Kesepakatan Semu dalam Kelompok Mahasiswa

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Vonny Hanifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerja kelompok sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Mulai dari tugas presentasi, proyek akhir, hingga kegiatan organisasi kampus, semuanya menuntut kerja sama dan komunikasi yang baik antaranggota. Namun, di balik pentingnya kekompakan dalam kelompok, ada satu fenomena yang sering terjadi tetapi jarang disadari, yaitu groupthink.
Teori groupthink diperkenalkan oleh Irving L. Janis. Menurut Janis, groupthink adalah kondisi ketika anggota kelompok lebih mengutamakan terciptanya kesepakatan dibanding melakukan evaluasi kritis terhadap keputusan yang diambil. Dalam situasi ini, anggota kelompok cenderung mengikuti pendapat mayoritas dan enggan menyampaikan pandangan yang berbeda karena takut menimbulkan konflik.
Fenomena tersebut cukup sering ditemukan dalam lingkungan mahasiswa. Salah satu contohnya dapat dilihat pada proyek pembuatan aplikasi bernama TravelMate yang dikerjakan oleh sekelompok mahasiswa jurusan komunikasi dan teknologi. Dalam proyek itu, ketua tim mengusulkan aplikasi dengan banyak fitur sekaligus, seperti video call, live location, forum komunitas, hingga sistem pembayaran digital.
Sekilas, ide tersebut terdengar inovatif dan modern. Namun, beberapa anggota sebenarnya merasa konsep itu terlalu rumit untuk diselesaikan dalam waktu dua bulan. Sayangnya, mereka memilih diam karena ketua tim dianggap paling berpengalaman dan memiliki kemampuan teknis lebih baik dibanding anggota lainnya. Mereka khawatir jika menyampaikan penolakan akan dianggap tidak mendukung kelompok atau dinilai kurang kompeten.
Akibatnya, keputusan langsung disetujui tanpa diskusi yang benar-benar mendalam. Tidak ada evaluasi mengenai kemampuan tim, pembagian waktu, maupun tingkat kesulitan pengerjaan aplikasi.
Masalah mulai muncul ketika proses pengerjaan berlangsung. Banyaknya fitur membuat pengembangan aplikasi menjadi tidak terarah. Programmer kesulitan menyelesaikan sistem, desain aplikasi menjadi kurang maksimal, dan waktu pengerjaan semakin terbatas. Bahkan saat dosen pembimbing menyarankan agar beberapa fitur disederhanakan, kelompok tetap mempertahankan konsep awal karena merasa ide mereka sudah paling modern.
Pada akhirnya, aplikasi tidak dapat berjalan secara optimal dan proyek tersebut memperoleh penilaian rendah karena dianggap kurang efektif dan tidak realistis.
Kasus tersebut menunjukkan bagaimana groupthink dapat membuat kelompok kehilangan kemampuan berpikir rasional. Anggota kelompok lebih takut berbeda pendapat dibanding mengambil risiko untuk mengkritisi keputusan yang sebenarnya kurang tepat. Padahal, kritik dan masukan merupakan bagian penting dalam proses diskusi agar keputusan yang dihasilkan menjadi lebih matang.
Fenomena seperti ini cukup sering terjadi di lingkungan mahasiswa. Banyak kelompok terlalu fokus menjaga kekompakan hingga lupa bahwa diskusi yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi perbedaan pendapat. Ketidaksetujuan tidak selalu berarti konflik. Justru melalui kritik, evaluasi, dan sudut pandang yang berbeda, sebuah kelompok dapat berkembang dan menghasilkan keputusan yang lebih baik.
Pada akhirnya, teori groupthink mengajarkan bahwa kekompakan memang penting, tetapi kemampuan berpikir kritis harus tetap diutamakan. Dalam sebuah kelompok, keberanian untuk menyampaikan pendapat dapat menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan bersama.
