Bagaimana Bisa Orang Menilai Hidupmu, Padahal Dia Tidak Pernah Memakai Sepatumu?

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sistem Informasi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Raya vitaloka suargana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tentang Lelahnya Terus Dinilai, Tentang Sepatu yang Berbeda, dan Cara Menjaga Batasan Diri Agar Tetap Waras
Pernah merasa sudah melakukan yang terbaik, tetapi tetap saja salah di mata orang lain?

Saat memilih diam, kita dianggap tertutup. Ketika bercerita, kita dibilang terlalu banyak mengeluh. Saat gagal, kita dianggap kurang berusaha. Bahkan ketika berhasil, keberhasilan terkadang dianggap hanya karena keberuntungan.
Lama-lama, semua itu terasa melelahkan. Sebab, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang kita lewati. Tidak semua orang tahu bagaimana rasanya tetap terlihat baik-baik saja ketika pikiran sedang penuh. Terkadang, kita hanya ingin didengarkan tanpa langsung dihakimi.
Kita Dilihat, tetapi Tidak Selalu Dipahami
Kita hidup di zaman ketika kehidupan seseorang dapat dilihat dengan mudah, tetapi belum tentu dipahami. Orang lain mungkin hanya melihat sebagian kecil dari hidup kita, lalu merasa sudah mengetahui seluruh perjalanan yang telah dilalui.
Mereka melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat proses di belakangnya. Tidak tahu berapa kali kita mengulang dari awal, hampir menyerah, atau melewati malam dengan pikiran yang tidak tenang.
Setiap orang berjalan dengan sepatu yang berbeda. Ada yang sepatunya masih baru dan nyaman, ada pula yang sudah tipis karena terlalu lama berjalan. Ada yang memiliki luka di kakinya, tetapi memilih menyembunyikannya.
Sayangnya, orang lain sering hanya melihat debu di sepatu kita dan merasa berhak mempertanyakan perjalanan kita. Padahal, mereka tidak pernah benar-benar tahu sejauh apa kita sudah berjalan.
Luka Kita Tidak Pernah Benar-Benar Sama
Setiap orang pernah terluka, tetapi bentuk luka dan cara menghadapinya tidak pernah sama.
Sesuatu yang terlihat sederhana bagi seseorang bisa menjadi hal yang sangat berat bagi orang lain.
Karena itu, tidak adil jika hidup seseorang selalu dibandingkan dengan hidup orang lain. Setiap orang memiliki keadaan, kemampuan, kesempatan, dan masalah yang berbeda. Tidak semua orang mendapatkan jalan yang mudah.
Hidup memang tidak selalu sesuai dengan keinginan. Namun, hari yang berantakan bukan berarti perjalanan kita gagal. Selama masih mau melangkah, selalu ada kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.
Semangat tersebut juga terasa dalam lagu “Manusia Kuat” karya Tulus, yang menggambarkan seseorang yang tetap berusaha bertahan dan melanjutkan hidup meskipun menghadapi keadaan yang tidak mudah.
Kamulah Pemeran Utama dalam Hidupmu
Pada akhirnya, kitalah pemeran utama dalam kehidupan sendiri, bukan orang lain.
Kita yang menjalani setiap hari. Kita yang merasakan jatuh dan bangun. Kita pula yang mengetahui berapa banyak hal yang harus dilewati untuk sampai pada titik sekarang.
Orang lain mungkin hanya menjadi penonton. Mereka dapat memberikan komentar dan penilaian, tetapi tidak pernah benar-benar merasakan bagaimana rasanya berdiri di atas panggung kehidupan kita.
Tidak Semua Suara Harus Didengarkan
Penilaian orang lain tidak akan pernah benar-benar berhenti. Akan selalu ada orang yang tidak suka, salah memahami, atau memiliki pendapat berbeda. Dan itu tidak apa-apa.
Kita tidak harus membuat semua orang memahami hidup kita. Kita hanya perlu belajar membedakan mana suara yang layak didengarkan dan mana yang hanya menghabiskan energi.
Tidak semua suara layak mendapatkan energi kita.
Dalam ajaran Hindu terdapat konsep swadharma, yaitu menjalankan kewajiban atau jalan hidup yang menjadi tanggung jawab diri sendiri. Hal ini sejalan dengan ungkapan dalam Bhagavad
Gita: “Swadharme nidhanam shreyah, paradharmo bhayavahah.”
Maknanya, lebih baik menjalani jalan hidup sendiri daripada mengikuti jalan hidup orang lain.
Berjalan dengan Sepatu Kita Sendiri
Setiap orang memiliki perjalanan masing-masing. Ada yang berjalan cepat, ada yang lambat.
Ada yang jalannya lurus, ada pula yang harus berputar jauh sebelum menemukan tujuan.
Jangan terlalu sibuk melihat langkah orang lain sampai lupa menghargai perjalanan sendiri.
Sepatu kita mungkin sudah kotor, penuh goresan, atau terasa tidak nyaman. Namun, sepatu itulah yang telah membawa kita melewati banyak hal hingga sejauh ini.
Jika hari ini kamu merasa terlalu banyak dinilai, berhentilah sejenak dan tarik napas. Kamu tidak harus hidup hanya untuk mendapatkan pembenaran dari orang lain.
Teruslah berjalan dengan sepatumu sendiri. Jalannya mungkin tidak selalu mudah, tetapi selama kamu masih memilih untuk melangkah, berarti ceritamu belum selesai.
Karena pada akhirnya, yang paling tahu tentang perjalananmu adalah dirimu sendiri. Dan itu sudah lebih dari cukup.
