Konten dari Pengguna

Merdeka Tapi Tak Merdeka: Catatan 17 Agustus dari Kampung Baru, Kuala Lumpur

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wahab Nur Kadri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dosen dan mahasiswa FDIK PTIQ Jakarta merayakan HUT RI ke-81 bersama diaspora Indonesia di Sanggar Bimbingan Kampung Baru, Kuala Lumpur.
zoom-in-whitePerbesar
Dosen dan mahasiswa FDIK PTIQ Jakarta merayakan HUT RI ke-81 bersama diaspora Indonesia di Sanggar Bimbingan Kampung Baru, Kuala Lumpur.

Perayaan kemerdekaan Indonesia selalu menyisakan ruang bagi refleksi mendalam. Tapi refleksi itu terasa berkali-kali lipat lebih tajam ketika disaksikan langsung dari bilik kehidupan para diaspora Indonesia yang bertahan di negeri jiran jauh dari kampung halaman, jauh dari upacara bendera, jauh dari hiruk-pikuk lomba balap karung yang setiap Agustus memeriahkan gang-gang kampung di tanah air.

Dan refleksi paling tajam yang kami terima hari itu, tidak datang dari buku, tidak dari seminar, bahkan tidak dari mimbar mana pun. Ia meluncur begitu saja dari mulut seorang pengemudi Grab di tengah kemacetan Kuala Lumpur:

"Merdeka tapi tidak merdeka."

Lima kata. Diucapkan datar, nyaris sambil lalu. Dan kami dua dosen dari Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas PTIQ Jakarta yang duduk di jok belakang hanya bisa saling melempar pandang. Lalu tertawa. Lalu terdiam. Karena lima kata itu, betapapun ringannya ia dilontarkan, menusuk terlalu dalam untuk sekadar ditertawakan.

Tapi cerita ini bukan dimulai dari dalam Grab. Dan bukan pula berakhir di sana.

Jejak Awal di Kuala Lumpur

Perjalanan memaknai arti kemerdekaan ini bermula saat dua dosen FDIK Universitas PTIQ Jakarta Wahab Nur Kadri, Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), dan Aip Nurohman, dosen Manajemen Dakwah (MD) mendarat di Malaysia. Langkah kaki kami mengarah ke pusat kota, tepatnya menuju Hotel SWISS Kuala Lumpur yang berlokasi di Jalan Tuanku Abdul Rahman, City Centre. Di lobi hotel, Wahab Nur Kadri berjalan cepat dengan tas ransel traveling di punggungnya. Di belakangnya, Aip Nurohman menarik koper sambil sesekali mengecek ponsel membalas pesan dari mahasiswa yang sudah menunggu di lokasi.

Kedatangan kami mengemban misi penting: menjemput para mahasiswa yang tengah melaksanakan program Kuliah Khidmah Mahasiswa (KKM) Internasional sekaligus program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Malaysia. Terdengar sederhana di atas kertas. Tapi seperti banyak hal dalam hidup, perjalanan yang tampak sederhana sering kali menyimpan pelajaran yang tak pernah kita sangka.

Sesampainya di hotel, rasa lelah perjalanan langsung ditepis. Kami bahkan belum sempat duduk di kasur ketika keputusan dibuat: langsung berangkat ke Sanggar Bimbingan Kampung Baru. Tidak ada waktu untuk beristirahat. Anak-anak sudah menunggu. Sebuah gawai dikeluarkan, jemari bergerak memesan taksi daring melalui aplikasi Grab. Dan di balik kemudi mobil itulah, sebuah diskursus tentang esensi kemerdekaan bergulir tanpa diduga.

Sentilan Renyah dari Balik Kemudi

Mobil yang datang berwarna perak, agak berdebu di bagian samping. Pengemudinya seorang pria paruh baya berkebangsaan Malaysia. Ia mengenali logat kami dan langsung menyapa hangat dalam bahasa Melayu yang sesekali diselingi kosakata khas Indonesia. Ternyata, istrinya orang Medan. Ia sendiri belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia, tapi mengaku rajin mengikuti berita dari negeri seberang itu.

"Bapak-bapak dari Indonesia, ya? Hari ini 17 Agustus, kan? Istri saya pagi tadi sudah cerita, hari kemerdekaan Indonesia!"

