Bisakah AI Menggantikan Peran Manusia dalam Proses Seleksi Tenaga Kerja?

Saya merupakan mahasiswa semester 7 yang sedang berkuliah di universitas pamulang, Saya memilih jurusan manajemen sumber daya manusia.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Vita Ayu Agustin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
AI layak menjadi mitra tim HR, bukan pengambil keputusan akhir

Ketika undangan dari DIGITAL TALENT EXPO 2026 tiba, saya tidak menyangka diskusi di Pusat Inovasi Digital Indonesia pada 26 September 2026 akan membuat saya pulang dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Acara bertema INNOVATION SHOWCASE-DIGITAL UPSKILLING-CAREER DEVELOPMENT itu mempertemukan praktisi teknologi, pelaku industri, dan pemerhati sumber daya manusia, dan salah satu isu yang paling hangat adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam seleksi tenaga kerja.
Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak. Bisakah AI menggantikan manusia dalam merekrut manusia?
Efisiensi yang sulit dibantah
Di ruang pamer maupun sesi presentasi, tampak jelas mengapa teknologi ini menggoda perusahaan. Satu lowongan populer bisa menerima ratusan, bahkan ribuan lamaran. AI mampu menyaring CV dalam hitungan menit, menjadwalkan wawancara otomatis, hingga menganalisis jawaban kandidat lewat video. Bagi tim HR yang kewalahan, ini adalah penghematan waktu dan biaya yang nyata. Pekerjaan administratif yang berulang memang paling layak diserahkan kepada mesin.
Opini saya: mitra, bukan pengganti
Setelah mengikuti diskusi di acara tersebut, posisi saya jelas. AI layak menjadi mitra dalam proses seleksi, tetapi belum, dan sebaiknya tidak, menjadi pengambil keputusan akhir. Biarkan mesin menyaring data awal, merapikan jadwal, dan mengurangi beban administrasi. Namun keputusan menerima atau menolak seseorang menyangkut masa depan manusia, dan itu menuntut empati, penilaian etis, dan tanggung jawab yang hanya bisa dipikul manusia.
Beberapa prinsip bisa dijadikan pegangan bagi perusahaan: tetap libatkan manusia dalam keputusan akhir, audit algoritma secara berkala untuk mendeteksi bias, sampaikan secara terbuka kepada pelamar bahwa AI digunakan, dan sediakan jalur keberatan bagi kandidat yang merasa dirugikan.
Penutup
Pusat Inovasi Digital Indonesia telah menyediakan ruang yang tepat untuk membicarakan hal ini. Tantangan berikutnya adalah memastikan percakapan tersebut berlanjut menjadi kebijakan dan praktik nyata. Teknologi akan terus berkembang, tetapi pertanyaan terpentingnya tetap sama: apakah ia membuat proses seleksi lebih adil bagi manusia, atau sekadar lebih cepat?
Selama jawabannya belum pasti, kursi terakhir di meja rekrutmen sebaiknya tetap diduduki manusia.
