Konten dari Pengguna

Ronggeng Dukuh Paruk: Ketika Tubuh Dirayakan, tetapi Hati Dibiarkan Kelaparan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Nailul Wafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Laki-laki yang menitipkan separuh hatinya pada halaman-halaman Dukuh Paruk. (Sumber: dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Laki-laki yang menitipkan separuh hatinya pada halaman-halaman Dukuh Paruk. (Sumber: dokumen pribadi)

Ada novel yang selesai dibaca, lalu ditinggalkan. Ada pula novel yang selesai dibaca, tetapi terus tinggal di kepala. Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari termasuk yang kedua. Sejak halaman-halaman awal, kita diajak memasuki sebuah wilayah kecil yang jauh dari mana-mana, dan perlahan sadar bahwa kita sedang membaca sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kisah desa.

Dukuh Paruk menyuguhkan realitas suatu wilayah yang masih terbelenggu keluguan dan kemeclaratan.

Di sanalah Srintil lahir. Dan sejak kecil, hanya satu takdir yang dilantunkan kepada Srintil, menjadi ronggeng.

Dukuh yang Menemukan Kembali Jati Dirinya

Novel ini merupakan penyatuan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, dengan memasukkan kembali bagian-bagian yang tersensor selama 22 tahun. Ceritanya dibuka dengan semangat Dukuh Paruk yang kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya, dukuh itu merasa kehilangan jati diri. Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pejabat-pejabat desa maupun kabupaten.

Namun di balik gemerlap itu, ada harga yang harus dibayar. Untuk resmi menjadi ronggeng, Srintil harus melewati sebuah ritual bernama bukak-klambu. Rasus, bocah penggembala kambing yang diam-diam mencintainya, menggambarkan kengeriannya dengan jujur:

"Bukak-klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati vir-ginitas itu."

Keperawanan Srintil disayembarakan. Bajingan! Bajul buntung! pikirku.

Bagi saya, bukak-klambu adalah sebuah identitas yang mengeksploitasi tubuh perempuan sebagai komoditas dan melenggang halus di balik legitimasi adat leluhur. Dan memang begitulah yang terjadi. Tidak ada yang memaksa Srintil dengan todongan senjata. Yang memaksanya adalah sesuatu yang jauh lebih licin, yakni adat, kebiasaan, dan keyakinan bahwa memang beginilah hidup mestinya berjalan.

Cinta yang Tak Pernah Punya Tempat

Rasus menjadi mata kita untuk menyaksikan semuanya. Hari Sabtu menjelang bukak-klambu, ia menumpahkan perasaannya:

"Hari Sabtu tiba. Hari yang sangat mengesankan karena batinku ternista luar biasa. Kukira aku takkan pernah berhasil melukiskan pengalaman hatiku secara memadai. Hal ini mungkin karena aku tak mempunyai cukup kefasihan. Atau karena orang takkan bisa percaya akan penderitaan batin seorang anak Dukuh Paruk yang bernama Rasus, yang dalam hidupnya mempunyai emak hanya dalam angan-angan."

Kesedihan Rasus terasa begitu personal, sementara Dukuh Paruk di sekelilingnya justru memperlakukan peristiwa itu sebagai urusan biasa, bahkan bahan bercanda. Lihat bagaimana para perempuan berbincang di tepi arena:

"Nanti kalau Srintil sudah dibenarkan bertayub, suamiku menjadi laki-laki pertama yang menjamahnya," kata seorang perempuan.

"Jangan besar cakap," kata yang lain. "Pilihan seorang ronggeng akan jatuh pertama pada lelaki yang memberinya uang paling banyak. Dalam hal ini suamiku tak bakal dikalahkan."

"Tetapi suamimu sudah pikun. Baru satu babak menari pinggangnya akan terkena encok."

"Aku yang lebih tahu tenaga suamiku, tahu?"