Sepanjang perjalanan membelah jalanan Kuala Lumpur, obrolan hangat mencairkan suasana. Berkat istrinya, sang pengemudi tampak cukup akrab dengan berbagai kabar dari Indonesia mulai dari politik, ekonomi, hingga hal-hal kecil sehari-hari. Ada kedekatan dengan Indonesia yang tak langsung miliknya, tapi ia rasakan lewat orang yang paling dekat dengannya.

Namun, atmosfer mendadak berubah. Tepat ketika mobil berhenti di lampu merah di antara siluet gedung-gedung tinggi yang mengintip dari balik deretan bangunan tua sebuah celetukan spontan keluar dari mulutnya.

"Merdeka tapi tak merdeka," ujarnya datar.

Hanya itu. Empat kata. Lalu ia kembali menatap jalan dan menginjak gas ketika lampu berubah hijau.

Celetukan itu seketika memicu tawa di dalam kabin mobil, tapi sedetik kemudian menyisakan keheningan yang mengiris hati. Ada rasa malu sekaligus sedih yang menyergap. Secara proklamasi, Indonesia memang sudah berdaulat penuh sejak tahun 1945. Tapi dalam banyak realitas sosial, bangsa ini masih terbelenggu. Ucapan sang pengemudi seolah memotret potret buram yang nyata: Indonesia masih terjajah oleh kebodohan, terpasung kemiskinan, terkendala oleh ketidakmerataan fasilitas publik, dan terus digerogoti oleh gurita korupsi.

Sentilan jujur dari jalanan itu menjadi tamparan reflektif yang kami bawa hingga ke lokasi tujuan. Sepanjang sisa perjalanan menuju Kampung Baru, kami tidak banyak bicara. Lima kata dari seorang pengemudi Grab, tapi rasanya seperti cermin yang memaksa kami menatap wajah bangsa sendiri.

Kami berharap bahwa di ujung perjalanan ini, ada sesuatu yang bisa menjadi obat. Ternyata, memang ada.

Asa yang Menyala di Kampung Baru

Kampung Baru adalah anomali di tengah hutan beton Kuala Lumpur. Sebuah enklave Melayu seluas 89 hektar yang bertahan di jantung kota metropolitan, dikelilingi gedung-gedung pencakar langit yang menjulang seperti raksasa-raksasa kaca. Di sudut kawasan inilah berdiri Sanggar Bimbingan (SB) Kampung Baru, sebuah pos pendidikan nonformal yang beroperasi di bawah bimbingan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), tempat anak-anak diaspora Indonesia mendapatkan akses belajar di tengah segala keterbatasan status dan ekonomi.

Rasa gundah akibat obrolan di dalam Grab langsung terobati begitu kami menapakkan kaki di sana menjelang pukul 20.30 waktu setempat. Rumah sederhana itu mendadak bising oleh pekikan riang dan sambutan hangat para mahasiswa pengabdian Universitas PTIQ Jakarta bersama anak-anak diaspora Indonesia. Di balik pintu masuk, terlihat ruangan yang dihiasi bendera merah putih buatan tangan, kertas krep yang digunting dengan hati-hati, ditempel di dinding dengan selotip yang beberapa sudah mulai mengelupas. Sederhana. Tapi justru karena kesederhanaannya, semuanya terasa begitu jujur.

Lalu kami masuk. Dan di situlah kami melihat mereka.

Puluhan anak-anak buruh migran Indonesia. Kecil-kecil. Mata berbinar. Duduk rapi bersila di atas lantai. Pakaian mereka beragam, berbalut busana muslim seadanya ada yang mengenakan peci, ada pula anak-anak perempuan dengan hijab aneka warna. Tapi di tengah keterbatasan ruang, status, hingga fasilitas, anak-anak ini memancarkan antusiasme yang luar biasa.

Mereka tumbuh di perantauan. Banyak dari mereka lahir di Malaysia, mengenal Indonesia hanya dari cerita orang tua, dari lagu-lagu yang diputar di telepon genggam, dari video upacara bendera yang ditonton di layar kecil. Mereka hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian - status imigrasi yang rumit, akses pendidikan yang terbatas, masa depan yang tak jelas batasnya. Tapi hari ini, 17 Agustus, mereka berdiri tegak dan merayakan kemerdekaan sebuah negeri yang mungkin belum pernah mereka injak tanahnya.

Dan justru di situlah ironi yang paling indah terletak.

