Dari Jajanan Tradisional ke Buku Ajar Matematika Berbasis Budaya

VOLARE adalah tim PKM AMLI skema RSH dari Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari VOLARE tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Matematika sering kali identik dengan angka, simbol, dan rumus. Padahal, konsep matematika juga dapat ditemukan dalam berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk makanan yang kita jumpai di pasar tradisional. Bentuk jajanan tradisional yang beragam dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal konsep geometri secara lebih kontekstual.
Gagasan inilah yang melatarbelakangi pengembangan buku ajar matematika berbasis etnomatematika dengan mengangkat jajanan tradisional di Pasar Gang Baru, Semarang. Melalui pendekatan ini, budaya lokal tidak hanya diperkenalkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, tetapi juga dimanfaatkan sebagai konteks untuk mempelajari materi volume dan luas permukaan bangun ruang.
Mengenal Matematika melalui Jajanan Tradisional
Etnomatematika merupakan pendekatan yang menghubungkan konsep matematika dengan aktivitas dan produk budaya masyarakat. Pendekatan ini membuka peluang untuk mengenalkan matematika melalui objek yang telah dikenal murid, sehingga pembelajaran tidak hanya berpusat pada penjelasan rumus.
Jajanan tradisional menjadi salah satu objek yang menarik untuk dikaji. Berbagai bentuknya dapat dikaitkan dengan model bangun ruang, seperti bola, tabung, balok, prisma, dan limas. Sebagai contoh, klepon yang berbentuk seperti bola dapat digunakan untuk mengenalkan karakteristik bangun ruang tersebut. Jajanan lain juga dapat dikaji berdasarkan bentuk fisiknya dan disesuaikan dengan konsep geometri yang relevan.
Keterkaitan antara jajanan tradisional dan matematika bukan sekadar persoalan kemiripan bentuk. Objek tersebut dapat menjadi titik awal untuk mengajak murid mengamati karakteristik bangun ruang, memahami unsur-unsurnya, hingga mempelajari cara menghitung luas permukaan dan volumenya. Pemodelan tetap perlu dilakukan secara cermat karena bentuk makanan dalam kehidupan nyata tidak selalu sama persis dengan bangun geometri.
Salah satu kawasan yang memiliki potensi untuk eksplorasi tersebut adalah Pasar Gang Baru Semarang. Keberagaman jajanan tradisional yang dijumpai di kawasan ini menyediakan konteks budaya lokal yang dapat dihubungkan dengan pembelajaran matematika. Melalui pengamatan terhadap jajanan tersebut, konsep geometri dapat diperkenalkan dengan contoh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari murid.
Mengembangkan Buku Ajar Berbasis Etnomatematika
Jajanan tradisional Pasar Gang Baru Semarang diintegrasikan ke dalam buku ajar materi volume dan luas permukaan bangun ruang. Pengembangannya mengacu pada model 4D Thiagarajan (1974), yang meliputi tahap Define, Design, Develop, dan Disseminate. Penelitian ini dilaksanakan hingga tahap Develop. Buku ajar dirancang berdasarkan analisis kebutuhan pembelajaran dan memadukan pengenalan jajanan tradisional, materi geometri, permasalahan kontekstual, contoh soal, latihan, serta refleksi.
Hasil Pengembangan Buku Ajar
Buku ajar diuji kelayakannya oleh tiga validator ahli dan tiga praktisi guru. Uji keterbacaan melibatkan 36 murid kelas X C SMA Negeri 1 Boja, sedangkan uji respons melibatkan 27 murid kelas IX B SMP Negeri 1 Ungaran. Hasilnya menunjukkan persentase rata-rata kelayakan sebesar 91,82% (sangat layak), keterbacaan 82,01% (tinggi), dan respons murid 97% (sangat baik).
Hasil tersebut menunjukkan bahwa buku ajar memperoleh penilaian positif pada aspek yang diuji dan berpotensi menjadi sumber pendukung pembelajaran matematika kontekstual. Namun, hasil ini belum membuktikan peningkatan hasil belajar murid.
Menghubungkan Matematika dan Budaya Lokal
Pengembangan buku ajar ini menunjukkan bahwa jajanan tradisional dapat menjadi konteks untuk mempelajari matematika sekaligus mengenal budaya lokal Semarang. Melalui pendekatan etnomatematika, murid diajak menghubungkan bentuk jajanan dengan konsep geometri sehingga matematika terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