Percakapan itu terdengar jenaka, tetapi justru di situlah letak kegetirannya. Tatanan nilai yang timpang telah begitu mengakar, sampai tak ada lagi yang merasa janggal. Tohari tidak berteriak mengecam. Ia hanya menaruh potret itu di hadapan kita dan membiarkan kita yang merasa ngeri sendiri.

Gaya Bertutur yang Memikat

Di titik ini, kita perlu bicara soal keindahan bahasanya. Salah satu daya tarik terbesar novel ini, menurut saya, adalah gaya penulisan Pak Ahmad Tohari yang begitu deskriptif, dengan pilihan diksi yang cantik. Sangat cantik. Penggambaran suasana pedesaan serta perpaduan budayanya berhasil membawa saya turut hadir di Dukuh Paruk.

Contohnya bisa kita temukan pada satu lukisan langit malam:

"Bulan tua baru akan muncul tengah malam sehingga cahaya bintang leluasa mendaulat langit. Kilatan cahaya bintang beralih memberi kesan hidup pada ren-tang langit. Tetapi bila kilatan cahaya itu berlangsung beberapa detik lamanya, dia menimbulkan rasa inferior; betapa kecil manusia di tengah keperkasaan alam."

Di awal, mungkin butuh waktu untuk beradaptasi dengan tulisan beliau. Namun menjelang tengah menuju akhir cerita, saya mengerti kenapa novel ini layak disebut mahakarya, semuanya melebur dengan sangat harmonis di sini. Bahasanya indah dan bersastra, diperkaya dengan narasi yang kuat, membuat saya hanyut dan larut perlahan dalam ceritanya.

Tohari juga menyelipkan kearifan Jawa yang menohok. Ada tembang yang dikutip dalam novel:

"Telas tilasing sujalma

Aji godhong jati aking

Temah papa, papariman ngulandara"

Artinya, merugilah orang yang mengabaikan tiga perkara teras kehidupan. Yakni terampil, keutamaan, dan kepandaian. Bila tiga perkara ini ditinggalkan, punahlah citra keutamaan manusia. Dia tidak lebih utama daripada daun jati kering; melarat, mengemis, dan menggelandang.

Ketika Politik Mengetuk Pintu Dukuh

Novel ini tidak berhenti pada adat dan keperempuanan. Selain menyoroti adat, keperempuanan, dan romansa, jejak pergolakan politik 1965 juga turut hadir sebagai latar yang samar. Rasus sendiri berada di persimpangan itu:

"Sementara itu Rasus juga sadar dirinya anak Dukuh Paruk. Dirinya tidak bisa lain kecuali sari pati tanah pedukuhan terpencil itu. Dukuh Paruk, meskipun sudah ditinggalnya selama dua setengah tahun, adalah ibu sejarahnya. Rasus tidak bisa melupakannya begitu saja, apalagi ketika Sang Waktu datang membawa gejala yang luar biasa: darah manusia begitu mudah ditumpahkan, nyawa begitu gampang dilayangkan. Yang hendak merebut kuasa dan yang mempertahankan kuasa, dua-duanya terjebak dalam pilihan membunuh atau dibunuh."

Bagi orang Dukuh Paruk, politik adalah bahasa asing. Bakar, tokoh yang membawa propaganda itu, berbicara tentang hal-hal yang mustahil dipahami warga:

"Di luar Dukuh Paruk, Bakar berpropaganda macam-macam yang pasti sulit dimengerti oleh orang Dukuh Paruk. Misalnya tentang perjuangan kaum tertindas untuk men-dapatkan kembali hak-haknya. Perjuangan dan hak adalah hal yang boleh seribu kali diterangkan di Dukuh Paruk, dan orang di sana akan tetap bingung memikirkannya. Dukuh Paruk yang percaya bahwa hidup ini mestilah demikian adanya dan merupa-kan sebuah pakem yang sudah kering tinta, maka tak perlu ada perjuangan. Dan hak hanya kelihatan samar di bawah sikap yang nrimo pandum."