Doa, Tawa, dan Air Mata

Gema doa kebangsaan berkumandang khidmat, mengetuk langit demi keselamatan bangsa yang mereka cintai dari jauh. Suara anak-anak yang mengamini doa itu memenuhi ruangan tipis, jernih, polos. Ada sesuatu yang berbeda ketika doa untuk bangsa diucapkan oleh mereka yang hidup jauh dari bangsa itu sendiri. Doa itu terasa lebih berat. Lebih dalam. Lebih jujur. Beberapa hadirin dewasa tampak mengusap sudut mata. Termasuk kami.

Lalu panggung kecil itu hidup. Suasana semakin semarak saat anak-anak tampil menunjukkan bakat mereka. Ada yang membacakan puisi tentang pahlawan dengan suara bergetar bukan karena gugup, tapi karena sungguh-sungguh merasakan setiap kata. Ada yang menyanyikan lagu nasional dengan nada yang kadang meleset, tapi dengan penghayatan yang tak bisa diajarkan oleh buku mana pun. Ada yang menari gerakan sederhana, kadang tak sinkron, tapi penuh kegembiraan yang meluap-luap.

Dan di antara semua penampilan itu, yang paling membekas justru bukan penampilan itu sendiri. Melainkan tawa mereka. Tawa anak-anak yang tidak tahu bahwa hidup mereka "terbatas." Tawa yang tidak dibebani statistik kemiskinan atau perdebatan politik. Tawa yang murni seperti kemerdekaan itu sendiri seharusnya terasa.

Malam itu diwarnai senyum lebar dan rona bahagia saat tiba di sesi penyerahan hadiah. Hadiah-hadiah tersebut merupakan apresiasi atas berbagai perlombaan khas agustusan yang telah mereka ikuti sebelumnya pada tanggal 15 Agustus rangkaian kegiatan yang diinisiasi dan difasilitasi oleh mahasiswa KKM Internasional FDIK Universitas PTIQ Jakarta. Wajah-wajah kecil itu berseri-seri. Untuk sesaat, dunia mereka yang sempit terasa meluas tanpa batas. Semangat membara anak-anak buruh migran ini seolah membalikkan narasi pesimistis sang pengemudi Grab: di tempat ini, harapan itu masih hidup subur.

Dua Bangsa, Satu Pertanyaan

Menjelang pukul 21.30, acara puncak bergulir. Sebuah talkshow interaktif yang menghadirkan dua sudut pandang dari dua negara serumpun. Di atas panggung sederhana itu duduk berdampingan Wahab Nur Kadri, Kaprodi KPI Universitas PTIQ Jakarta, dan Muhammad Novan bin Yusrizal akrab disapa Bang Novan-seorang pemuda Malaysia yang menjabat sebagai Ketua Penerangan Pemuda UMNO Zon Kampong Bharu, Bahagian Titiwangsa.

Sebuah kebetulan yang indah menjadi latar belakang diskusi: Indonesia merayakan kemerdekaan pada 17 Agustus, Malaysia pada 31 Agustus. Dua tanggal. Dua bangsa serumpun. Tapi satu pertanyaan yang sama pertanyaan yang sudah menghantui kami sejak di dalam Grab tadi: apa arti merdeka yang sesungguhnya?

Bang Novan membuka dengan gaya bertutur yang khas anak muda Melayu santai tapi berisi. Ia membagikan perspektifnya mengenai arti kemerdekaan bagi bangsanya. Tentang bagaimana Malaysia meraih kemerdekaan pada 1957, tentang perjuangan yang tidak berhenti setelah bendera Jalur Gemilang dikibarkan, tentang tantangan membangun persatuan di tengah keberagaman kaum. "Merdeka bukan sekadar tanggal di kalender," ujarnya. "Merdeka itu pekerjaan setiap hari."

Lalu giliran Wahab Nur Kadri. Dan di sinilah ruangan benar-benar hening.

Kaprodi KPI itu tidak berbicara tentang teori. Tidak mengutip buku teks. Ia berbicara langsung kepada anak-anak yang duduk di barisan depan anak-anak yang menatapnya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu. Beliau menyampaikan pesan mendalam yang membakar semangat. Di tengah keterbatasan ruang gerak serta ketatnya pengawasan dari pihak imigrasi Malaysia, kemerdekaan sejati, katanya, tidak boleh digantungkan pada keadaan luar.

"Kemerdekaan itu harus direbut, minimal untuk diri kalian sendiri," tegasnya di hadapan para siswa.

Ia berhenti sejenak. Membiarkan kalimat itu meresap.

