempat berharap perguruan tinggi tidak hanya hadir melalui kegiatan akademik, tetapi juga terus mengembangkan inovasi yang dapat menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.

Dari Desa Ingguinak untuk inovasi pendidikan

Tim PkM Undana terdiri atas Jannes Bastian Selly, M.Si., M.Kes. sebagai ketua, dengan anggota dosen Dr. Amiruddin Supu, M.Si., Markus S. K. Maubuthy, M.Pd., Antonius Suban Hali, M.Si., Harti Umbu Mala, M.Si., dan Sonia S. Djara Dima, S.Si., M.Eng.

Kegiatan juga melibatkan tiga mahasiswa, yakni Hari V. T. Mooy, Rapi M. V. Poa, dan Clara Tunmuni.

Bagi Program Studi Pendidikan Fisika Undana, “Mu’a Dai Do Hokos?” menjadi contoh bahwa fisika tidak harus berhenti pada rumus dan perhitungan di ruang kelas.

Konsep energi yang dipelajari mahasiswa dapat ditransformasikan menjadi media edukasi untuk membantu masyarakat memahami kebutuhan energi tubuh. Ketika konsep tersebut dikombinasikan dengan bahasa dan budaya lokal serta teknologi digital, ilmu fisika dapat hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan persoalan sehari-hari.

Proses Pemberian Materi Oleh Pemateri. (Foto; Dokumen Pribadi Vinsen Making)

Tim Undana berencana terus mengembangkan aplikasi tersebut, termasuk memperkaya informasi mengenai pangan lokal dan meningkatkan fitur yang dapat membantu masyarakat memahami kebutuhan energi secara lebih praktis.

Dari sebuah pertanyaan sederhana dalam bahasa Rote—Mu’a Dai Do Hokos?—tim Undana mencoba membawa satu gagasan besar: literasi sains akan lebih bermakna ketika ilmu pengetahuan berbicara dalam bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat.