Jalur Karier ASN: Panjang Usia, Pendek Kesempatan

Analis Sumber Daya Manusia Aparatur Ahli Muda, Mahasiswa S2 Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Wahyu Hanggoro Suseno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Usulan Dewan Pengurus Korpri Nasional kepada Presiden pada Mei 2025 untuk memperpanjang usia pensiun ASN hingga 70 tahun mungkin terlihat sebagai langkah adaptif. Namun, tanpa reformasi sistem karier dan manajemen talenta, kebijakan ini bisa menjadi bumerang menyumbat regenerasi dan mematikan semangat inovasi dalam birokrasi.
Bertahan atau Bertumbuh?
Masalah utamanya bukan sekadar usia, tapi soal kesempatan. Saat ASN senior terus bertahan di jabatan struktural dan fungsional tanpa batas waktu yang jelas, ASN muda kehilangan ruang untuk berkembang. Di banyak instansi, pegawai dengan semangat tinggi dan potensi besar justru terjebak dalam sistem yang rigid dan hierarkis.
Karier ASN seringkali tergantung pada satu kata "formasi". Tidak peduli seberapa besar kontribusi atau kemampuannya, tanpa formasi, mereka tidak bisa naik jabatan. Padahal, dunia sudah bergerak menuju sistem yang mengukur potensi dan dampak, bukan sekadar masa kerja.
Manajemen Talent, Keniscayaan Bukan Pilihan
Andrés Hatum dalam bukunya Next Generation Talent Management (2023) menyebut kegagalan organisasi modern adalah ketika mereka tidak bisa memetakan, mengembangkan, dan menempatkan talenta secara strategis. Di sektor publik, ini berarti pemerintah harus membangun ekosistem manajemen talenta yang berkelanjutan bukan sekadar seleksi dan pelatihan di awal karier.
Manajemen talenta yang ideal harus mampu:
Mengidentifikasi ASN dengan potensi tinggi;
Menyediakan jalur karier adaptif berbasis kompetensi, bukan usia;
Memberi ruang kontribusi untuk semua generasi ASN;
Mendorong mobilitas horizontal dan rotasi lintas sektor.
Sayangnya, birokrasi kita belum banyak berubah. Yang muda menunggu, yang tua bertahan, dan organisasi berjalan di tempat.
Perlu Revolusi Karier ASN
Salah satu gagasan progresif dalam usulan Korpri adalah mengubah skema karier piramidal menjadi paralon. Artinya, jumlah formasi tidak makin sempit di puncak, tetapi rata dari awal hingga akhir karier. Ini ide brilian, namun hanya akan sukses bila diiringi digitalisasi data talenta, transparansi promosi, dan sistem evaluasi yang objektif. Tanpa itu, struktur paralon hanya akan menjadi jargon baru tanpa makna.
Sistem karier ASN saat ini tidak memberikan kejelasan. Banyak ASN muda merasa bingung, jalur fungsional tidak menjanjikan peningkatan kelas jabatan, sementara struktural terlalu politis. Akibatnya, muncul frustrasi sistemik dan potensi migrasi ASN muda ke sektor lain yang lebih dinamis.
ASN Senior adalah Aset, Bukan Halangan
Usia pensiun yang diperpanjang tidak perlu dipandang negatif. ASN senior menyimpan banyak nilai pengalaman, ketenangan, dan jaringan. Tapi untuk tetap relevan, mereka pun harus diberi peran strategis baru sebagai mentor, pembina pelatihan, atau evaluator kebijakan. Pengalaman ASN senior harus menjadi bahan bakar regenerasi, bukan penghambat. Negara perlu mengadopsi konsep knowledge continuity dari dunia korporasi di mana pegawai senior membantu membangun kompetensi generasi berikutnya.
Momentum UU ASN Baru
Revisi UU ASN saat ini menjadi momen emas. Ini bukan soal angka usia, tapi soal struktur dan masa depan birokrasi. Beberapa langkah yang perlu diambil:
Mewajibkan perencanaan suksesi di setiap instansi.
Membangun platform digital manajemen talenta ASN nasional.
Mendorong percepatan karier ASN muda berbasis kinerja dan inovasi.
Memberi penghargaan karier bagi ASN yang mengambil peran sebagai mentor dan pelatih.
Tanpa sistem yang adil dan terbuka, birokrasi hanya akan mencetak rutinitas, bukan kinerja.
Jangan Hilangkan Harapan
Setiap ASN yang masuk dengan semangat mengabdi adalah aset negara. Tapi bila mereka hanya diminta menunggu “senior pensiun”, maka negara kehilangan bukan hanya pegawai, tapi harapan.
Birokrasi modern tidak lagi bisa dikelola dengan pola “siapa lama dia naik”. Kita butuh sistem yang bertanya, siapa yang mampu memberi kontribusi terbesar hari ini?
Karena yang membuat birokrasi unggul bukan usia, tapi kemampuan untuk terus menumbuhkan orang-orang terbaik di dalamnya.