Maka ketika malapetaka politik tahun 1965 datang, kebodohannya membuat mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannyalah Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa di penjara itu.

Sebuah pertanyaan menggantung di salah satu bagian novel, dan terasa relevan hingga hari ini: mengapa orang telanjur percaya bahwa pembunuhan ialah menghentikan fungsi ragawi sebagian atau keseluruhan dengan satu dan lain senjata? Mengapa orang telanjur beranggapan kekejaman ialah tumpahnya darah dan lukanya?

Srintil yang Ingin Menjadi Manusia Biasa

Pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki mana pun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Ketika Bajus muncul dalam hidupnya, sepercik harapan timbul. Tetapi Srintil sendiri paling tahu betapa sempit ruang geraknya:

"Tetapi, Nyai. Aku bekas ronggeng. Aku bukan perempuan somahan, perempuan rumah tangga. Orang tidak akan percaya bahwa aku, meski bekas seorang ronggeng, akan mampu men-jadi ibu rumah tangga yang baik. Nyai, siapa pun tidak akan percaya."

Sebagai ronggeng, masa depan Srintil bukan lagi miliknya. Di salah satu adegan paling menyesakkan, ia mengadu kepada Nyai Kartareja:

"Oalah, Nyai, mereka tidak salah. Semua orang tidak salah. Akulah tempat segala kesalahan hidup. Jadi akulah yang harus tahu diri. Semua orang menuntut aku tidak banyak tingkah karena hal itu tidak mereka sukai. Berbuat sesuatu yang tidak mereka sukai samalah artinya dengan melakukan kesalahan. Nyai tahu apa yang akan kutanggung bila aku dianggap kembali berbuat salah?"

Nyai Kartareja diam, menutup bibirnya rapat-rapat, lalu ber-jalan meninggalkan Srintil yang masih sibuk mengusap air mata. Ada erosi yang terasa menggerus kesuburan yang mulai bersemi di hati Srintil. Pupus hijau hendak dipatahkan oleh tangan orang Dukuh Paruk sendiri.

Lalu Srintil bertanya pada jiwanya sendiri, dan pertanyaan itu menjadi inti seluruh novel:

"Apakah bukan karena aku merasa menjadi duta keperempuanan sehingga aku merasa harus melayani segala kepentingan kelelakian sampai kepada arti yang paling primitif sekalipun? Bukankah karena diriku yang ronggeng, maka sejarah telah membawaku ke puncak ketiadaan makna hidup di tempat terasing?"

Dan ketika ia menolak, ancaman datang dengan dingin dan tegas:

"Tidak!"

"Tunggu dulu..."

"Tidak, tidak, tidak!"

"Srintil!"

"Tidak!"

"Kamu orang Dukuh Paruk mesti ingat. Kamu bekas PKI! Bila tidak mau menurut akan aku kembalikan kamu ke rumah tahanan. Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?"

Pintu terbanting dan dikunci dari luar.

Layakkah Disebut Mahakarya?

Setelah menutup halaman terakhir, saya sulit membantah bahwa novel ini nyaris sempurna, hampir tanpa celah. Sulit rasanya untuk tidak iba pada Srintil dan Dukuh Paruk, yang digambarkan begitu bodoh. Namun rasa iba itu terasa pedih, sebab kebodohan di sini bukan sepenuhnya salah mereka. Ada tatanan, ada kuasa, dan ada sejarah yang memanfaatkannya.

Kalau harus merangkum dalam satu kalimat, bagi saya novel ini adalah kisah tentang tubuh yang dirayakan, namun hati yang dibiarkan kelaparan.

Ronggeng Dukuh Paruk memang menuntut kesabaran di awal, tetapi membalasnya berlipat ganda. Bagi yang peduli pada sastra Indonesia, isu perempuan, maupun sejarah 1965 dari sudut pandang orang kecil, novel ini wajib masuk daftar bacaan. Masterpiece, dan layak 10/10.