"Bapak tahu, hidup kalian di sini tidak mudah. Ada keterbatasan. Ada pengawasan imigrasi. Ada banyak hal yang membuat kalian merasa kecil. Tapi dengarkan Bapak: kalian bisa mendapatkan kemerdekaan kalian sendiri. Caranya satu melalui pendidikan. Jangan pernah takut untuk bercita-cita lebih tinggi. Jangan pernah biarkan siapa pun mengatakan bahwa kalian tidak bisa. Karena setiap buku yang kalian baca, setiap ilmu yang kalian serap, setiap mimpi yang kalian jaga itu adalah kemerdekaan kalian. Dan tidak ada siapa pun di dunia ini yang bisa merampasnya."

Ruangan itu sunyi selama beberapa detik setelah ia selesai berbicara. Lalu, perlahan, tepuk tangan pecah dimulai dari barisan belakang, menjalar ke depan, hingga anak-anak kecil di barisan depan ikut bertepuk tangan meskipun mungkin belum sepenuhnya memahami kedalaman setiap kata. Tapi mereka merasakannya. Dan kadang, merasakan sudah lebih dari cukup.

Dakwah yang Tidak Berkhotbah

Pesan kuat itu bukan sekadar nasihat personal. Ia sekaligus menegaskan komitmen nyata dari FDIK Universitas PTIQ Jakarta. Bagi institusi ini, berdakwah tidak melulu di atas mimbar, melainkan juga lewat jalur pendidikan dakwah yang tidak berkhotbah, dakwah yang hadir dalam bentuk perhatian, pengajaran, dan kebersamaan.

Misi mulia inilah yang mendasari pengiriman mahasiswa melalui program MBKM dan KKM Internasional yang dijalankan lewat kolaborasi erat bersama Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Di Sanggar Bimbingan, mahasiswa FDIK tidak hanya mengajar. Mereka bermain bersama anak-anak. Mereka mendengarkan cerita orang tua yang berjuang. Mereka merasakan sendiri apa artinya menjadi "orang Indonesia" di tempat yang bukan Indonesia. Dan pengalaman itu pengalaman yang tak mungkin diajarkan di ruang kelas mana pun adalah bentuk pendidikan yang paling transformatif, demi memastikan lentera ilmu tetap menyala bagi anak-anak Indonesia di mana pun mereka berada.

Lewat pukul 22.00, acara usai. Dalam perjalanan kembali ke Hotel SWISS, jalanan Kuala Lumpur sudah lengang. Lampu-lampu neon berkedip di sepanjang Jalan Tuanku Abdul Rahman, memantulkan cahaya di aspal yang basah oleh gerimis malam. Wahab Nur Kadri menatap ke luar jendela. Aip Nurohman menyandarkan punggung di jok, matanya setengah terpejam tapi pikirannya jelas masih berlari.

Kami tidak banyak bicara. Tapi satu celetukan dari tadi siang terus bergaung, seperti lagu yang melodinya tak mau pergi.

Merdeka tapi tidak merdeka.

Sang pengemudi Grab mungkin benar. Di banyak hal, bangsa ini memang belum sepenuhnya merdeka. Masih ada kebodohan yang mencekik. Masih ada kemiskinan yang membelah. Masih ada fasilitas yang tak merata. Masih ada korupsi yang mengkhianati dari dalam.

Tapi hari ini, di sebuah rumah sederhana di Kampung Baru, kami melihat sesuatu yang lain. Kami melihat anak-anak buruh migran yang tidak punya banyak hal tapi menolak untuk menyerah. Kami melihat mereka merayakan kemerdekaan bukan dengan pesta mewah atau kembang api, tapi dengan nyanyian yang kadang fals, puisi yang kadang terbatas, dan tawa yang selalu-selalu - tulus.

Kami melihat mereka bermimpi. Dan mimpi, pada hakikatnya, adalah bentuk kemerdekaan yang paling murni.

Jika suatu hari kami bertemu sang pengemudi Grab itu lagi, kami ingin menceritakan kepadanya tentang anak-anak di Sanggar Bimbingan. Tentang mata mereka yang berbinar. Tentang suara mereka yang lantang meski dunia di sekitar mereka berbisik agar mereka diam. Dan kami ingin mengatakan kepadanya:

"Bang, kita mungkin memang belum sepenuhnya merdeka. Tapi anak-anak itu di tengah segala keterbatasan mereka sedang merebut kemerdekaan mereka sendiri. Satu buku, satu mimpi, satu hari pada satu waktu."

Dan mungkin, dari merekalah kita semua harus belajar.